Awal

44 7 6
                                        

Ranu yang sedang di kantin sekolah menatap seorang perempuan yang duduk tak jauh darinya, memandanginya sambil bertanya pada diri sendiri, pacarnya asik bener dengan cowok lain, ah mungkin saja hanya temanya.

Segala pikiran baik ia tampung supaya tidak berpikiran macam-macam terhadap pacarnya. Rani.

Cukup serasi sih percintaan Ranu Rani. Bahkan selalu menjadi trending di SMA nya. Setiap Ranu memikirkan hal negative tentang Rani, sesegera mungkin Ranu mengingat ikrar yang sudah ia sepakati dengan Rani selama dua tahun belakang. Apa hanya Ranu yang memikirkan? Apa hanya Ranu yang mengingat?

“bengong mulu kang”

Ranu menoleh kaget ketika suara yang tak lazim ia dengar dengan mudah diterima gendang telinganya, dan ternyata berasal dari mulut sahabatnya, Fatir. Ranu yang mendengar hanya menoleh tanpa menjawab. lalu dilanjutkan dengan aktifitasnya memandangi perempuan yang tak jauh dari tempat duduknya.

“yah diem bae” ucap Fatir tak mendapat jawaban, alhasil Fatir mengikuti arah pandang Ranu. Nasib buruk menimpa Ranu, sudah hampir puluhan kali Ranu diingatkan oleh sahabatnya. Bahwa Rani berselingkuh darinya.

Namanya juga yakin yakinya yakin selalu menang dengan duga sangka sahabatnya. Ranu tetap kekeuh dengan yakinya, Rani tak mungkin selingkuh dia kan sudah janji dengannya.

Apa rani mengingkari? Pikiran Ranu menggelayut kemana-mana. Ia segera menyadarkan diri dan menepis jauh-jauh pikiran tersebut.

Tak tau sudah berapa lama Ranu memandangi Rani, yang jelas ia baru sadar bahwa sudah didapatinya tiga sahabatnya yang memandangi dirinya.

“eh” kaget Ranu

“Man lo, gak cemburu liat Rani” ujar riko, dia berkata seperti itu karena sudah banyak kali mendapati Rani pacar sahabatnya itu jalan dengan cowok lain.

“gak”

“jangan-jangan lo udah gak cinta kali” balas Putra.

Putra juga begitu, sering kali ia mendapati pacar Ranu si Rani telah jalan-jalan dengan cowok lain.

Sahabatnya sudah sering kali mengingatkan, Riko, Putra, Fatir juga sering melihat Rani dengan cowok lain, di tempat yang berbeda-beda pula.

Tapi sekeras apapun usaha sahabatnya untuk mengingatkan dirinya, Ranu. Tak akan membuahkan hasil jika tak melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Tapi sekarang sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Ranu tetap tidak goyah terhadap peraasaan dan keyakinannya tentang Rani. Bahwasanya Rani tetap setia dengan Ranu, pikir Ranu.

“ckck" ranu berdecak, " gini lure semua, mungkin orientasi tentang perselingkuhan kalian terlalu rendah dan terlalu dini, mungkin standarnisasi tentang perselingkuhan kalian juga terlalu rendah, jadi lo ngira cewek gue jalan dengan cowok lain selingkuh, gak salah sih. Lo semua boleh bilang gitu, tapi kan kalian gak tahu, tuh cowok siapanya. Mungkin bisa jadi sepupu, saudara, atau apalah. Kan?” jawab Ranu agak riweuh dengar ocehan sahabatnya, yang semakin hari selalu membuat pikirannya suntuk, sumpek, yang kian hari semakin dipikir semakin masuk akal perkataan sahabatnya itu. Tapi Ranu menampik semua pikiran itu.

Sahabatnya langsung kicep mendengarkan perkataan Ranu. Si keras kepala, mungkin itu yang ada di pikiran sahabatnya.

“Ya gak gitu juga Nu, kita sebagai sahabat tugas kita hanya ngingetin lo, tanpa ikut campur tangan dengan urusan lo, ya boleh sih lo gak percaya. Tapi lo pertimbangin, semua ini keluar dari mulut sahabat lo” ucap Putra yang mulai eneg dengan Ranu, akademik kayak Einstein tapi perihal cinta kenapa kayak goblok banget gitu, ih rasanya gemezzz jadi pengen bunuh, batin Putra.

LaraWhere stories live. Discover now