🌊 (log 25 + log 5 + log 80) + 13

590 100 107
                                        

» [Ysabelle - I Like You So Much, You'll Know] «

✧ ⠀ ⠀

0:00 ─〇───── 3:13

⇄ ◃◃ ⅠⅠ ▹▹ ↻





𝐒 𝐞 𝐥 𝐚 𝐦 𝐚 𝐭
✨ 𝐦 𝐞 𝐦 𝐛 𝐚 𝐜 𝐚 ✨





Vanilla mengembuskan napas lega setelah ia berhasil keluar dari lingkungan sekolah.

Setelah ia berhasil melewati puluhan pasang mata yang memperhatikan setiap langkahnya, yang kemudian membuat gosip-gosip baru tentang Vanilla Addara Marwanda, anak penerima beasiswa yang berani menampar putri ketua komite sekolah.

Ia bersyukur karena Biru tiba-tiba menawarkan tumpangan. Jadi ia tidak perlu naik angkot dan kembali mendapati pemandangan di mana anak-anak Harba yang kebetulan satu angkot dengannya terus-menerusnya menatapnya.

Bahkan dirinya tidak berani berpikir tentang apapun sampai ia aman di dalam mobil Biru, di depan sekolah. Ia tidak berani berhenti bergerak, apalagi menoleh sampai ia bisa menenggelamkan diri ke jok depan dengan pintu tertutup.

Tentang omongan anak-anak lainnya yang terdengar samar-samar di telinga Vanilla. Astaga, itu benar-benar membuat Vanilla geram.

Lagipula, kenapa ini terkesan begitu tidak adil baginya?

Kenapa semua orang hanya membicarakan Vanilla?

Bagaimana dengan Amber? Bahkan, reputasi gadis itu baik-baik saja sampai detik ini.

Mengenai dua tamparan Vanilla siang ini, mungkin itu tidak akan terjadi jika Amber tidak coba-coba memfitnah dirinya dan keluarganya.

Tapi ya, apa daya bahwa yang punya uang dan kekuasaan akan selalu menang, apalagi untuk urusan kecil seperti ini.

"Jalan," kata Vanilla dingin.

"Lo tahu rumah gue, langsung pulang."

Entah mengapa Vanilla bisa berkata demikian di hadapan seorang Biru Sakala Dewa. Terkesan memerintah, bahkan dalam situasi di mana mereka berdua belum saling mengenal dengan baik. Namun, ini benar-benar di luar kontrol gadis itu. Ia berharap, Biru mampu memakluminya.

"Kenapa?" tanya Biru.

"Apa yang terjadi di dalam?"

"Gue ambil tas dan jalan ke sini," jawab Vanilla diakhiri helaan napas berat.

"Jalan aja."

"Ya lo dari mana aja? Lama banget," imbuh Biru.

"Jalan aja!" desak Vanilla.

"Bi, tolonglah..."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Biru langsung tancap gas dan mereka berdua melaju cepat meninggalkan lingkungan sekolah.

Sesekali, ia melihat raut wajah gadis di sebelahnya yang terlihat sedang sedih. Ia ingin membantu, atau setidaknya menghibur, namun ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya.

Mungkin sepulang dari rumah Vanilla, ia akan mampir ke toko buku untuk mencari buku yang memuat berbagai tips menghibur seseorang.

Astaga, ridiculous.

"Lo kenapa buru-buru gitu jalannya?" tanya Biru di tengah perjalanan.

Sementara itu, Vanilla tidak menjawab. Ia sibuk melihat ke luar jendela, entah pemandangan apa yang ada di balik sana.

VANILLABLUETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang