One

73 16 2
                                        


"Din! Banguuuun!" sebuah suara membangunkan Diandra dari tidur nyenyaknya, membuyarkan mimpi indah Diandra dimana di mimpi itu ia baru saja menghabiskan waktu berdua dengan idol Korea favoritnya, Kim Tae Hyung alias V BTS.

"Lo kebo banget sih, Din! Udah dibilangin jangan nonton drakor kalau masuk pagi masih aja ngeyel!" seru Adrian, sang pemilik suara yang dari tadi berusaha setengah mati membangunkan adik semata wayangnya itu.

"Hmm," jawab Diandra yang masih setengah sadar.

"Udah jam segini! Lo kan MOS nanti kalau telat berabe lagi! Jangan mentang-mentang kita satu sekolahan lo jadi malas-malas gini dong!" Adrian terus saja mengomel.

Alih-alih bangun, Diandra malah menelungkupkan wajahnya ke dalam selimut. Melihat hal itu, Adrian menjadi tambah kesal.

"Woy bangun!!!!!" Kini Adrian mengguncang-guncang tubuh Diandra dengan kencang.

Sontak Diandra langsung terbangun dengan wajah sebal. "Iya! Iya! Gue bangun!" sambil bersungut-sungut Diandra membuka selimutnya dan langsung berjalan gontai menuju kamar mandi.

Adrian hanya geleng-geleng kepala melihat pemandangan di depannya itu. Sebagai anak bungsu, kelakuan Diandra memang paling bikin pusing. Hanya untuk membangunkan gadis itu saja, bisa seisi rumah yang turun tangan! Pagi ini saja sudah hampir seisi rumah yang berusaha membangunkan Diandra dan ia baru bangun saat Adrian yang turun tangan.

Adrian menatap jam dinding yang terpasang di kamar adiknya itu. Sudah setengah enam, batinnya dalam hati.

"Din! Jangan lama-lama mandinya!" kata Adrian, setengah berteriak. Ia kemudian meninggalkan kamar adiknya, bersiap-siap untuk dirinya sendiri.

Di dalam kamar mandi, Diandra masih menggerutu. Jam masuk MOS ini terlalu pagi untuknya. Otaknya sendiri masih belum bisa berfungsi. Maklum, ia sudah terlalu lama menikmati libur panjang dan memiliki jam tidur yang berantakan.

Setelah mandi dan mengenakan atribut lengkap, dengan malas Diandra menguncir dua rambutnya. Kini ia menatap ngeri ke arah kaca di hadapannya. "Bisa-bisanya gue harus dandan kayagini. Dasar sekolah aneh," gerutunya dalam hati. Ia masih saja merutuki keputusannya untuk masuk ke SMA yang sama dengan Adrian, kakak kandungnya sendiri yang juga merupakan ketua OSIS di SMA Pandean.

Diandra berpaling ke arah sejumlah barang yang telah tersusun rapi di samping tas sekolahnya. Selain harus datang pagi-pagi, ia juga ditugaskan membawa seabrek peralatan aneh yang tidak jelas kegunaannya. Ada karton, kertas HVS, tali rafia, spidol, dan juga alat-alat tulis lainnya. Sebenarnya, selain mengenai barang-barang nggak penting ini, Diandra sama sekali tak keberatan dengan peraturan MOS lain yang diberikan sekolahnya. Tidak seperti cewek-cewek lainnya yang mengeluh permasalahan nggak boleh dandan, Diandra menganggap hal itu bukanlah masalah untuknya. Ia sendiri bukanlah tipe cewek yang hobi dandan. Sehari-haripun ia tidak pernah mengenakan apapun selain sunblock dan bedak bayi. Kadang-kadang kalau bibirnya lagi kering banget, baru Diandra memakai lip balm berwarna sheer.

Tiba-tiba pintu kamar Diandra terbuka. Tanpa basa-basi, Adrian langsung masuk ke kamarnya dan duduk di atas kasur. "Culun banget sih tampang lo," kata Adrian sambil menahan tawa.

"Bawel amat sih lo," balas Diandra sambil memasang wajah sewot.

"Hahaha. Nggak, nggak. Lucu aja habisnya gue liat lo kayagini," Adrian cekikan. "Yaudah gue tunggu di bawah ya. Berangkat bareng kan?"

Diandra mengangguk. "Eh, Dri!" panggilnya ke arah Adrian yang baru saja hendak keluar kamar.

"Kenapa?"

"Boleh nggak..."

"Nggak," jawab Adrian cepat sebelum Diandra sempat menyelesaikan ucapannya.

"Yeeeee! Gue kan belum selesai ngomong!"

Best MistakeWhere stories live. Discover now