Chapter 1

1.6K 52 1
                                    

Aku berjalan pelan diatas trotoar bersama beberapa remaja lain seusiaku walaupun sebenarnya aku tidak mengenal mereka.

Aku berhenti sejenak lalu mendongakkan kepala sambil menatap gedung yang berdiri kokoh dihadapanku. Hari ini adalah hari pertama kami masuk sekolah setelah libur selama satu bulan.

What? Satu bulan?

Aku baru menyadari kalau libur satu bulan adalah libur yang terlalu panjang untuk musim dingin. Tapi harus bagaimana lagi, semua sekolah memutuskan untuk libur karena salju tahun ini turun sangat deras dan butirannyapun cukup besar sehingga menutupi semua permukaan jalan, jembatan dan rumah penduduk.

Suhunya semakin hari semakin menurun, terakhir kali kantor berita cuaca setempat melaporkan bahwa suhu diluar mencapai 5°C. Kau harus mengenakan pakaian berlapis dan mantel berbulu agar kau tidak mati kedinginan diluar sana. Setidaknya itulah yang dikatakan mom saat aku akan pergi ke supermarket seminggu yang lalu, tapi aku tak mempedulikannya. Aku hanya menoleh kearah mom sambil mengedikkan bahu tanpa ekspresi dan langsung pergi dengan mengenakan kaos hitam berlengan panjang serta celana jeans selutut. Aku rasa mom sudah mengerti.

Tiba - tiba bel tanda masuk berbunyi membuat pikiranku tentang mom buyar, semua murid yang tadinya tertawa riang terlihat berlarian memasuki gerbang sekolah. Aku melangkahkan kaki dengan santai sambil memperhatikan mereka yang berlari tergesa - gesa mendahuluiku. Beberapa gadis dibelakangku terdengar sedang berbisik, wait... sepertinya aku mengenali suara mereka.

Tepat sebelum aku menoleh, salah satu dari mereka menarik ikat rambutku sehingga membuat rambut cokelatku sedikit berantakan karena tertiup angin.

"Long time no see, Glinn. " ucap gadis cantik yang menarik ikat rambutku.

"Oh hey, Gabriella, Lucy and... Jenny? " balasku datar.

" No, I'm Jenna. " ucap seorang gadis dengan kesal, tapi aku tak menggubris ucapannya. Aku kembali mengalihkan perhatian pada gadis cantik yang bernama Gabriella.

"Gab, tolong kembalikan" pintaku sambil melirik ikat rambut yang digenggamnya.

"Oh c'mon.. ini hanya ikat rambut, Glinn." balasnya sambil tersenyum licik.

"Yup, tapi aku membutuhkannya sekarang. " kataku sambil menahan rambutku yang diterpa angin.

Gabriella mengangkat tangannya dan menggerak - gerakkan ikat rambut itu tepat didepan wajahku. Sedetik.. dua detik.. tiga detik bahkan hampir satu menit ia melakukan hal itu, tapi aku hanya diam sambil menatapnya. Akhirnya, ia kembali menurunkan tangannya sambil mendengus kesal.

"Are you stupid? " ucap Gabriella sambil menaikkan sebelah alisnya, sementara aku tetap menatapnya dalam diam.

Sebenarnya aku sedang berpikir bagaimana cara menanggapi Gabriella. By the way, aku rasa dialah yang terlihat bodoh sekarang.

"Okay, kau boleh menyimpannya." balasku sambil berbalik meninggalkan mereka.

"Shit.!!" umpat Gabriella sambil menarik ranselku. Seketika aku merasa badanku hilang keseimbangan dan aku jatuh terduduk ditrotoar.

"Lihat, Gab dia terjatuh." teriak gadis yang bernama Lucy. Senyum Gabriella langsung mengembang, lalu ia pergi bersama kedua temannya.

Aku masih terduduk diatas trotoar sambil memandangi punggung ketiga gadis tadi yang mulai berjalan menjauhiku. Aku menarik napas dalam - dalam lalu menghembuskannya dengan keras... aku diam menunggu reaksi yang akan terjadi, tapi tidak terjadi apa - apa. Aku sering melihat orang disekitarku melakukan hal seperti tadi maksudku menarik napas lalu menghembuskannya dengan keras, and...

Guess what?

Mereka akan berteriak dengan suara yang begitu kencang dan berlari mengejar orang seperti Gabriella, kurasa itulah yang disebut marah. Sayangnya aku tidak pernah tau bagaimana rasanya marah. Dan sepertinya aku harus menghapus hembusan napas yang keras dari daftar hal - hal yang dapat menimbulkan rasa marah karena sekarang aku sudah tahu kalau hal itu tidak termasuk.

Yup, kalian harus tahu bahwa sejak kecil aku sering memperhatikan orang - orang disekitarku. Aku akan mencatat hal - hal apa saja yang menyebabkan mereka tertawa, menangis, tersenyum ataupun marah. Seringkali aku berdiri lama didepan cermin untuk mempraktekkan berbagai macam ekspresi dan aku bisa. Dan lagi.. aku tidak tahu kapan seharusnya aku menggunakan ekspresi - ekspresi itu. Aku benar - benar tidak pernah merasakan apa - apa. Entah karena tuhan telah menakdirkan aku terlahir sebagai gadis bodoh yang tidak bisa mengontrol ekspresi wajah atau karena aku ini bukan bagian dari mereka? Who knows?

@@@

Aku berjalan melewati koridor yang sangat sepi, hanya langkah kaki dan deru napasku yang terdengar. Aku melirik jam merah muda yang melingkar dipergelangan tanganku, semua murid sudah masuk ke kelas 15 menit yang lalu.

Aku berhenti tepat diujung koridor, kemudian mulai melangkahkan kaki menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawaku kelantai dua. Setelah sampai di anak tangga terakhir, aku langsung memutar kenop pintu yang pertama kali terlihat.

Klik..

Pintu terbuka dan serentak semua pasang mata yang ada diruangan itu melihat kearahku, tapi aku tidak peduli. Aku melangkahkan kaki memasuki kelas dan berjalan kearah mejaku. Ketika aku hendak menarik kursi, tiba - tiba seseorang yang kukenal sebagai Mrs. Eva memanggilku.

"Eleanor Zee glinn.!!" panggilnya.

"Ya?" balasku sambil membalik badan dan menatapnya datar.

Kulihat Mrs. Eva diam sejenak mengatur napasnya, lalu kembali bicara

"Tidakkah kau merasa bersalah Glinn?" tanyanya dengan frekuensi suara yang semakin meninggi.

Aku masih dengan wajah datarku menggelengkan kepala pelan.

"Get out now..!" bentak Mrs. Eva sambil menatap tajam kearahku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Entahlah, tapi kurasa ia sedang marah padaku sekarang.

Aku hanya diam dan mengedarkan pandanganku keseluruh sudut kelas. Terlihat sebagian diantara mereka mulai berbisik, tersenyum bahkan Gabriella... tertawa?

"Glinn, now!!" ucap Mrs. Eva menyadarkanku sambil menunjuk kearah pintu dengan dagunya. Kali ini aku membalasnya dengan anggukan lalu berjalan keluar meninggalkan kelas.

Aku tidak tahu apa yang salah, tapi satu hal yang kutahu...

Aku harus menambahkan terlambat masuk kelas sebagai salah satu penyebab orang bisa marah dan tertawa.

OMG, Whatever !!?

>>>>>>>>>>>>>>♥♥♥<<<<<<<<<<<<<<

Hellooo readers...
Makasih ya udah mau buang2 wktu kalian cuma buat baca cerita aneh ini.
Maapin jg kalo cerita & bhs nya gaje, harap maklum soalnya masih pemula
wkwkwkk..

Buat yg suka sm cerita ini jgn lupa vomentnya (yg gk suka jg boleh)..

Janji deh bakal dilnjutin scpetnya, byebye:))

note: "jadilah reader yg baik, tinggalkan jejak (vote & comment)"

Diary of The WitchTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang