.
.
.
.
"Hiks tolong nak, ini ibu. Ini ibu nak. Hiks jangan bunuh ibumu. Ibu mohon," ucap seorang ibu bergaun putih dengan nada sangat ketakutan. Ia sangat takut dengan anak kecil di depannya. Seperti ada sesosok iblis yang bersemayam di tubuh gadis kecilnya. Air mata terus mengucur membasahi pipinya. Ia duduk dengan memeluk lututnya sendiri di pojok ruangan. Di depannya seorang gadis kecil berkisar 5 tahun dengan pisau mengkilap di gengamannya. Ia menatap sesosok ibu di depannya dengan mata mungil tajamnya.
"Kamu jahat." Gadis itu semakin maju dan maju mendekati sesosok ibu yang sangat ketakutan itu. Matanya tak sedikitpun lepas dari sesosok ibu itu. Ia seakan tak perduli seseorang yang mengaku ibunya itu menangis meraung-raung ketakutan. Ia terus melangkah dengan mengacungkan pisau yang ia gengam ke arah wanita paruh baya di depannya.
"Jangan nak, jangann hiks hiks," raung sang ibu dengan menyilangkan tangannya di atas kepala.
"AAAAA SAKIT NAK SAKIT."Seakan tak mendengar apa ucapan wanita itu, gadis kecil langsung mencabik-cabik tubuh sang ibu dengan bringasnya. Ibu itu tak membalas, ia takut melukai gadis kecilnya. Yang bisa ia lakukan hanya berteriak memohon agar gadis kecil itu berhenti menyakitinya. Seperti ada magnet yang menariknya agar tidak berlari. Ia duduk dengan pasrah menerima tusukan demi tusukan yang dilakukan gadis kecil itu. Bahkan sampai wanita paruh baya itu sudah tergeletak lemas dan tak bernafas lagi.
_____
Seorang perempuan duduk di sebuah kursi kayu dengan keadaan terikat. Mulutnya disumpal dengan sebuah kain lusuh berwarna coklat. Air mata tak berhenti membasahi pipi mulusnya. Di depannya, seorang gadis ber-hoodie hitam mengengam sebuah pisau yang sangat mengkilap. Bibirnya tersunging membentuk sebuah senyuman. Senyuman iblis lebih tepatnya.
Gadis ber-hoodie itu terus maju dan maju mendekati gadis yang terikat di kursi. Ia melepas ikatan yang menyumpal di mulut gadis malang itu dengan sangat kasar. Sang gadis malang akhirnya bisa berteriak hebat, berharap ada seseorang di ruangan ini yang mendengarnya dan langsung menolongnya. Ia ketakutan, sangat ketakutan. Namun, gadis ber-hoodie itu sama sekali tak perduli. Wajahnya masih tersenyum, tak merasa bersalah sedikitpun. Tak perduli manusia di depannya dalam keadaan lemah dan ketakutan.
"Haii," kata gadis ber-hoodie dengan senyum masih melekat di wajahnya.
Senyuman manis namun mampu membuat orang bergidik ngeri ketika melihat mata tajamnya. Dengan santainya, pisau yang ia gengam ia tancapkan di paha sang gadis malang di depannya. Teriakan gadis itupun semakin memekakkan telinga bagi siapapun yang mendengarnya. Namun, tidak dengan gadis gila itu. Teriakan itu seperti irama musik menenangkan di telinganya.
"AAAAAAA AKU MOHON BUNUH SAJA AKU, APA SALAHKU? KU MOHON BERHENTI," raung gadis malang itu.
Gadis ber-hoodie itu mengerucutkan bibirnya, "Ah kamu lemah. Aku hanya ingin bermain denganmu."
Ia mencabut pisau yang menancap di paha gadis malang. Berteriak, itu yang bisa gadis malang itu lakukan. Untuk melepaskan ikatan tali di tangannya saja ia sama sekali tak mampu. Seperti seorang kakak yang akan menyuapi adik kecilnya. Gadis itu mengarahkan pisau ke arah mata sang korban. Ia terkekeh saat melihat gadis di depannya menggelengkan kepalanya untuk berusaha menghindar.
"Pesawat datang," serunya dan menusukkan pisau itu tepat di mata sebelah kanan milik gadis malang. Tak perduli teriakan kesakitan, semakin kesakitan gadis di depannya, membuat ia tersenyum puas.
"AAAAA SAKITT." Gadis malang itu mengeliatkan tubuhnya. Berusaha untuk lepas dari ikatan. Namun nihil, yang ada sakit di paha dan matanya semakin menjadi.
Gadis ber-hoodie itu tersenyum, "Emm kamu jahat sih. Makannya jangan jadi orang jahat."
Seperti layaknya anak kecil yang bermain di sebuah lubang. Gadis ber-hoodie itu mengkorek-korek lubang mata kanan gadis di depannya. Menusuk dan mencokel mata itu. Ia terkekeh saat sebuah benda berwarna putih yang sudah tak bulat itu jatuh ke lantai. Pipi yang semula dibanjiri oleh air mata kini dibanjiri oleh darah.
Tak sampai di situ, gadis ber-hoodie itu dengan bringasnya menusuk-nusukkan pisau tajamnya ke tubuh gadis di depannya. Teriakan kesakitan semakin menjadi, hingga tak terdengar lagi.
"AAAAAAAAA." Danisha berteriak sangat kencang. Mimpi buruk itu datang lagi. Bermimpi sesosok wanita yang mengaku ibunya itu mati di tangan seorang anak kecil yang wajahnya hampir mirip dengannya. Sahabatnya mati dengan sangat mengenaskan di tangan seorang perempuan, mata kanan hilang dan tubuh serta wajahnya penuh dengan darah. Danisha manangkup wajahnya, keringat bercucuran membasahi pelipisnya. ia memukul-mukul kepalanya sendiri, berusaha mengenyahkan mimpi itu dari kepalanya. Buru-buru ia merogoh laci nakas dan menengak 3 pil obat penenang sekaligus, tanpa air.
_____
PASTI NGERRRIII YAAA???
NGGAK BERANI KAN GULIR BAB SELANJUTNYA??
HAYOOO BERANII NGGAK NIHHHHH
Anak baik-baik
Daydreamvu x rinjaniii21
YOU ARE READING
I Don't Know Me
Teen Fiction[Teenfic, Thriller, Comedy] Layaknya karang. Kehidupan seseorang sangat keras. Perlu pengorbanan yang luar biasa untuk merubah nasib. Ada kalanya sedih, bahagia, bahkan merasa putus asa. Tapi, berbeda dengan Danisha. Gadis cantik bernasib malang. Hi...
