Ketemu

225 5 0
                                        

Pagi ini Bela sudah siap pergi ke sekolah. Kemeja di keluarin, lengan dilipat, sepatu asal pake, rambut dicepol asal, dan tas backpack kecil yang pasti isinya cuma buku tulis satu sama pulpen doang.

Dasarannnya badgirl ya, jalan santuy banget turun dari atas sambil nyanyi-nyanyi gajelas. Padahal sekarang udah jam 7.45 dan dia masuk sekolah jam 8.

"Bi, kak Dim-dim mana?"

"Oh den Dimas udah didepan non, lagi siapin motor" jawab Bi Siti.

"Ashiap bi, Bela berangkat dulu ya"

"Ga sarapan lagi non?"

Bela hanya menggeleng lalu berjalan santai menuju garasi. Benar saja Dimas sedang memanasi motornya. Dengan langkah seperti maling, Bela menghampiri Dimas. Baru aja mau ngagetin dan....

"Ayo berangkat, keburu siang" ujar Dimas lalu naik ke motornya.

Gagal aksi mengageti Dimas, Bela naik ke jok belakang dengan ogah-ogahan. Sekedar info, Bela dan Dimas ini satu sekolah. Sama-sama badnya Sma Rajawali. Bedanya Dimas lebih pinter daripada Bela yang gobloknya sampe ke urat-urat.

Mereka pun sampai disekolah setelah lima belas menit perjalanan. Dijalan pun Bela yang sukanya ngeluh pengen pulang itu sekarang diem kayak batu. Dimas juga sama, dia juga diem aja.

"Tumben lo diem, biasanya udah kek burung ngoceh-ngoceh gajelas"

"Suka suka gue! Mau gue ngoceh mau gue kicep suka-suka dong!"

"Oh"

Dasar emang si Dimas gak peka. Bela itu lagi kesel. Malah jawabnya cuma 'oh' doang. Harus dirayu nichhh.

"Yang" panggil Bela sambil bergelayut manja di lengan Dimas.

Dimas pun menghela napas. Ia tau kalau Bela merayunya. Ini bukan kali pertama. Hampir setiap hari Bela pasti merayunya. Entah untuk ngerjain prnya dia lah, beli camilan, pergi jalan-jalan,dll. Terus apa gunanya Bela punya pacar? Dijadiin patung gitu?.

"Uuuuuuh....ke kantin yuk lagipula tadi ada pengumuman digrup katanya jam pertama kosong buat rapat"

Melihat Bela sumringah Dimas pun semakin erat merangkul adik kesayangannya itu. Bagaimana pun Bela tetap orang ketiga setelah orang tua yang ia amat-teramat sayangi.

***

Ngantuk yang dirasakan Bela sekarang rasanya bukan main. Buat melek aja susahnya minta ampun. Mungkin efek tadi malem main dirumah pohon sama Varo. Youra teman sebangkunya tak henti-henti membisikkan sesuatu kepada Bela agar gadis itu tidak tidur.

"Hoam, pak saya izin ke UKS ya. Kepala saya pusing banget" tipu si Bela.

Pak Barun menatap Bela dengan tatapan tak percaya. Bela kan nakal dan suka boong.

"Boleh gak nih pak. Gak tahan ini, saya juga kebelet muntah...hoek"

"Eh iya-iya sana pergi ke Uks, daripada kamu muntah disini"

Gotcha! Bela pun berjalan dengan drama pegang kepala dan perut. Setelah melewati depan kelasnya, Bela berjalan dengan santai. Rambut yang ia cepol pun tergerai indah.

Dan sampainya di Uks. Entah ini kebetulan atau enggak, si Bela mergokin Gita lagi ciuman sama seorang cowok. Bela gak bisa liat wajah tuh cowok karena posisi dia munggungin Bela.

Ekhem

Mereka keliatan kaget. Bukan mereka sih, si Gitanya aja yang kaget. Sedangkan si cowok? Dia biasa aja malah menatap Bela dengan santai.

"E eh Bela, se sejak kapan lo disini?" tanya Gita gugup.

Bela gak jawab sama sekali. Malah dia jalan ke salah satu kasur yang berada tepat di samping mereka. Dengan santainya dia menutup tirai dan tidur disana.

Lagi asik-asiknya tidur, Bela ngerasa seperti ada yang ngeliatin. Perlahan Bela buka mata.

"AAAAA!!! Ngapain lo di atas gue?!" makinya.

"Gak boleh? Emang ini sekolah punya lo?"

"Felix?!"

Felix. Ya itu si Felix yang ada diatasnya. Dan yang tadi ciuman sama si Gita itu Felix. Setau Bela si Felix ini gak pinter-pinter amat. Mukanya lucu tapi suaranya manly banget.

Kring...kring...kring

"Minggir! Itu udah bel, gue yakin pasti kakak gue bakal dateng sama temennya"

Akhirnya si Felix nurut. Bela pun turun dari kasur setelah Felix. Tiba-tiba tangannya dicekal dan diseret lah itu Bela gak tau kemana. Mereka berdua pun jadi pusat perhatian. Semua tatapan dibalas pelototan sama Bela. Alhasil mereka semua pun kembali ke aktifitas masing-masing.

Jujur perasaan Bela sekarang antara pengen nampol dan rada takut. Pengen nampol karena seenak jidat Felix tarik-tarik anak orang. Dan rada takut nanti bakal diperkosa.

"Lix! Kita mau kemana si?"

Felix diem aja. Malah semakin erat genggam tangan Bela. Bela saja sampai meringis karena genggaman yang terlalu kuat.

***

Semenjak kejadian tiga hari lalu Bela jarang melihat Felix. Yang biasanya ada di Uks atau di labas (Lapangan Basket) pun sekarang udah gak ada.

Gak mau pikir panjang Bela melanjutkan aksi bolosnya. Dia biasa bolos di taman belakang sekolah atau Uks. Tapi sekarang lebih milih taman belakang sekolah. Tangan dan kaki indahnya berusaha memanjat salah satu pohon besar disana.

Lelah sekali ia dengan hidup ini. Meskipun ia masih ditemani kakaknya, tapi rasanya tetap beda. Ia ingin berkumpul dengan keluarganya. Sejak bayi saja sudah bersama Bibinya. Orang tua yang workaholic benar-benar membuatnya kesepian.

-

-
-

TBC

F E L I XCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang