PROLOG

67 17 35
                                        

Kita pernah saling menggenggam, mengisi kekosongan celah jemari

Kita pernah dilingkupi rindu yang menghujam, membuat sesak sekali

Kita pernah saling bercerita hingga lupa waktu, seakan tak ada esok untuk bertemu

Kita pernah saling memiliki rasa yang menggebu, hingga jantung bertalu talu

Kita pernah berbagi tawa, hingga keluar air mata

Kita pernah saling bahagia, meski tak berlangsung lama

Karena kini, semua itu hanya sebatas pernah
Tak mungkin terulang, walau rasa ingin ini tak berkesudah

-Ai


Menghela napas berat, Ai menutup diary miliknya. Suara bangku berderit, Ai berdiri dan melangkahkan kakinya menuju balkon kamar. Dilihatnya langit malam yang begitu indah, berbeda dengan hatinya yang resah.

Matanya menerawang, melihat rumah mewah disamping rumahnya. Bukan, bukan rumahnya yang di lihat Ai, tapi seorang lelaki yang kini sedang asik mengobrol dengan pak satpam di pos. Entah sedang membicarakan tentang apa, keduanya kini tertawa.

Terlalu sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk, hingga Ai tak sadar lelaki itu kini menatapnya balik. Mata mereka bertemu, memunculkan buih buih rindu dihati Ai.

Tak cukup dengan menatap, lelaki itu kini tersenyum. Mau tak mau Ai membalasnya-dengan senyum tipis. Angin malam berhembus, dinginnya menusuk kulit-seolah semesta sedang mengejek Ai, mengingatkan bahwa Ai dan lelaki itu berbeda.

Iya, kita berbeda.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 23, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Sebatas PernahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang