Kita pernah saling menggenggam, mengisi kekosongan celah jemari
Kita pernah dilingkupi rindu yang menghujam, membuat sesak sekali
Kita pernah saling bercerita hingga lupa waktu, seakan tak ada esok untuk bertemu
Kita pernah saling memiliki rasa yang menggebu, hingga jantung bertalu talu
Kita pernah berbagi tawa, hingga keluar air mata
Kita pernah saling bahagia, meski tak berlangsung lama
Karena kini, semua itu hanya sebatas pernah
Tak mungkin terulang, walau rasa ingin ini tak berkesudah
-Ai
Menghela napas berat, Ai menutup diary miliknya. Suara bangku berderit, Ai berdiri dan melangkahkan kakinya menuju balkon kamar. Dilihatnya langit malam yang begitu indah, berbeda dengan hatinya yang resah.
Matanya menerawang, melihat rumah mewah disamping rumahnya. Bukan, bukan rumahnya yang di lihat Ai, tapi seorang lelaki yang kini sedang asik mengobrol dengan pak satpam di pos. Entah sedang membicarakan tentang apa, keduanya kini tertawa.
Terlalu sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk, hingga Ai tak sadar lelaki itu kini menatapnya balik. Mata mereka bertemu, memunculkan buih buih rindu dihati Ai.
Tak cukup dengan menatap, lelaki itu kini tersenyum. Mau tak mau Ai membalasnya-dengan senyum tipis. Angin malam berhembus, dinginnya menusuk kulit-seolah semesta sedang mengejek Ai, mengingatkan bahwa Ai dan lelaki itu berbeda.
Iya, kita berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebatas Pernah
Teen FictionKini, semua itu hanya sebatas pernah Walau rasa ingin mengulang tak berkesudah ----- Berbeda. Satu kata yang mempunyai banyak makna. Satu hal yang membuat kita tak dapat bersama
