Prolog

3.5K 170 42
                                        

Selamat membaca

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Selamat membaca

Letta mundur teratur seraya memasang wajah melongo. Gadis itu terus saja menatap cowok di depannya tanpa berkedip sama sekali. Di lapangan luas SMA Bintang, pertama kalinya Letta berhadapan dengan cowok yang menjadi pujaannya dari pertama menjadi murid baru.

Letta tentu saja tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan ketua OSIS yang banyak penggemarnya itu. Karena bertemu dengan cowok itu sama sekali tidak mudah menurut seorang Letta. Letta tahu betul kesibukan ketua OSIS sekolahnya itu bukan main. Apalagi mengingat jika dirinya tidak mengikuti ekstrakurikuler apapun dan tidak punya alasan untuk menemui si Ketua OSIS.

Dan entah keajaiban dari mana, setelah mengagumi dari kejauhan, dan berusaha untuk bertemu dengan ketua OSIS SMA Bintang, akhirnya keinginan seorang Orchidia Sharletta terwujud. Letta sangat bahagia.

Letta mengerjapkan matanya dua kali ketika Razzan -- ketua OSIS -- perlahan mendekatinya dengan senyum manis yang selalu membuat Letta merasa terbang ke langit. Meskipun amat gugup tapi Letta membalas senyuman semanis madu milik Razzan. Kembali, Letta merasa bahagia mendapatkan senyum gratis dari cowok yang di sukainya.

Mimpi apa gue semalem bisa dapet senyum Kak Razzan?!

Omoo! Tolong jangan bangunin gue kalo ini cuma mimpi!

Tenang, Letta, tenang. Ini nyata, bukan khayalan atau mimpi!

"Orchidia Sharletta."

Memang berlebihan tapi Letta cukup terkejut mendengar namanya di ucapkan oleh Razzan dengan suara lembut cowok itu. Pipi nya merona karena salah tingkah di tatap lekat oleh Razzan. Letta tidak kuat, Letta ingin pergi saja dari sana!

"Gak usah gugup gitu, Let," ucap Razzan sambil terkekeh geli. Letta menggaruk hidungnya canggung.

"Em, enggak kok Kak. Oh ya, Kak Razzan ngapain di sini?" tanya Letta mencoba untuk tidak gugup.

Dan kenapa cara bicaranya jadi berubah manis begini! Bukan Letta banget.

Razzan mencondongkan tubuhnya sampai wajah cowok itu berada tepat lima centi di depan wajah Letta yang sudah mememerah seperti tomat busuk. Letta menahan nafas ketika nafas Razzan menerpa permukaan kulit wajahnya.

"Kak, jangan deket-deket, agak jauhan." Letta mendorong kening Razzan sehingga membuat wajah cowok itu menjauh. Barulah Letta bisa bernapas dengan normal lagi.

"Kenapa sih? Lo gugup atau salting"

Dua-duanya!

"Apaan deh kak Razzan. Aku gak gugup kok, hehe," ucap Letta manis. "Kak Razzan belum jawab pertanyaan aku. Kakak ngapain ada di sini?"

Razzan memalingkan wajahnya ke samping kanan, menahan senyum lebarnya. Kemudian cowok itu kembali menatap lekat gadis mungil di depannya.

"Mau ketemu lo. Liatin lo dari deket. Liat wajah cantik lo lebih lama. Dan..." Razzan sengaja menggantung ucapnya untuk membuat Letta penasaran.

Letta mengigit bibir bawahnya kuat tak peduli jika ia terlalu keras menggigitnya. Jantungnya mulai berdebar liar membuat Letta berpikir jika jantungnya sebentar lagi akan copot dari tempatnya.

Jangan sekarang, gue gak siap!

Tarik napas lalu buang. Huftt.

INI KAK RAZZAN MAU NEMBAK GUE APA?!

INI BUKAN MIMPI KAN?!

Tepukan di pipinya membuat Letta tersadar. Ternyata ini nyata dan bukan mimpi. Razzan di depannya tersenyum lebar.

"Kak Razzan gak usah senyum gitu deh! Tau gak sih aku tuh lemah!" ucap Letta memberenggut.

"Gue juga lemah kok, Let. Gue lemah kalo deket sama lo terus. Tapi, jauh dari lo sama aja buat gue berhenti bernafas."

"Maksud Kak Razzan apa ya?" tanya Letta pura-pura tidak mengerti.

Razzan menghela napas panjang lalu memegang kedua tangan Letta dengan lembut membawanya ke dada bidangnya.

"Lo rasain irama jantung gue debarannya kenceng banget. Ini ketika gue deket sama lo, Let." Tangan kanan Razzan mengusap pipi chuby Letta. "Dan lo tau apa artinya?" Letta menggeleng.

"Gue suka sama lo, Orchidia Sharletta."

Plak

"LETTA! LETTA! LETTA! LO NGELAMUNIN APA WOY!"

Letta tersentak dan langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah. Oh tidak! Kenapa Letta tidak berada di lapangan dan malah terjebak di toilet siswi sambil memegang alat pel-an. Lalu, dimana Razzan? Kenapa cowok itu tidak ada bersamanya?

Letta menurunkan bahunya lesu. Berkhayal lagi. Berarti yang tadi itu hanya sebatas khayalannya saja? Oh Letta, kenapa bodoh sekali. Sudah jelas jika tadi hanyalah khayalan belaka.

"Kita ngapain ada di sini, Ta?" tanya Letta menatap Thalita, sahabatnya.

Thalita mendengus geli lalu sedetik kemudian terbahak melihat eksperi linglung Letta.

"Lo gak inget emang?" Thalita balik bertanya. Letta menggeleng pelan.

"Kita kan di hukum sama Pak Dadang dan semua itu gara-gara lo yang tidur di kelas. Tapi gue kena imbasnya," ucap Thalita lalu mendesis.

Letta menepuk keningnya lalu cengengesan tak jelas. "Kok gue gak ingat ya? Terus Kak Razzan mana, Ta? Kenapa gak ada di sini?"

"Hah, Kak Razzan? Sejak kapan Kak Razzan ada disini, Let? Lo ngigo ya? Oh bukan, lo pasti tadi ngelamunin Kak Razzan ya? Pagi-pagi udah ngehalu aja lo, Let!" Thalita tertawa terbahak-bahak.

Letta meringis malu. Lagi-lagi ia melamun tidak tahu tempat. Ngelamunin Razzan lagi.

"Dasar tukang halu!" cibir Thalita gemas. "Udah yuk ah kantin aja, gue laper. Lo juga butuh tenaga buat lanjutin ngehalu, Let."

Letta mengikuti Thalita keluar dari toilet siswi dengan wajah bodohnya. Moodnya sekarang menurun drastis.

Dasar tukang halu.

~'Halu'~

Orchidia Sharletta

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Orchidia Sharletta

HaluWhere stories live. Discover now