Kring...kring...
Sebuah alarm berbunyi menggema di sebuah ruangan yang di huni oleh seorang gadis cantik. Namun gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan suara alarm tersebut. Gadis itu bernama Alvaresya Handita Putri.
Cklek...
Seorang wanita paruh baya membuka pintu kamar Resya lalu berjalan masuk ke dalam kamar untuk membangun kan Resya. Wanita itu adalah Bi Inah pembantu di rumah Resya.
"Non bangun sudah jam enam lebih lho, nanti telat. Ayo bangun," ucap Bi Inah membangunkan Resya.
Akhirnya Resya membuka mata perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang ada dalam kamar nya.
"Hoamm... memangnya ini jam berapa bi?" tanya Resya dalam keadaan setengah sadar.
"Jam enam lebih dua puluh. Cepat mandi nanti telat, bibi tunggu di bawah. Seragam baru kamu bibi sudah siapkan di kamar mandi," setelah mengatakan itu Bi Inah turun ke bawah untuk menata makanan ke meja.
Dengan segera Resya masuk ke kamar mandi, namun karena tidak memperhatikan jalan ia menabrak tembok bukan masuk ke kamar mandi.
"Sejak kapan ada tembok disini sih, ngalangin jalan aja. Ga tau apa gue lagi buru-buru takut telat, gue kan siswi baru," ucapnya menggerutu.
15 menit kemudian, Resya sudah siap dengan seragam baru nya. Kemudian ia turun ke bawah untuk berangkat sekolah.
"Non sarapan dulu!" suruh Bi Inah.
"Ga sempet bi, takutnya nanti jalanan macet," ucap Resya sambil memakai sepatu.
"Bi aku berangkat dulu yha," setelah selesai memakai sepatu, Resya pamit untuk berangkat.
"Ya sudah, ini bawa rotinya makan di mobil aja, Pak Sarip udah nunggu di depan," kata Bi Inah sembari memberikan roti kepada Resya. Pak sarip itu adalah sopir pribadi keluarga Reysa sekaligus suami Bi Inah.
"Makasih Bi, Assalamua'alaikum," salam Resya.
"Iya, Wa'alaikumusalam, hati-hati," jawab Bi Inah.
Resya berjalan tergesa-gesa keluar rumah. Setelah itu ia pun masuk ke dalam mobil dan meminta Pak Sarip untuk segera berangkat. Resya khawatir kalau nanti akan terjebak macet. Dan ternyata benar, ia terjebak macet.
Hampir 15 menit ia terjebak macet, mobilnya pun bisa berjalan lancar. Resya panik karena jarak nya saat ini dengan sekolah masih agak jauh sedangkan sekolah masuk pukul tujuh kurang lima artinya ia hanya punya waktu 5 menit.
"Pak ngebut dikit ya, bentar lagi sekolah masuk," ucap Resya meminta Pak Sarip melaju lebih cepat. Tapi sayang nya ia tetap terlambat.
Ia telah sampai di sekolah namun gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Ia melihat ada satpam yang sedang berjaga di pos satpam. Lalu ia menghampiri dan memanggil nya.
"Pak satpam," panggil Resya. Dengan muka tegas nya, satpam itu menggampiri Resya.
"Pak bukain gerbangnya, saya murid baru disini," mohon nya dengan muka sedikit dimelaskan.
"Sudah tahu murid baru lalu kenapa telat, harus nya kan datang awal bukannya malah telat," ujar satpam itu dengan suara yang berat.
"Tadi jalanan macet pak jadinya telat deh," jawab nya sedikit jujur.
"Alah bilang aja sih kalau telat bangun, gausah banyak alesan," ucap seorang laki-laki dari belakang Resya. Ucapan itu membuat Resya menengok ke sumber suara.
"Kamu lagi kamu lagi, setiap hari pasti telat," ucap satpam itu marah.
"Biasa kali pak, anak muda," jawab cowok itu sambil menaik-turunkan alisnya.
YOU ARE READING
Resya
Teen FictionAku hanya lah gadis biasa. Gadis dengan beratnya cobaan hidup, bahkan sering merasa putus asa. Namun itu dulu sebelum Dia datang. Dia sosok yang membuat ku sejenak melupakan semua masalah, tapi dia juga bagian dari masalah itu. Ini lah aku dengan s...
