PROLOG

47 23 10
                                        

         Semua kisah akan menjadi sejarah ..
      Sejarah akan dikenang sepanjang masa ..
  Masa kan membuat orang membicakannya ..
   Membicarakan cerita yg sudah berlalu ..

       ~~~Raida Shakila Safa~~~



"Raida Shakila Safa"

Tepuk tangan yang saling bersahutan, memenuhi ruangan yang luas ini. Tatapan kagum beserta senyum mengembang dari audiens, menjadi gambaran bahwa mereka sangat kagum terhadap sesosok Wanita berhijab yang sedang berjalan dengan anggunnya di depan sana.

Mata yang berseri-seri dan senyum yang tak pernah lepas serta Puji dan Syukur selalu terucap dari bibirnya. Dia tidak percaya atas apa yang didengar dan dilihatnya.

Pembawa acara beserta Para Petinggi memberikan selamat padanya. Raida Shakila Safa atau akrab dipanggil Kila, adalah seorang Wanita cantik berhijab asal Indonesia yang fasih berbahasa asing serta memiliki beragam kelebihan lainnya. Dibalik segala pujian itu, tidak membuatnya menjadi tinggi hati. Kila tetap menjadi seorang yang rendah hati, lemah lembut, dan sopan.

Sosok istri dan menantu idaman, namun sayang Kila sudah memiliki tambatan hati. Yang selalu menemani dan mendukungnya, kapanpun dibutuhkan.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah hirabbil a'lamin. Saya tidak menyangka akan berada disini dan mendapatkan penghargaan besar ini. Saya ucapkan begitu banyak terimakasih kepada kalian yang mendukung saya selama ini." Tatapannya mengelilingi gedung, berhenti pada seorang Pria yang sedang tersenyum padanya "Tentu dengan Ridho Allah dan Ridho orang tua, semuanya bisa tercapai. Melewati masa-masa sulit yang begitu melelahkan namun berkesan, menjadi sebuah kenangan yang sulit dilupakan. Seseorang bertanya pada saya, mengapa segala sesuatu yang saya kerjakan serasa dipermudah? Satu, dekatkan diri dengan Tuhanmu. Dua, minta Ridho orang tua serta bahagiakan mereka. Maka InsyaAllah, semuanya akan mudah." Mata Kila berkaca-kaca dikalimat terakhir, sungguh ia tak sanggup melanjutkannya. Kila menatap lama sebuah kursi kosong dengan name tag, Muhammad Safa----Almarhum ayahnya. "Bahagiakan mereka selagi kalian masih bisa melihatnya, seseorang akan terasa berharga setelah ia tiada." Air mata itu jatuh dari pelupuk matanya, membuat sebuah sungai kecil di pipinya. Memejamkan mata, berusaha mengusir luka yang mengaga.

Semua audiens bisa merasakan sedih yang begitu dalam yang dirasakan Kila. Sosok Kila yang mereka kenal adalah sosok yang murah senyum dan selalu berhasil membuat orang tertawa, namun sekarang Kila yang mereka lihat adalah sosok wanita rapuh yang dipenuhi kesedihan atas kehilangan orang tersayang.

"Maaf, bila saya merusak suasana. Saya hanya teringat dengan cinta pertama saya, sosok yang sangat berarti. Beliau mengajari saya menjadi seseorang yang mandiri, tidak pantang menyerah, dan kuat... Sosok yang tidak pernah memperlihatkan air matanya, seseorang yang kepulangannya sangat ditunggu. Ayah akan terus tersenyum didepan anaknya, ia tidak ingin menunjukkan letih dan lelahnya bekerja. Ia bahkan rela berkorban demi anaknya, sedangkan kita?? Mengatakan terimakasih saja jarang. Jangankan terimakasih, memeluknya pun hanya saat-saat tertentu. Ayah dulu pernah berjanji pada saya bahwa beliau akan datang menghadiri acara pascasarjana dan membelikan apapun yang saya minta, namun Allah sangat menyayanginya... Jika boleh meminta.. Saya hanya ingin... melihatnya, memeluknya.. Ayah Kila sekarang sudah besar, putri kecilnya ayah. Impian ayah sudah terwujud, aku rindu ayah." Kila mencoba tersenyum disela tangisnya "Terimakasih ayah dan maaf bila mengecewakanmu, aku sayang ayah." Kila membungkukkan sedikit badannya dan memberikan senyuman tulus.

Kila turun dari podium, berjalan dengan tangan yang menghapus sisa airmata. Setiap langkahnya mendapatkan sebuah sorak-sorai dari audiens, seakan menguatkan Kila. Kamu tidak sendiri---seperti itulah kalimat yang diucapkan.

Tepat sesaat sebelum melewati kursi untuk sang Ayah, Kila terhenti. Disana, Kila melihat ayahnya sedang tersenyum begitu lebar padanya serta memberikan jempol yang diacungkan padanya. Hal yang selalu dilakukan sang Ayah untuk menyemangatinya, Kila hanya tersenyum sendu.

Aku rindu ayah

Kila mengatakannya dalam hati berharap ayahnya mendengarnya di Surga.

"Sayang" Sebuah pelukan hangat menyadarkan Kila.

"Hm?" Kila menoleh, mendapati sang Suami---Raihan Dhabit Uwais yang akrab dipanggil Raihan---sedang tersenyum begitu teduh kepadanya.

"Kamu wanita yang hebat dan kuat." Tangan besar nan kasar itu singgah di pipi Kila, jarinya menghapus aliran sungai yang mulai mengering. "Nanti kita jenguk ayah, ya. Sudah lama tidak kesana, nanti ayah kangen."

Terdengar kekehan lirih disertai anggukan dari Kila "Iya. Aku juga kangen sama ibu."

Hentikan!Where stories live. Discover now