1. prolog

657 35 1
                                        

"sialan! Dasar gadis kampung!"

"Gak punya malu"

Perkataan demi perkataan kembali terputar di otak gadis tersebut, seakan kejadian itu benar benar kembali menimpa diri nya. Kaki nya di tekuk bersama dengan badan mungil dan rambut nya di biarkan berantakan hingga menutupi wajah lugu nya.

Sekarang dia sedang berada di rooftop sekolah nya, tempat biasa dia menenangkan diri, tidak! Lebih tepat nya tempat dia menangis.

Angin yang berhembus kencang seakan mengerti perasaan gadis tersebut, setelah merasa puas menangis dia mengangkat kepala nya, memaksakan tersenyum untuk menyembunyikan luka nya.

Pukul 5 sore. saat itu sekolah sudah cukup sepi, seluruh siswa sudah bubar dan kembali kerumah masing masing dari 2 jam yang lalu. Anya berjalan turun dari rooftop menuju kamar mandi untuk membasuh muka nya yang sembab. Di belokan depan perpustakaan anya tidak sengaja menabrak siswa yang baru keluar dari perpustakaan itu..

Anya mengernyit heran, sudah sore begini biasanya hanya anya siswa yang pulang nya paling akhir.

"Eh maaf" Anya menatap laki laki tersebut yang masih membelakangi diri nya. Tanpa mendapat jawaban laki laki tersebut langsung berjalan ke arah parkiran.

"Kok di diemin, jangan jangan dia marah sama anya" Anya langsung mempercepat langkah nya tidak mau mengingat kejadian tersebut karena langit juga sudah mulai mendung dan dia lupa membawa jas hujan.

Saat ingin berjalan ke parkiran ternyata hujan turun sangat deras secara tiba tiba, Anya terpaksa harus lari ke parkiran dengan menutup kepala nya menggunakan tas.

Seluruh kegiatan anya tidak lepas dari pandangan laki laki tersebut, melihat perempuan mungil berlari larian dengan menaruh tas di kepala membuat laki laki itu sedikit tersenyum.

"Yaampun giliran anya bawa jas hujan malah ga hujan, giliran lupa bawa malah hujan, mana deres banget" ucap Anya yang menggerutu ketika sudah sampai di parkiran sambil membersihkan jok sepeda nya yang Kotor.

"Mau sampe kapan nunggu disini? Kayanya hujan nya bakal sampe malem" ujar lelaki tersebut yang berdiri tidak jauh dari tempat anya berdiri.

Anya kaget mendengar suara itu, dia sedikit lega ternyata dia tidak sendiri, masih ada yang terjebak hujan juga disini, tetapi lelaki tersebut memegang jas hujan di tangan nya, kenapa tidak langsung pulang? Oh shit, anya mulai kegeeran.

"Aku lupa bawa jas hujan, lalu kamu kenapa ga pulang? Bukannya bawa jas hujan"

Laki laki itu hanya menggeleng gelengkan kepala nya.

"Lo boleh pake jas hujan gue kalau lo mau"

"Gak usah, nanti kamu pulang gimana"

"Lo yang lebih butuh jas hujan ini, gue bawa motor jadi bisa ngebut"

Anya melirik jas hujan tersebut, dia sangat butuh jas hujan karena tidak ingin bermalaman di sekolah hanya untuk menunggu hujan reda.

"Ambil aja"

Dengan ragu anya mengambil jas hujan itu dari tangan lelaki tersebut.

"Aku janji besok bakal balikin jas hujan ini, Dan sebelumnya jas hujan nya bakal aku bersihin dulu"

" Terserah lo "

"Oh iya nama kamu? Supaya besok aku gampang balikin nya"

"Arlan 12 MIPA 2" ucap arlan dan setelah itu langsung membawa motor nya menjauh dari parkiran SMA GARUDA

"Terimakasih arlan, kamu orang pertama yang udah baik sama aku di jakarta" ucap anya setelah itu dia memakai jas hujan yang besar tersebut hingga menutupi seluruh badan nya yang mungil.

Sepanjang perjalanan pulang Anya tidak henti henti nya tersenyum, membayangkan betapa baik nya arlan, andai semua teman sekolah nya sebaik arlan.

Setelah sampai dirumah nya yang hanya sepetak anya langsung memarkirkan sepeda nya dan membuka jas hujan lalu menyimpan nya dengan baik. Anya membaringkan badan nya di atas kasur kecil, dia teringat dengan nenek nya di kampung. Dia segera menghubungi teman nya yang di kampung untuk menanyakan kabar nenek nya.

" Hallo Anya, sumpah ya aku kangen banget sama kamu, kenapa si kok kamu baru ngabarin?"

"Walaikumsalam sila"

"Eh hehe, iya assalamualaikum anya, abis nya aku kaget banget setelah bertahun tahun aku nunggu kamu nelpon"

"Aduh sifat alay kamu makin makin deh sil, oh iya gimana kabar nenek?"

"Nenek baik kok nya, nih nenek lagi di samping aku, mau ngomong?"

"Eh jangan sil, aku takut nanti nya nenek malah kepikiran terus jadi sakit, salamin aja ya ke nenek, bilang disini aku baik baik aja"

" Siap, eh ngomong ngomong gimana di jakarta enak ga?"

"Ya gitu deh sil"

"Pasti orang orang nya gak enak ya, seharus nya kamu dengerin kata kata aku waktu itu, di jakarta itu orang orang nya gak punya sopan santun"

"Kamu tau dari mana?"

"Kamu lupa dulu kan aku pernah tinggal di jakarta, jakarta itu bukan tempat kamu, kamu terlalu baik buat tinggal di sana, orang orang disana itu mulut nya jahat jahat nya"

"Iyaa kamu bener"

"Jangan bilang kalau kamu di sana udh di jahatin?"

" Hehe engga kok, aku baik baik aja disini selagi mereka ga main fisik, aku yakin suatu saat temen teman sekolah ku akan nerima aku. Lagi juga aku ke jakarta bukan buat nyari temen tapi buat raih cita cita sukses ku dan bahagian nenek"

"Sukses itu gak mesti ke jakarta anya, kamu pinter, aku yakin kamu bisa sukses disini tanpa harus ke jakarta"

"Tapi ada pepatah bilang kita tidak akan sukses jika hanya stuck di satu tempat, ini keputusan ku sil, kamu cukup doain aku dari sana"

"Kamu menang, aku emang selalu kalah kalau cekcok sama kamu"

"Aku gak pengen cekcok sama kamu sil, tapi tolong kamu gausah bahas lagi masalah aku pindah ke jakarta"

Tuuttt tuuttt.

Panggilan terputus.

"Sila?"

"Sil?"

Anya mengecek handphone kecil nya, ternyata sila memutuskan panggilan sepihak. Anya memijit kepala nya yang berdenyut, sudah berapa kali dia cekcok mulut dengan sahabat kecil nya itu. Anya sudah sangat kenal dengan sila, Anya tau maksud sila baik tapi anya tetap dengan pendirian nya.

***

@riskaarhmda_

A4 (TAMAT)Mga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon