We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

10K 628 114
                                        

Follow candusyahdu sebelum membaca.

Happy reading ...

"Huaa ... Gau, jangan tinggalin Feo. Feo gak bisa hidup tanpa Gau."

Laki-laki itu tersenyum tipis di balik masker yang ia pakai, nampak dari matanya yang melengkung membentuk bulan sabit. Ia mengusap rambut dan punggung gadis itu secara teratur agar gadis itu lebih tenang. Sungguh, ia juga tidak rela harus berjauhan dengan gadis yang kemarin baru saja resmi menjadi tunangannya.

"Jangan nangis, Feo. Aku gak lama kok."

"Empat tahun kamu bilang gak lama?!" kesal gadis itu sambil melepaskan pelukan mereka secara paksa.

"Hei ...." Gauzan menangkup pipi Feodra yang basah karena air mata, menatap gadis itu lembut. "Aku masih pulang kalau liburan. Kita bakal rajin video call, oke?" Gauzan menghapus air mata gadis itu.

Bibir Feodra mengerucut lucu dengan hidung dan pipi bulat yang memerah. Matanya masih berair dengan sisa air mata di pipi dan bulu mata lentiknya. Kemudian, gadis itu mengangguk singkat.

"Ngomong dong."

"Oke," jawab Feodra dengan ogah-ogahan.

"Gauzan."

Panggilan dari suara berat itu spontan membuat Feodra menunduk dalam, buru-buru menghapus sisa air matanya ketika melihat keluarga mereka datang menghampiri.

"Ayo, pesawat kamu sebentar lagi take off," ujar seorang pria paruh baya yang sangat mirip dengan Gauzan.

Gauzan mengangguk. Ia mengusap rambut Feodra, kemudian mendekati papanya. Ia menurunkan masker di mulutnya. Gauzan mencium punggung tangan papanya.

"Tetap giat belajar dan jaga kesehatan ya," ujar Gani menepuk bahu putranya sambil tersenyum. Tak bisa dielak lagi mata pria itu tampak berkaca-kaca. Antara sedih harus melepas anaknya untuk bersekolah di negara orang dan juga merasa bangga karena pencapaian Gauzan.

Ketika hendak mencium tangan Ruri-ibu Gauzan. Ruri sudah terlebih dahulu menarik tubuh anaknya itu untuk dipeluk. Wanita itu menangis tersedu-sedu. "Mama sebenarnya gak rela lihat kamu pergi. Jangan lupa sering kabarin mama. Jangan pergi ke club, jangan minum alkohol, jangan pakai narkoba, pintar-pintar cari teman. Kamu juga gak boleh-"

"Iya, Mama. Gauzan udah besar, bisa jaga diri." Gauzan memotong ucapan mamanya sebelum wejangan panjang lebar keluar lagi dari mulut mamanya. Bisa-bisa ia tertinggal pesawat kalau terus mendengar ceramah mamanya itu.

Setelah melepas pelukan mamanya, ia beralih mencium tangan Lana-ibu Feodra. "Jaga kesehatan ya. Mami tunggu kepulangan kamu dengan kabar gembira." Gauzan tersenyum dan mengangguk mantap menanggapi itu.

Kemudian, ia beralih mencium punggung tangan Candra-ayah Feodra. Pria itu tersenyum, kemudian mengusap rambut Gauzan. "Jangan lupa potong rambut." Gauzan tertawa mendengar nasihat itu.

Saat di depan Jovan-abang Feodra yang terpaut usia 2 tahun dengannya, senyumnya melebar sambil melakukan high five khas laki-laki. "Sukses ya, Bro. Jangan lupa kencan sama cewek Jepang di sana. Pilih yang badannya montok, Zan."

Hal itu membuat Feodra melotot galak. "Abang!"

Semuanya tertawa, sedangkan Gauzan malah tersenyum lembut ke arah Feodra lalu mengusap rambut gadis itu yang wajahnya masih kusut. "Bang Jovan cuma bercanda."

"Jangan selingkuh!" Feodra mengembungkan pipinya galak.

"Iya, Feo. Mana mungkin aku bisa selingkuhin cewek seimut ini. Yang ada cewek imut ini yang selingkuh." Gauzan mencubit pipi bulat Feodra dengan gemas, hal itu membuat Feodra semakin kesal.

Ruri berdehem agak keras. "Udah kali pacarannya. Nanti ketinggalan pesawat loh," ujar Ruri mencela adegan romantis muda-mudi yang sedang dimabuk asmara itu.

Gauzan mengangguk. "Kalau gitu Gauzan pergi dulu." Gauzan menyeret koper hitamnya. Ia menatap Feodra yang juga sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, berat rasanya meninggalkan gadis itu.

"Kalau kamu nangis lagi aku gak jadi pergi."

Feodra mengusap air matanya cepat, kemudian ia pergi begitu saja dari hadapan mereka. Ia tak lagi memedulikan Gauzan atau orang tuanya yang meneriaki namanya. Ia terus berlari sambil mengusap air matanya dengan kasar.

Kalian berpikir Feodra melakukan itu karena tidak sanggup melihat kepergian Gauzan?

Sayang sekali, itu salah besar.

Sebenarnya, ia pergi karena tak ingin keberangkatan Gauzan dibatalkan dan juga ia tak sanggup menahan bibirnya yang berkedut membentuk lengkungan. Ia tadi berusaha mati-matian menekan bibirnya agar tidak tersenyum senang. Rasanya ia ingin melompat-lompat merayakan kepergian Gauzan.

Iya, tadi dia cuma berakting.

Bagi sebagain orang mungkin menganggap seorang Gauzan Bumiputra Aristides adalah sosok yang terbilang sempurna dan Feodra Garneta adalah sosok paling beruntung yang bisa mendapatkan hati Gauzan.

Dan Feodra hanya bisa tertawa mengejek. Mereka tidak tau saja sifat asli Gauzan yang terbilang tidak normal itu.











A/n:

Semoga kalian terhibur dan betah ya. Aku harap kalian bisa mengambil sisi positifnya dan buang sisi negatif dari cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak selama membaca❤️

So, salam kenal dulu dong sama Feo Gau😚👉

Lanjut gak nih?

Tunggu rame dulu deh. Pemanasan wkwkwk

.

.

.

.

.

Start publish:
Senin, 4 Mei 2020. 21: 17 WIB

by Candu Syahdu

Yogyakarta

REPUBLISH:
JUMAT, 30 April 2021

REPUBLISH ((LAGI)):
Senin, 4 Maret 2024

Trapped In The Possessive FianceStories to obsess over. Discover now