Feshikha Faleesha, gadis cantik, manis, dengan kulit putih bersih, dan jangan lupakan lengkungan itu kala tersenyum, yang kerap membuat kaum adam tak berkedip melihatnya. Begitulah visual seorang yang kerap di panggil Esha itu menurut Gian Savrinadeya.
Lain lagi bagi Ganendra Danadyaksa, Esha itu gadis baperan yang maunya dibegoin sama Gian. Aksa tak habis pikir dengan Esha yang begitu mendewakan Gian sang kapten basket. Sangat disayang kan, Esha sebego itu maunya kepincut dengan tampang pas-pasan Gian.
"Cuih, mau aja dibegoin. Apa coba hebat nya Gianjing? Gumam Aksa melihat Esha mesem-mesem melihat Gian diujung koridor.
*******
"Kenapa Lo senyum-senyum gitu?" Aksa merinding melihat Esha yang tak hentinya senyum-senyum sendiri dari jam istirahat tadi.
Saat ini mereka menghabiskan sisa jam istirahat dengan duduk-duduk di taman belakang sekolah.
"Heheh, nggak bisa liat gue seneng Lo ya." Esha memamerkan coklat pemberian Gian tadi kepada Aksa dengan senyum yang tak luntur saat mengingat Gian yang dengan romantis memberikan nya coklat sebagai permintaan maaf karena akhir-akhir ini ia sibuk latihan dan juga susah dihubungi. Sebucin itukah Esha kepada Gian?
Jawaban nya IYA, karena Gian itu perfect menurut Esha.
"Gitu doang udah kayak orang stres Lo, bucinnya sampai ke urat" Aksa mencibir Esha yang cengengesan.
"Udah yuk, bentar lagi bel nih" Esha mengajak Aksa untuk kembali ke kelas, karena jam istirahat akan berakhir 5 menit lagi. Ia tak mau terlambat mengingat Bu Rose yang terkenal killer itu akan mengajar kelasnya habis istirahat.
"Ya udah yuk" Aksa bangkit dari duduknya.
Mereka berjalan beriringan di sepanjang koridor sekolah.
Sudah tak asing lagi, Esha dan Aksa itu sahabatan dari orok, dan tinggal di kompleks yang sama. Dimana ada Esha, pasti juga ada Aksa, dan sebaliknya.
Mereka selalu terlihat bersama. Jika ditanya apakah Esha tidak pernah menaruh perasaan lebih kepada Aksa? Nyatanya Esha lebih menganggap Aksa itu seorang kakak, mengingat Esha anak tunggal di keluarga nya. Dan Aksa juga lebih tua satu tahun diatas Esha.
"Noh, dah sampai, jangan lupa belajar jangan cuma senyum-senyum kayak orang sinting gitu" Aksa menasehati Esha.
"Iya-iya, udah sana Lo balik ke kelas Lo." Usir Esha.
Aksa kembali ke kelas XII IPA 1 yang berada di lantai dua, sedangkan kelas Esha berada di lantai tiga tepatnya kelas XI IPS 3.
*******
Jam pulang sekolah telah berbunyi 15 menit yang lalu dan sekarang Esha tengah menunggu Gian untuk pulang bersama. Gian bilang agar menunggu nya sebentar untuk mengambil motor di parkiran.
"Duh, kok Gian lama sih?" Esha gelisah menunggu Gian yang sejak 10 menit lalu pergi ke parkiran.
"Apa gue susul aja kali ya?" Gumam Esha.
Esha melangkah kan kakinya ke parkiran, namun tak menemukan Gian di parkiran.
"Iih, Gian kemana sih?" Esha mulai kesal.
"Sha?" Panggil seseorang di belakang Esha.
"Maaf, nunggu lama ya, soalnya tadi vino manggil katanya ada yang penting." Lanjutnya.
"Iya, gak papa kok" Esha tersenyum manis. Mana sanggup Esha marah karena hal sepele kepada Gian. Melihat wajah ganteng dan senyum manis nya saja Esha sudah meleleh.
YOU ARE READING
End Of Waiting
Teen FictionMalam yang cerah jika tak dinikmati dan dimanfaatkan. Purnama bersinar di antara hamparan bintang yang berkelap-kelip di angkasa pura. "Huaa.. kenyang banget gue." Ucap Esha menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan. "Makasih ya Sa." lanjut Esha menep...
