"Ariesss"
Aku menolehkan kepalaku ketika ada suara yang memanggilku dari belakang. Ternyata Maya. Dia terlihat berlari dari gerbang sekolah. Aku menghentikan langkahku sambil melihat Maya yang menuju kearahku
"Dih kamu, aku panggil-panggil juga mulai tadi nggak denger-denger" ucap Maya saat sampai ditempatku sambil sedikit ngos-ngosan. Entahlah padahal jarak aku berdiri dengan pintu gerbang tidak jauh tapi Maya sudah ngos-ngosan seperti itu.
"Kamu manggilnya kurang keras" balasku sambil kembali berjalan meninggalkan Maya.
"Sialan mak lampir, aku ditinggal lagi. Aku sumpahin kamu nggak ditemenin sama gerandong" umpat Maya sambil berjalan mengerjarku.
"Cari temen lagi lah.. gitu kok repot" balasku sambil melambaikan tangan pada Maya dan terus berjalan.
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester. Yah saat ini aku sudah kelas 3 SMA. Tak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini. SMA 1 NUSA. Aku akan benar-benar merindukan tempat ini nantinya. Banyak kenangan di tempat ini yang tidak akan bisa aku lupakan. Apa lagi kenanganku dengan sahabat-sahabatku.
Maya Arta Dinata. Dia sahabatku sejak SMP. Entah kebetulan atau memang takdir, kami berdua selalu satu kelas. Bahkan saat ini aku kembali satu kelas dengan Maya. Dengan segala tingkah absurd Maya aku harus sering-sering mengelus dada.
Apalagi kalau sumpah serapah sudah keluar dari bibir manis Maya yang kadang nggak kenal waktu dan tempat, suaranya itu loh udah kaya toa masjid, benar-benar mengundang perhatian, dan saat itulah aku merasa ingin menenggelamkan diri ke lautan. Itu perumpaan loh yaa, mana berani aku menenggalamkan diri ke lautan sedangkan berenang saja aku nggak bisa.
Lebih tepatnya aku yang tidak mau setiap kali diajak untuk berenang. Itu karena dulu waktu umurku 5 tahun aku pernah pergi ke kolam renang bersama mama dan papah di salah satu tempat wisata. Karena aku sangat senang jadi aku lari - lari sendiri dan lepas dari pengawasan mama dan papa. Entah bagaimana ceritanya aku bisa sampai di tepian kolam renang khusus dewasa
Akhirnya kejadian tidak diinginkan itu terjadi aku terpeleset dan tenggelam. Aku mencoba memanggil mama dan papa tapi tidak ada yang menjawab panggilanku. Aku mencoba melambaikan tanganku tapi rasanya sia - sia, aku tidak bisa bernafas dan seketika semuanya gelap.
Tuhan masih sayang padaku, ketika aku membuka mata, aku sudah tidak berada di dalam air lagi. Aku melihat mama dan papa menangis di sampingku. Aku langsung memeluk mama dan papa sambil menangis ketakutan. Semenjak saat itu aku trauma jika pergi ke pantai ataupun kolam renang aku tidak akan berenang paling hanya duduk dipinggir pantai atau pinggir kolam renang.
Kembali lagi pada Maya meskipun dia memiliki sifat yang terlewat absurd tapi aku sayang padanya. Dia sahabatku yang setia. Dia tahu kapan harus ada disampingku dan kapan harus meninggalkanku ketika aku ingin sendiri. Yah dia adalah Maya.
"Ri,, tumben Arga nggak ngerecokin kamu, biasanya kalau kamu datang dia selalu nyamperin kamu?" tanya Maya saat kita berdua sudah sampai dikelas XII A4, kelas kami yang baru dengan penghuni lama.
Aku menggelengkan kepalaku, " sudah insyaf kali dia gangguin aku" balasku.
Aku meletakkan tasku diikuti dengan Maya. Kami memilih bangku pojok dan paling belakang. Karena hari ini masih pagi dan banyak siswa yang masih belum datang kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil posisi itu, karena meja paling pojok dan paling belakang itu berada disamping jendala yang langsung menghadap lapangan basket.
Yah aku memang suka memilih tempat strategis seperti ini. Bukan berati aku dan Maya bodoh, tapi aku lebih nyaman saja saat duduk di belakang apalagi dekat dengan jendala. Jadi kalau aku bosan aku suka melihat pemandangan di luar jendela.
YOU ARE READING
ARIES
RomanceAries sangat suka memandang seseorang melalui instagramnya. Hal ini sudah dia lakukan selama tiga tahun belakangan ini. Sedangkan Arga selalu menggoda Aries dengan kata - katanya yang terkadang membuat Aries merasa geli sendiri. Lalu, tanpa sengaja...
