satu

33 11 6
                                        

Derap langkah kaki yang kian menjauh langsung membuat Ren menghembuskan nafas yang sempat tertahan. Sedih. Ia harus terisolasikan dari kehidupan. Dikurung layaknya sandera di ruang sempit nan lembab membuatnya harus memikirkan rencana matang-matang supaya bisa keluar. Sudah sejak lama ia mencoba mencari cara agar bisa kabur dari sini. Namun hasilnya tetap nihil. Dan akhirnya, ia harus dikurung di ruang isolasi dengan tali yang menyimpul indah di tangannya.

Tahanan? Bukan. Ia hanya sandera yang terlalu disayangi sehingga mendapat perlakuan khusus layaknya tahanan yang mendapat hukuman seberat-beratnya. Ia tak tahu mengapa ia bisa terjebak diantara para manusia yang gila kekuasaan ini. Apakah orang tuanya kaya? Mungkin itu juga bisa dipertimbangkan. Tapi orang tuanya mana mau memberikan sebagian hartanya untuk membebaskannya. Mungkin orang tuanya malah senang karena tak ada lagi yang akan mengusik pekerjaannya. Apalagi ini berhubungan dengan pemerintah.

Apakah ia pintar? Bila pintar itu sebagai juara pararel sekolah jelas tidak. Boro-boro juara pararel, mendapat peringkat sepuluh di  kelas saja tidak mungkin. Atau pintar sebagai orang yang betah berjam-jam di depan komputer? Itu sama sekali bukan dia. Melihat komputer saja rasanya seperti mendengar penjelasan sejarah dari Bu Ratih. Sangat membosankan. Walaupun disekolah diajarkan pemrograman, namun tetap saja ia tidak bisa.

Apakah ia mengetahui suatu rahasia besar? Yahh, tepat sekali. Ia dengan keberuntungan nya terjebak dalam ambisi orang-orang haus kekuasaan ini. Dengan tanpa berdosa nya, ia mendengar sebuah rencana jahat orang-orang yang ingin menguasai negara. Hebat bukan? Untuk mencegah terjadinya kebocoran rencana, ia harus mendekam di kamar sempit minim cahaya ini. Padahal, jika ia dibebaskan pun ia tak kan berteriak bahwa si x akan menguasai negara. Ia masih waras, dan siapa juga yang ingin dikatai gila.

Gila. Ia tidak di bunuh melainkan di sandera. Padahal orang-orang haus kekuasaan itu tidak segan-segan membunuh siapapun yang menghalangi mereka. Untung saja tidak ada bukti bahwa ia mengetahui rencana terselubung para penguasa negara. Walaupun menahan siksaan berat saat interogasi, ia tetap akan bungkam. Ia masih sayang nyawanya. Ia tidak akan mati semudah itu.

Selagi merenung, Ren memandang nanar jendela kecil di pojok ruangan. Satu-satunya ventilasi yang tersedia. Gelap. Hanya cahaya matahari lah yang membuat ruangan ini sedikit terang. Lampu? Mereka tak kan repot-repot membuang-buang listrik untuk satu tahanan tak berarti ini.

Ruangan ini sungguh tak layak huni. Tak ada kasur maupun alas tidur. Hanya ada sebuah selimut tipis yang tak mampu menghalau dinginnya malam. Walaupun begitu, ia tetap tidak bisa memakai selimut. Sungguh beruntung seorang Ren Evoliando. Remaja tampan yang belum genap 18 tahun ini harus melewati masa-masa SMA nya di ruangan isolasi.

Sudah lebih dari tiga minggu ia disini. Sehari sekali ia akan diberi makanan dan minuman. Setiap seminggu sekali ia akan dibawa ke ruang interogasi untuk diinterogasi. Dan setiap diinterogasi pasti akan mendapatkan luka baru. Setelah itu beberapa orang medis akan membersihkan luka supaya tidak infeksi. Itulah mengapa ia akan susah tertidur. Menyenangkan bukan?

Bosan. Tentu tidak, ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk melamun. Ia berpikir keras untuk kabur dari tempat ini. Ini neraka baginya. Padahal ia bukan lah anak yang suka berbuat onar dan selalu patuh kepada orang tuanya.

Gemersak kunci terdengar riuh. Sebentar lagi ia akan mendapatkan tato baru. Kali ini ia akan melakukan perlawanan lagi. Mungkin sudah ke 5 kalinya sejak ia dibawa ke sini. Bila ini gagal ia akan menerima takdirnya berada di kegelapan seperti ini.

Sesaat setelah pintu terbuka, seorang petugas laki-laki masuk dan menuntun Ren untuk keluar dan yang lain menunggu. Ia akan memberontak. Akan ada  perlawanan dan kekerasan. Ia telah mempersiapkan ini rapi-rapi. Walaupun ia buruk dalam pelajaran, ia maniac nya senjata dan pergulatan. Ia benar-benar menyukai seni bela diri dan persenjataan sejak masih TK. Dan beruntung nya ia selalu mendalami itu.

light in the darkWhere stories live. Discover now