"Ingat, rasa nyaman hadir karena akan kehadirannya."
Selamat membaca...
***
"Gimana? Udah berhasil buat Arya suka sama lo?" tanya Marsa menatap lurus ke depan.
Aruna yang duduk dihadapan lelaki itu menghela napas pelan, "Belum, susah juga ternyata."
"Lo nggak mau minta bantuan gue gitu?" tanya Marsa menaikkan satu alisnya.
Aruna menggeleng, "Sama gue aja nggak luluh, gimana sama lo?"
"Lo meremehkan gue?" sungut Marsa. "Gini-gini, gue juga pakar cinta," katanya percaya diri.
Aruna menatap Marsa jengkel, "Lo lupa sama kejadian bulan lalu?" ketusnya.
Marsa nampak berpikir, dia sangat mengingat jelas dengan kejadian satu bulan yang lalu itu.
Dimana surat cinta buatan Aruna tidak sengaja diambil teman sekelasnya dan dibaca didepan semua orang.
Aruna sudah menyimpan diam-diam rasa sukanya pada Arya, lelaki yang satu tahun ini berhasil membuatnya jatuh cinta.
Namun, semuanya berantakan ketika kejadian memalukan itu datang kedalam kehidupannya.
Dimana Arya mengatainya gadis bodoh karena lebih memilih menulis surat cinta daripada menulis tentang buku pelajaran.
Arya adalah lelaki pintar, tidak seperti Aruna yang hanya mendapat peringkat satu dari urutan paling belakang.
"Gue janji, kali ini rencana gue bakalan berhasil." ucap Marsa percaya diri.
"Jaminan?"
"Maksud lo?"
"Jaminannya apa? Gue nggak mau kalau kejadian bulan lalu ke ulang lagi." ujar Aruna.
"Gue akan traktir lo selama sebulan, gimana?"
Aruna menarik napasnya dalam-dalam, "Oke,"
***
Aruna melirik pada Marsa ketika melihat Arya yang baru saja datang kedalam kelas.
Mereka bertiga memang satu kelas, itu sebabnya Aruna merasa senang karena setiap hari selalu bertemu dengan Arya.
Marsa seakan mengerti dengan lirikan yang diberikan oleh Aruna.
Marsa bangkit dari kursinya lalu kemudian berjalan menghampiri meja Arya.
"Ar, lo ganteng banget dah hari ini," puji Marsa begitu sampai dimeja Arya.
Arya yang sedang membaca buku pun merasa terganggu dengan kehadiran Marsa yang tiba-tiba itu.
"Cepet ngomong, gue nggak suka basa-basi."
Sepertinya Arya sudah sangat paham dengan gerak-gerik yang diberikan oleh Marsa.
"Pulang sekolah, temenin gue ke warnet ya?" ucap Marsa pada akhirnya.
"Nggak bisa,"
Marsa memasang wajah melasnya, "Please, Ar. Kali ini aja,"
"Gue sibuk,"
Marsa sudah tidak tahan lagi, dia benar-benar malas meladeni sikap dingin Arya itu.
"Lo bukan teman gue berarti," ucap Marsa seraya bangkit dari kursi.
"Memang lo bukan teman gue," sahut Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku LKS nya.
Sial, batin Marsa menggerutu.
Lelaki itu kemudian kembali berjalan menuju mejanya, dengan perasaan dongkol.
Aruna tertawa, "Jadi kan traktir gue selama satu bulan?"
Marsa menatap kesal wajah Aruna, "Gue ini mau bantuin lo, Aruna. Kok lo malah senang gitu sih kalau gue gagal?"
Aruna menyudahi tawanya, dia lalu merangkul bahu Marsa, "Mar, kalau gue aja yang sebagai cewek nggak bisa luluhin hati dia, gimana elo?"
Beberapa menit kemudian, seorang guru datang kedalam kelas mereka dengan membawa dua buku paket ditangannya.
"Selamat pagi, semuanya." sapa guru bernama Sarah itu.
"Pagi, Bu." jawab murid serempak.
"Hari ini saya mau memberi tahu kalian, kalau Farid ketua kelas kalian sudah pindah ke sekolah baru."
"Jadi, kelas kalian sangat membutuhkan ketua kelas baru untuk menggantikan Farid."
"Apa dari kalian ada yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua kelas?" tanya Bu Sarah, selaku wali kelas.
Marsa menepuk pelan bahu Aruna, "Mau nyalonin jadi ketua kelas nggak lo?"
Aruna menggeleng, "Nggak ah susah, lagian ribet juga."
"Arya? Apa kamu mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas?" tanya Bu Sarah pada Arya.
Bola mata Aruna kini tertuju pada lelaki itu, dia sangat menunggu jawaban apa yang diberikan oleh Arya.
"Boleh, Bu."
Bu Sarah tersenyum, "Oke, apa ada yang mau lagi?"
Marsa kembali menepuk bahu Aruna, "Cepat angkat tangan lo, kali aja lo beneran bisa jadi ketua kelas."
"Tapi saingan gue Arya, Mar." keluh Aruna.
"Nggak apa-apa, kalau lo nggak bisa jadi ketua kelas, seenggaknya lo bisa jadi wakilnya." ucap Marsa.
"Jadi, lo akan selalu ada waktu berdua sama Arya," ucap Marsa lagi.
Aruna nampak menimang-nimang ucapan Marsa tadi, sepertinya ada benarnya juga ucapan lelaki itu.
"Bu Sarah," panggil Aruna seraya menaikkan satu tangannya.
"Ya, Aruna?"
"Saya juga mau daftar jadi ketua kelas, Bu."
Dan saat itu juga semua pandangan mereka hanya tertuju pada Aruna.
***
#TBC
Maaf kalo ada typo 🙏
Follow instagram : tiaraylni
YOU ARE READING
Aryaruna
Teen FictionNamanya Aruna Adeline, panggil saja dia Aruna, si gadis yang mempunyai hobi menggambar dan menulis. Bukan menulis tentang pelajaran, melainkan tentang cintanya yang dia berikan secara terang-terangan pada Arya, lelaki yang membuatnya jatuh cinta. Di...
