1.] Surat Ancaman

212 9 8
                                        

(BAGIAN 1)

"
Karena menangis bukanlah hal yang tepat untuk menyelesaikan masalah, maka dengan tersenyum aku akan melangkah:)
"
-Andra-

---

Masih belum ada tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti. Tetes demi tetes air masih terus mengguyur deras di sekitar kawasan Kota Pahlawan. Sementara itu iqamat shalat Isya' baru saja berkumandang dari arah Masjid, tetapi tak satu pun orang yang terlihat keluar rumah untuk pergi berjamaah. Alih-alih berdiam diri di atas empuknya kasur bertemankan selimut tebal dan juga bantal yang begitu memanjakan kepala.

Mungkin, orang-orang lebih merasa takut dengan suara guntur dibanding siksa neraka yang padahal jauh amat pedih.

Perlahan angin dingin berhembus menghantam jendela kamar Andra yang kebetulan masih dibiarkan terbuka. Menyentaknya cukup cepat dan sesekali mengibarkan gorden biru gelap yang belum lama ini Andra pasangkan sebagi pengganti gorden yang lama.

Berbeda dari hari biasanya, malam ini keadaan kamar Andra jauh lebih menyerupai sebuah kandang; lantai kamar yang dipenuhi sampah kulit kuaci itu sudah basah oleh air hujan melalui jendela samping, handuk bekas mandi dengan apiknya menggantung di atas bed cover, belum lagi dengan hoodie, sepatu, seragam sekolah, dan seluruh tetek bengek lainya berserak di tempat yang tidak semestinya: Lantai.

Lebih buruk dari itu, sebuah kertas berukuran 210 × 297 milimeter tertangkap mata sedang teronggok manis di bawah meja. Andra lekas menutup jendela sebelum kemudian memungut kertas tersebut dengan cepat.

"Kalau sampai Mama tahu apa isi surat ini, Mama pasti akan marah besar ke gue. Belum lagi dengan si Bapak Jenderal itu. Beuh kemungkinan besar kayaknya nama gue bakal dikeluarin dari KK."

Percayalah, dibanding menghadapi selembar soal berbahasa Arab tanpa harakat ketika ulangan mendatang, Andra berani jujur bila kertas di genggaman tangan kanannya ini amat jauh lebih berbahaya.

"Ah, tapi ada atau enggaknya nama gue di dalam Kartu Keluarga, kayaknya nggak akan ada perubahan sama sekali. Dari dulu Si Bapak jenderal itu memang nggak pernah mau ngakuin gue sebagai anaknya, bukan?" Andra mendecih.

Tatapan pemuda itu kemudian berhasil jatuh pada cetakan foto lawas di atas nakas. Dua minggu terakhir ini Andra memang sengaja memasang foto itu dalam bingkai kayu dan memajangnya di atas sana sebagai pajangan kamar.

Mungkin ini terdengar sedikit aneh, di mana Andra menyengaja memajang sebuah foto, namun dia sendiri justru untuk sekedar batang hidung bangirnya pun tidak tampak dalam sana.

Mau bagaimana lagi, pemuda itu memang tidak pernah mendapat kesempatan untuk berada di tengah-tengah keluarga besarnya. Sekalinya mau ikut berpose, dia justru diberi amanah sebagai sang pemotret.

Andra menghela panjang. "Tenyata seperti ini rasanya ada tapi gak di anggap. Sakitnya ngalah-ngalahin di tinggal pas lagi sayang-sayangnya." Bibir tipis pemuda itu sedikit mengerucut. Sebal.

Hingga sebuah suara yang menyerupai alat musik bass menyentak Andra, "Dasar alay!"

Kepala Andra sontak berotasi 90° dengan tatapan tajamnya yang dibingkai alis menukik. Di sana ada Rangga, sang Kakak yang berdiri angkuh dengan bersandar pada pintu lemari kayu.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jun 19, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Andra & AlinaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora