Rayhan

26.5K 164 8
                                        


Dengan kesal Yana menghentakkan kaki, sambil menyumpahi lelaki yang dari tadi ia tunggu.

"Katanya gak lama, ini udah sejam lebih. Ihh sebel!!!" Hati dan fisiknya mulai panas, karena lelaki yang memintanya menunggu depan gerbang tak kunjung datang. Peluh keringat tak habis mengalir karena cuaca yang cukup terik. Seragam SMA yang ia kenakan juga mulai basah, tampak jelas bagian ketiak.

"Maaf", mendengar suara itu ia menoleh ke belakang dan menatap lelaki yang satu jam terakhir ia tunggu.

Yana yang beberapa detik menatap sang lelaki terkejut, dengan wajah babak belur dan darah mengalir di sudut bibir.

"Kamu habis ngapain Han, kenapa muka kamu babak belur gini? Jangan bilang kamu berantem lagi sama temen kamu? "

"Diem!"

Yana bertambah kesal mendengar Rayhan mengucapkan kata sakral itu. Dia hanya bisa menghentak kakinya, meluapkan kekesalannya.

"Pulang sekarang, obatin aku." Rayhan berucap seraya menarik tangan Yana, agar mengikuti langkahnya menuju motor Rayhan diparkiran.

"Iya... Iya...  Tapi jangan tarik-tarik aku bisa jalan sendiri! " Yana kesal dengan tingkah otoriter Rayhan. Rayhan yang sedari tadi menarik tangan Yana tersenyum kecil ketika mendengar jawaban Yana.

Setelah beberapa menit menunggu motor Rayhan keluar dari pelataran parkir, akhirnya Yana bisa mendengar suara deru motor. Yap, bukan motor sport yang seperti kalian bayangkan, hanya motor matic Beat memang. Tapi itu permintaan Yana agar membawa motor matic saja. Jangan dikira Rayhan hanya orang sederhana, tidak. Ia anak orang kaya yang membawa mobil mewah pun sanggup. Tapi ini permintaan sang kekasih sendiri, Yana. Alasannya memang tak masuk akal. "Yana suka mabuk kalo naik mobil."

Karena malas meminta kepada ayahnya, motor Beat milik bundanya, ia minta dan tukar dengan mobil sport miliknya. Bundanya yang terlalu kaget kelakuan anak semata wayangnya hanya menganggukakn kepala dengan segala pikirannya.

Rayhan yang tau pacarnya sudah malas menunggunya, langsung memasangkan helm ke kepala Yana, dan hanya sedari tadi membuang muka kaget melihat perlakuan kekasihnya.

"Naik."

"Iya.. " Yana yang sedari tadi kesal langsung naik. Memegang kedua ujung samping seragam Rayhan agar tak jatuh. Tetapi langsung saja Rayhan tarik tangan Yana dan lingkarkan sekitar perutnya.

Semilir angin sore membawa Yana merasakan kantuk. Kepalanya ia senderkan ke punggung tegap sang kekasih. Rayhan yang merasakan kepala Yana bersender di punggungnya hanya tersenyum kecil.

"Udah nyampe." Rayhan memberhentikan motornya ke halaman rumahnya yang cukup luas dan asri. Ia turun dari motornya, dan langsung melepas helm yang dipakai Yana. Yana yang masih mengantuk hanya diam.

"Rumahmu kok sepi?"

"Bunda mungkin masih di butik, Ayah baru pulang nanti malem."

Yana yang mendengarkan hanya menganggukakn kepala seraya berucap oh

Rayhan menarik tangan Yana agar masuk rumah besarnya. Membawa Yana naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Kemudian mendudukan Yana dipinggir kasur. Meninggalkannya sebentar untuk mengambil kotak P3K

"Obati aku" Sambil menyerahkan kotak yang tadi ia ambil dari dalam lemari

"Han.. Ha...  Kenapa sih suka banget berantem, gak suka aku ihh.. Muka kamu yang ganteng jadi bonyok gini!" Ucap Yana seraya membersihkan darah mengering yang ada di sudut bibir dan mengoleskan salep bewarna merah ke pipi Rayhan.

Rayhan hanya diam, menatap manik bola mata Yana yang bewarna cokelat muda, menatap Waah Yana yang cantik dengan bulu mata tak terlalu lentik tetapi panjang, hidungnya yang tak terlalu mancung seperti beda dengan miliknya yang mancung, bibir, pipi Yana bahkan jerawat yang tumbuh satu dua di jidat Yana, ia tak mau melewatkan momen ini. Bahkan kao perlu ia rela babak belur setiap hari demi melihat wajah Yana dengan dekat seperti ini.

OneshootStories to obsess over. Discover now