Chapter 3

649 41 3
                                    

Kring..kring..kringgg

Alarm pengingatku berbunyi, aku segera menggapai ponselku dan mematikan alarmnya. Aku turun dari atas kasur dan berjalan perlahan menghampiri cermin oval yang tergantung disebelah lemari pakaianku.

Aku menatap pantulan diriku dicermin, seorang gadis dengan rambut cokelat dan mata biru yang terlihat sembab, mungkin karena kemarin aku terlalu banyak tidur.

Aku masih menatap wajahku di cermin lekat - lekat.

"Aku mirip mom, tentu saja aku manusia." gumamku pada diri sendiri sambil memegangi wajah.

Jika aku bukan manusia, apakah mom juga...

Aku segera menampar pipiku sendiri, walaupun aku tidak merasakan sakit setidaknya itu mengembalikan kewarasanku. Kemudian aku menundukkan kepalaku lemah lalu pergi menjauhi cermin.

                              @@@

Seperti biasanya aku melangkahkan kaki pelan diatas trotoar, mataku bergerak liar memperhatikan murid - murid lain yang berjalan berdampingan sambil bersenda gurau. Terlihat Gabriella berjalan dengan angkuh bersama beberapa gadis lain yang dengan setia membuntutinya.

Tiba - tiba Gabriella berhenti, ia mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan agar teman - temannya ikut berhenti. Ia menoleh kearahku sambil melipat kedua tangannya didepan perut.

"Hai.." sapa Gabriella saat aku melintas didepannya.

Aku menghentikan langkahku sebentar lalu menoleh kearahnya.

"Hai, Gab." balasku, kemudian kembali berjalan melewatinya.

Ia menatapku dengan tajam lalu tersenyum licik sambil mengibaskan tangannya. Gabriella dan teman - temannya pun kembali berjalan menuju kekelas dengan aku yang sudah mendahului mereka.

Aku memutar kenop pintu dan melangkah memasuki ruang kelas, semua yang ada disana langsung menoleh kearahku. Setiap langkah kaki dan gerak - gerikku tidak lepas dari pandangan mata mereka. Aku hanya membalas tatapan mereka dengan lirikan, kemudian aku berjalan kearah mejaku...

Mejaku? Dimana mejaku? Hilang??

Aku mengedarkan pandanganku keseluruh kelas, tanpa mempedulikan tatapan aneh dari mereka.

Dapat.

Tepat disudut kelas, aku melihat sebuah meja yang terbalik. Aku segera kesana dan membalik meja itu lalu membawanya keposisi semula.

Apa ini?

Mataku tak berkedip menatap meja itu, seseorang telah mencoret - coretnya menjadikan meja itu sangat kotor, sekotor tulisan yang tertulis diatasnya.

"Ck.ck.ck.ck apa ada masalah?" ucap Gabriella menepuk bahuku sambil mengerucutkan bibirnya.

"No, but thanks." balasku sambil menyingkirkan tangan Gabriella dari bahuku.

"Thanks?" ucapnya sambil mengerutkan dahi.

"Ya, terima kasih sudah menghias mejaku." ucapku sambil menaruh tas diatas meja.

"Oh" balas Gabriella singkat lalu ia berbalik.

"Lain kali kau tidak harus menghias mejaku, aku bisa melakukannya sendiri. By the way, aku yakin anak berumur 3 tahun bisa melakukannya lebih baik darimu." ucapku tak peduli.

Gabriella menghentikan langkahnya lalu kembali menghampiriku. Kami saling menatap cukup lama.

Ketika Gabriella hendak menamparku, tiba - tiba Mr. George masuk kekelas.

"Sit down, please!" ucap Mr. George.

Gabriella mendorong bahu kananku sambil berbisik "It's nothing."

Aku menoleh kearah Gabriella yang sudah duduk dikursinya sambil menatapku tajam.

"Eleanor, sit down please!" Ucap Mr. George menegurku.

Aku mengangguk lalu duduk dikursiku.

                              @@@

Bel berbunyi tanda jam pelajaran telah usai, aku memasukkan semua alat tulisku kedalam tas. Aku segera bangkit dari kursi dan meninggalkan kelas tanpa menghiraukan Gabriella yang memanggil namaku berkali - kali.

Aku berjalan menuju gerbang sekolah lalu mendapati pria kemarin sedang menunggu disana. Mungkinkah dia sedang menungguku?

Aku berjalan semakin mendekati tempat pria itu berdiri, tiba - tiba mata kami saling beradu. Aku mengabaikannya dan mempercepat langkah kakiku saat melewati pria itu.

Aku bersyukur ternyata ia tidak memanggilku, tapi tiba - tiba..

Aku mendengar seseorang berjalan dibelakangku sambil bersiul, apa dia mengikutiku?

Aku menoleh sekilas dan benar saja pria itu ada dibelakangku. Aku segera memperbesar langkah kakiku, ia pun mengikuti. Aku bergeser kekanan, ia juga masih mengikuti. Kemudian aku berbelok memasuki sebuah lorong yang aku sendiri tidak tahu akan menuju kemana, tapi.. dia masih mengikuti.

Aku menghentikan langkah kakiku, begitu juga dengan pria itu. Aku membalik badanku dan menatap wajahnya.

"Kenapa kau mengikutiku?" tanyaku datar.

"Aku ingin mulai dari awal, namaku Jade." ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya. Aku hanya diam sambil menatap tangannya yang terulur.

"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya tapi biarkan aku ikut bersamamu." ucap pria itu sambil menurunkan tangannya yang terulur.

"Ikut bersamaku? Maksudmu kau ingin aku membawamu kerumahku?" balasku.

Ia menganggukkan kepala dan kedua sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum.

"Wait.. jangan kira kalau ini mudah, Jade." ucapku datar.

Tapi ia hanya mengerutkan dahinya mengisyaratkan agar aku berbicara dengan jelas.

"Lihatlah, kau seorang pria.. mom akan membunuhku jika aku membawamu kerumah." kataku sambil melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Kulihat Jade memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membukanya sambil menjentikkan jari.

"Hewan apa yang paling ia sukai?"

"Maksudmu mom? "

"Ya"

"Kurasa anjing."

Jade mengangguk - angguk lalu mundur beberapa langkah.

Wushhh..

Jade menghilang digantikan oleh seekor kelinci mungil yang melompat kesana kemari.  Mungkin manusia normal akan berlari ketakutan melihat kejadian ini tapi tidak denganku. Aku berjongkok dan mengelus kelinci itu.

"Kau bodoh, ini kelinci bukan anjing." bisikku.

Wushhh..

Kelinci mungil itu berubah menjadi seekor kadal. Tentu saja aku langsung jijik dan mundur, tapi kadal itu malah mendekat.

"Kau kadal, aku bilang anjing." Kataku sambil mengibas - ngibaskan tangan agar ia menjauh.

Wushhh...

Kadal yang menjijikkan tadi berubah menjadi seekor anjing dalmatian yang sangat lucu. Aku menganggukkan kepala lalu membawa anjing itu pulang bersamaku.

Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan sekarang, tapi ada hal didalam diriku yang memaksa untuk mempercayainya.

>>>>>>>>>>>>>>♥♥♥<<<<<<<<<<<<<

Kayaknya makin hari chapter nya makin absurd... wkwkwkk:D

Note: jadilah readers yg baik tinggalkan jejak (vote & comment)

Diary of The WitchTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang