Part 2

24K 396 10
                                    

Pencet bintangnya dulu🌟

Seminggu lalu, suamiku telah menikah dengan gadis yang telah diketahui namanya, Sohena. Ya, Sohena. Gadis yang mengaku telah diperkosa Christian, pada hari peresmian restaurant yang di naungi oleh perusahan Christian, dua bulan lalu.

Aku ingat, pada saat itu aku sedang berkunjung di Manado, rumah ibuku. Sebelum menikah dengan Christian, aku dan ibuku hanya hidup dengan sederhana. Kalau kalian ingin tau, ibu dan ayahku telah bercerai.

Lanjut, setelah Sohena mengungkap kan kejadian itu, suamiku tidak menyangkal nya, ia bilang, ia tidak mengingat apa - apa, karena pada saat itu ia sedang mabuk. Mertuaku yang mengetahui itu, langsung mengadakan pernikahan.

Walau secara diam - diam, yang hanya di hadiri dua mertuaku, aku, Christian dan Sohena. Kenapa tidak dengan orang tua Sohena? Kata dia, ia hanya seorang anak yatim piatu, entah itu benar atau hanya akal - akalan nya saja, karena sejak awal aku sudah curiga pada nya.

Kandungan Sohena baru satu bulan. Dan yang membuat ku tidak terima, Sohena harus tinggal di rumah ku dan suami ku sampai bayi itu lahir. Aku sudah mencegah nya, namun ... apalah daya ku yang langsung di tolak mentah - mentah oleh ibu mertuaku. Tepat setelah mereka menikah, Sohena yang tinggal di kosan kecil, pindah ke rumah kami.

Saat ini, aku sedang bersantai di taman belakang. Aku tidak di perboleh kan bekerja oleh suami ku. Ya, dia sangat posesif.

"Ka?"

Tiba - tiba, terdengar suara dari belakang memanggil ku, aku pun segera membalikan tubuh ku. Ternyata Sohena. Gadis itu telah berpakaian rapih entah mau kemana.

"Iya, kenapa?" tanya ku

"Emm, itu, aku mau izin keluar sebentar, boleh ya?"

"Kemana?" tanya ku lagi

"Mau ketemu temen ka, cuma nggak lama kok,"

Ketemu temen ya?

"Oke. Tapi jangan pulang malem - malem, aku nggak mau di ceramahin mama," balasku. Ya, ibu mertua menyuruh ku untuk menjaga Sohena. Ia mengancam ku, akan memisah kan Christian dari ku jika Sohena terluka atau aku tidak memperlakukan nya dengan baik. Walaupun aku tak suka kepada nya, mana mungkin aku setegah itu, untuk mencelakai nya? Bener - benar mertua ber presangkah buruk.

"Iya ka, permisi."

Aku hanya balas dengan deheman

Tidak masalah juga ia menikah dengan Christian, asal tidak menimbulkan masalah, hitung - hitung aku akan segera menimang bayi.

Tetapi jika terbukti ia membohongi kami dengan berkata itu anak Christian, padahal bukan ... ia akan bercerai dengan Christian dan harus meniggalkan bayi nya bersama kami. Cukup kejam, untuk memisah kan ibu dan anak, tetapi, itu lah konsekuensi nya jika telah membohongi kami

***

Sudah hampir jam sepuluh malam Sohena belum pulang juga. Aku mondar - mandir di teras menunggu kepulangan nya. Oh iya, aku menelepon nya saja. Segera ku cari nama nya di kontak.

Sial, aku lupa meminta nomor telepon nya. Bagaimana ini, jika ibu mertua tau? Dan kenapa juga, Christian belum pulang? Biasa nya ia akan pulang jam delapan.

Kalau ia lembur, setidaknya kan kabari aku? Pesan atau telepon. Aku sudah coba menghubungi nya, tetapi ... tidak ada balasan satu pun dari nya.

Udara mulai dingin. Aku pun segera masuk ke dalam.

Aku memutuskan untuk menunggu di ruang tamu, sesekali aku menguap karena mengantuk. Mengecek handphone, kali aja ada pesan dari Christian.

Aku menatap langit - langit ruang tamu. Apakah yang aku lakukan sudah benar? Mungkin kalian akan mengatai ku bodoh karena telah mengizinkan, suami ku menikah lagi.

Tapi, kalian tidak mengerti ... posisi ku disini serba salah ... jika aku tidak mengizinkan Christian dan Sohena menikah, pasti aku akan di maki - maki oleh mertuaku, dan aku juga tidak setegah itu, membiarkan bayi yang di kandung Sohena hidup tanpa seorang ayah ....

Karena aku pernah merasakan, bagaimana hidup tanpa seorang ayah ..., sebaliknya aku juga harus menerima jika harus ada orang ketiga di antara kami, mungkin juga Christian akan berpaling dari ku ... Semoga saja tidak. Tetapi ... perasaan tidak ada yang tau. Kehidupan ini memang kejam.

***

"Non, non ... bangun non,"

Tiba - tiba, ada orang yang mengguncang - guncang tubuh ku. Aku pun merenggang kan tubuh ku, sambil mengumpul nyawa

"Hmmm, jam berapa bi?" tanyaku pada bi Erna, asisten rumah tangga ku

"Jam tiga pagi non. Pas saya mau minum, saya kira maling yang lagi tidur di sofa, hampir saja saya mukul pake sapu, eh ternyata non Aurora,"

"Jam tiga?!" ujarku sedikit terkejut. Apa selama itu aku menunggu Christian dan Sohena?

"Iya non,"

"Christian udah pulang?" tanyaku

"Belum non,"

Belum pulang juga? Kemana dia

"Sohena?"

"Belum juga, non,"

What? Belum pulang? Kalau terjadi sesuatu, pada Sohena gimana? Kalau, kandungan nya kenapa - napa, gimana? Mudah - mudahan ia baik - baik saja.

Aku akan mencoba menelpon Christian lagi.

Tut ... Tut ... nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan

Tadi nggak di angkat. Sekarang apa lagi? Nggak aktif? Sebenarnya kamu dimana Christian ....

"Yasudah bi, balik tidur aja, saya juga udah mau ke kamar,"

"Baik, non." pamit bi Erna

Kepalaku pusing. Sudah menjadi kebiasaan jika aku di bangun kan secara tiba - tiba, akan merasakan pusing, teramat pusing. Apalagi akhir - akhir ini, aku sedang banyak pikiran.

Akhirnya aku naik ke atas, ke kamarku dan Christian, untuk kembali tidur. Setidaknya, untuk meredah kan nyeri di kepala ku.

***

Sinar matahari mulai menembus padangan ku. Aku mengecek sebelahku, ternyata Christian belum pulang. Segera, aku bangkit, membereskan tempat tidur, lalu pergi mandi

Setelah bersiap - siap dengan pakaian santai, aku mulai menuruni tangga. Harum masakan mulai masuk ke dalam indra penciumanku

"Pagi bi, masak apa?"

"Eh, pagi non, bibi lagi masak sayur kangkung, ikan goreng dan sambal dabu - dabu kesukaan non Aurora,"

Jika kalian tidak tau apa itu sambal dabu - dabu, akan kuberi tau. Sambal dabu - dabu, adalah tomat, bawang merah dan cabe, yang di potong - potong kecil, lalu di tambah kan minyak panas. Sambal dabu - dabu itu sendiri berasal dari Manado, tetapi sudah banyak di kenal oleh kota - kota, dan negara lain.

"Makasih lho bi, maaf nggak bisa bantu," ujarku tidak enak. Bukan berarti aku tidak bisa masak, tetapi aku merasa tubuhku akan remuk saat ini juga.

Bi Erna pun menyajikan makanan nya di atas meja. Walaupun sederhana, ini sangat enak.

"Ayo bi, temenin saya makan," ajakku pada bi Erna. Karena biasa nya, hanya aku dan Christian. Bukan nya kami tidak mengajak bi Erna, kami selalu mengajak nya, tapi bi Erna menolak nya dengan alasan masih banyak pekerjaan

Sebelum bi Erna menolak nya, aku langsung memotong nya.

"Tidak ada penolakan, bi."

Akhirnya kami makan bersama. Di sela - sela kami menikmati makanan, tiba - tiba, ada yang memencet bell. Siapa yang datang bertamu pagi - pagi?

"Biar saya aja, non,"

Bi Erna pun, segera membukakan pintu nya.

Terdengar suara langkah kaki, mengarah kemari

"Aurora?"

Merasa ada yang memanggil, aku pun membalikan tubuh ku. Dan ... apa yang aku lihat sekarang, membuat ku mengernyit kan dahi. Apa - apaan ini?

🍁🍁🍁

Drop your emojis for this story😈

Dua Istri Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang