***
"Mas, aku agak kurang nyaman kalau misalnya Edgar tinggal di sini lebih lama lagi," keluhku kepada Mas Jo. Kami sedang duduk santai di ruang tamu sambil menonton siaran televisi di sore hari.
Kopi yang kusuguhkan sudah berkurang setengah, cemilan di dalam toples juga menyusut. Kurasa, ini saat yang tepat untuk menceritakan kegundahanku pada Mas Jo. Mumpung kami sedang berdua.
"Bisa nggak, kamu menerima keluargaku. Jangan ngeluh terus," ketusnya.
"Bukannya ngeluh, Mas. Sebenarnya 'kan memang tidak boleh tinggal satu atap dengan ipar laki-laki, karena akan ada fitnah dibalik itu," ujarku memberi penjelasan.
"Halah, pikiranmu itu nggak asa yang beres ya. Memangnya kamu pikir Edgar itu siapa? Orang lain?"
"Dia memang adikmu, Mas, tapi dia bukan muhrim denganku. Lagipula aku dan dia sering berada di rumah berdua saat kamu kerja ... aku cuma nggak enak hati aja."
"Terus masalahnya apa? Kan aku sudah sering bilang sama kamu, anggap saudaraku sebagai saudaramu sendiri. Gitu aja kok nggak ngerti!"
"Tapi Mas...."
Mas Jo berdecak kesal. Ucapanku terputus karena ia menatapku dengan tatapan tajam yang menusuk. Jelas sekali bahwa ia terusik dengan keluhan yang kusampaikan.
"Kemarin kamu bilang nggak nyaman tinggal dengan ibuku. Sekarang nggak nyaman dengan adikku, besok siapa lagi dari keluargaku yang akan membuatmu tidak nyaman? Ayahku, kakek, nenek, bahkan seluruh saudaraku akan menjadi masalah untukmu!"
"Bukan begitu...."
"Apa lagi alasanmu, hah? Memang benar kata ibu, kau terlalu egois, ingin menang sendiri, juga serakah!"
Rasa nyeri menusuk-nusuk hatiku, sakit sekali rasanya dikatakan begitu oleh suami sendiri. "Kenapa kamu nggak pernah mau mengerti, Mas?"
"Apa lagi yang harus kumengerti, Citra? Apa menurutmu aku masih kurang pengertian?"
Aku menggeleng pelan, memejamkan mata demi meredam segala sesak di dalam hati. Mungkin, pengertian yang kuinginkan sepenuhnya berbeda dengan apa yang ia maksud.
Mas Jo bangkit setelah melemparkan remot tv ke sembarang arah, ia mengacak rambut dengan gusar. Tatapannya memandangku rendah, sinis dan juga kecewa.
"Aku bersedia pindah dari rumah orang tuaku sendiri setelah kau bertengkar dengan ibu, aku mengabulkan permintaanmu untuk tidak terlalu sering mengunjungi ibu, dan sekarang kau mengatakan bahwa adikku membuatmu tidak nyaman," Mas Jo berucap sambil berkacak sebelah tangan.
"Apa kau memang ingin membuatku menjauh dan terpisah dari keluargaku?" Tanyanya tajam.
"Tidak," jawabku dengan suara serak. Sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menjadi sejahat itu.
"Kalau begitu, jaga sikapmu! Terima aku dan keluargaku seperti aku menerimamu dengan tangan terbuka. Jangan egois, Citra. Aku bisa sukses seperti sekarang berkat keluargaku! Sedangkan kamu hanya perempuan asing yang kunikahi, jadi kau jangan menuntut terlalu banyak!"
"Aku mengerti kalau Mas ingin berbakti kepada ibu dan tetap berada di dalam lingkaran keluarga besarmu. Tapi tolonglah, pahami keresahanku kali ini. Sebaiknya Edgar tinggal bersama ibu saja," balasku memberanikan diri.
"Edgar akan tetap tinggal di sini!" Putusnya mutlak. "Kau tidak berhak mengatur keluargaku, kalau kau merasa keberatan, sebaiknya kau saja yang angkat kaki!"
Aku terhenyak dengan keterkejutan yang luar biasa. "Astaghfirullah, Mas. Harusnya kamu mempertahankanku, karena aku ini istrimu..."
"Lebih baik aku bercerai dengan istri sepertimu daripada harus berpisah dengan keluargaku!" Bentak Mas Jo.
YOU ARE READING
Setetes Noda
RomanceWarning!! Cerita ini mengandung unsur seksualitas yang berada di dalam rate roman dewasa. Tidak cocok untuk pembaca dibawah umur! Bijaklah dalam memilih bacaan! *** Bagaimana jika adik iparmu adalah orang yang paling menginginkanmu? Edgar adalah...
