Jika Aku Lesbian

Kerap kali aku bertanya, "Apa salahnya jika aku di lahirkan sebagai Lesbian di muka bumi ini?". Ya, menurutku itu wajar saja selama aku masih percaya akan adanya Tuhan.

Entah sejak kapan aku seperti ini. Aku mulai tertarik dengan sejenisku sendiri hingga pada akhirnya aku sadar bahwa ini bukanlah kebiasaan, melainkan kelainan.

Aku tak tahu harus bersedih atau bersyukur atas apa yang kumiliki saat ini. Apakah aku harus bersedih menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang Lesbian? Ataukah aku harus bersyukur bahwa aku berbeda dari wanita pada umumnya?

Entahlah.

Kakiku menyusuri jalan setapak yang akan mengantarkanku ke rumah yang baru beberapa bulan ini kubeli dengan hasil jeri payahku sendiri.

Ku buka pintu rumah seraya menghela nafas berat. Ku lepaskan sepatu berwarna hitamku lantas masuk ke dalam rumah. Berusaha mengantur nafasku.

Lagi-lagi kembali terpikir olehku. Bagaimana aku di mata masyarakat jika mereka tahu bahwa aku adalah seorang Lesbian? Apakah mereka masih ingin memandangku? Ataukah mereka malah mencemoohku dan mengusirku dari kota?

Ya, memang penampilanku layaknya seorang gadis tomboy pada umumnya. Senang menggunakan busana lelaki lantas memiliki gaya rambut pendek ala lelaki pula. Mungkin saja orang diluar sana beranggapan bahwa aku hanyalah gadis tomboy biasa dan bukan seorang Lesbian.

"Ada apa? Kenapa mengkerut begitu?". Tanya seorang wanita separuh baya yang biasa ku panggil dengan sebutan Mama. Menatapku dengan sorot mata sayu, menandakan ia sedang letih.

Aku menggelengkan kepala pelan. Seutas senyum merekah di kedua ujung bibirnya.

"Mama tahu kamu lagi capek, Vi. Sana mandi, setelah itu kamu makan". Aku menuruti perintah Mama. Dengan cepat aku melesat masuk ke dalam kamar lalu mandi.

Revina Atalia Kassandra Adrino. Nama yang rumit untuk di hafalkan menurut beberapa orang temanku. Ya, itulah namaku. Nama itu pemberian dari Ayahku, maksudku Ayah kandungku. Jika di singkat, namaku akan menjadi RAKA.

Raka adalah nama Ayahku, aku tak tahu kenapa ia memberikanku nama yang bila di singkat akan membentuk sebuah nama baru. Hingga akhirnya aku tahu, alasannya hanya satu.

Ayah menamaiku seperti itu agar aku tidak melupakannya sedetikpun meski ia menghilang. Seperti sekarang ini. Saat dimana aku hidup hanya dengan orang yang ku sebut Mama yang sebenarnya bukanlah orang yang sudah mengandungku.

Aku memiliki masa lalu yang kelam. Aku di lahirkan di kota Nova Scotia di Kanada dengan Ayah bernama Rakardian Steven Adrino dan Ibu yang sungguh manis bernama Tania Cameron Adrino. Ya, untuk mereka yang pertama kali tahu asal mula keluargaku mungkin akan tercenggang atau kagum.

Ayahku memiliki darah Kanada, sedangkan Ibu memang asli Kanada. Ayah yang dulunya hanya seorang mahasiswa cupu dan kutu buku di salah satu universitas Kanada bertemu dengan Ibu yang merupakan 'Emas' bagi universitas tersebut.

Kadang aku berpikir, alangkah indahnya pertemuan itu. Aku juga ingin seperti itu, tapi batinku seakan meronta bahwa aku tidak akan seperti itu. Aku berbeda.

Siapa yang akan menduga jika pertemuan manis itu akan membuahkan hasil yang pahit seperti sekarang ini? Ayah meninggalkanku, Ibu juga. Mereka bercerai dan tak ada yang ingin mengasuhku. Lantas apa gunanya aku hidup di dunia ini? Mengapa Tuhan menciptakanku jika hidupku hanya untuk di buang? Harushkah aku musnah?

Jawaban "TIDAK" akhirnya ku dapati dari seorang wanita single yang sudah mulai berumur dengan kerutan-kerutan halus yang bertengger di dahinya. Dengan sabar ia mengasuhku sejak aku berumur 11 tahun, dimana Ayah dan Ibu memilih berpisah dariku.

Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 7 malam saat aku berniat untuk menghampiri Mama di ruang makan. Ku dudukkan pantatku di kursi makan yang empuk. Mataku mengikuti gerak Mama yang menyodorkanku piring berisikan nasi.

Lagi-lagi ia tersenyum. Senyum yang menurutku tak boleh sirna dari bibirnya. Senyum yang selama ini membuatku berpikir untuk terus membahagiakannya.

"Makan yang banyak ya, Vi". Ujarnya seraya duduk di hadapanku. "Lihat, kamu kurusan lho. Sering lembur ya?". Sambungnya lagi dengan raut wajah cemas.

"Nggak juga sih, Ma. Lagian kalau Revi nggak lembur nanti waktu Revi ke buang sia-sia". Jawabku asal, memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutku. Mulai mencerna makan malam yang di hidangkan Mama.

"Mama ngerti tapi kamu jangan terlalu capek ya. Kasihan kamu kalau kena tifus lagi". Ya, aku teringat kejadian dimana aku terakhir kali terserang tifus dan itu sungguh sangat menyebalkan.

"Iya, Ma". Akupun melanjutkan makanku hingga piring putih bercorak bunga akasia itu kosong melompong tanpa sebutir nasi di atasnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku bergegas masuk ke dalam kamar dengan harapan malam ini mataku akan cepat terlelap dan mengantarkanku ke alam mimpi.

Nihil, pikiranku kembali melayang-layang. Kali ini otakku memutar peristiwa kelam saat dimana kudapati Ayah dan Ibu sedang beradu mulut. Aku hanya bisa terkesiap melihat kejadian pahit itu.

Apa daya, apa yang bisa ku lakukan? Saat itu, aku hanyalah gadis kecil berumur 11 tahun yang tak tahu menahu urusan orang tua.

Rahangku mengeras. Aku bangkit dari tempat tidur lantas berdiri tepat di depan dinding kamarku yang berwarna kelabu itu. Dengan pasti, ku hantamkan tinjuku kuat ke dinding itu.

Menimbulkan suara gemuruh kecil dan ku harap tidak sampai ke telinga Mama.

"Aku tak butuh kehidupan seperti ini!"

Jika Aku LesbianBaca cerita ini secara GRATIS!