Tolong dibaca📢📢
Perkenalan cerita pertama. Cerita ini murni dari isi pikiran ku yang garing kriuk, gaje lan nyeleneh. Jadi jika ada kesamaan tokoh, tempat dan waktu merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
Hargai karya orang lain💯💯❤❤❤
Tinggalkan tapak kaki jika anda membaca cerita ini👞👞👞
Jangan lupa masukkan perpustakaan 📑📑📑
Happy reading😅😅😅
*****
Cuaca cerah di pagi hari yang ramai di bulan Agustus. Bulan yang terhitung musim kemarau. Udara panas dan angin sepoi di siang hari. Sekolah seperti biasa---selalu ramai. Bahkan mentari belum keluar dari ufuk persembunyian nya, namun mereka sudah berdatangan seperti gerombolan semut yang menemukan gula.
Seorang gadis dengan langkah mantap menuju ruang kelas. Bibirnya sedikit melengkung saat orang-orang menyapanya. Tak lupa sesekali membalas sapaan orang yang ia kenal. Kakinya sampai di tempat yang dituju.
"Morning, Pelangi!" Merasa namanya terpanggil. Ia menoleh, melihat siapa yang menyapanya. Lalu tersenyum, menampilkan gigi putih dan tersusun rapi. "Morning, Sea!" balasnya.
Pelangi menghampiri Sea, perempuan yang menjadi teman 'paling dekat'nya dari sekian orang yang bisa dihitung jari yang ia kenal di sekolah ini. Setelah mengambil tempat duduk disampingnya Pelangi duduk dengan manis.
"What's wrong with you? Why are you smiling like an idiot?" Tanya Sea sambil meletakkan tangannya di dahi Pelangi. Takut kalau teman semejanya tiba-tiba 'sakit'. Pelangi menepis tangan Sea sambil berdecak kesal, senyumnya luntur berganti dengan bibir yang berkerucut ke depan.
"Today is our first Phisics test." Jawab Pelangi dengan malas. Kalian pasti heran. Kenapa kami berbicara bahasa Inggris padahal tinggal di negara yang memiliki dua musim? Well, peraturan sekolah yang mengharuskan kami.
Sekolah Adi Surya Utama. Lebih dikenal sebagai ADISTAMA. Sekolah yang di dirikan sebagai bentuk kerja sama antara pemerintah daerah dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tak tanggung-tanggung, dana yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk membangun sekolah ini. Fasilitas yang lengkap dan akreditasi yang tinggi serta prestasi tingkat internasional yang didapat sudah merajai hati masyarakat. Karena itu, sekolah ADISTAMA dipandang sebagai sekolah bonavit yang hanya kaum elit yang dapat mengenyam pendidikan disana.
Tidak seperti sekolah bonavit lainnya. Sekolah ADISTAMA memiliki peraturan yang tidak terlalu ketat. Hanya saja, sekolah ini mewajibkan siswa-siswi nya untuk menguasai 3 bahasa untuk berinteraksi.
Namun, berbeda dengan Pelangi yang merupakan siswi berprestasi sehingga mendapatkan beasiswa untuk memasuki sekolah ini. Ia terkekang kewajiban penerima beasiswa yang mengharuskan nya untuk menjaga dan meningkatkan prestasi. Jika prestasi turun maka surat pemutusan beasiswa langsung dilayangkan padanya. Miris memang.
Pelangi bersenandung ria. Ia tersenyum membayangkan dirinya mengerjakan soal fisika. Tidak seperti kebanyakan siswa yang menganggap fisika menyebalkan. Semakin sulit suatu persoalan maka semakin gigih dan penasaran dirinya untuk menjawabnya.
"Sudah ikut ulangan kimia? Seingat ku, kau tak ikut minggu lalu." Dahi Pelangi berkerut. Ia pikir mungkin benar. Karena mengikuti organisasi, Pelangi cukup sibuk akhir-akhir ini. Ia juga tidak mengikuti beberapa kelas karena harus menghadiri rapat.
Pelangi mengangguk pelan. Ia belum siap--belum belajar. "Semalam temanku bertanya tentang soal kimia. Kelasnya juga ulangan hari ini. Ia kelas 11-A3. Kalau mau ikut habis istirahat pertama. Lumayan lah bolos sejarah" Kata Sea sambil menaikturunkan alisnya.
Sea benar. Ia bisa belajar selama istirahat lalu mengikuti ulangan.
Tak apa kan bolos sekali.
***
Teng.. Teng...
Bel tanda masuk berbunyi. Pelangi menarik nafas pelan, mempersiapkan hatinya. Bukan. Bukan soalnya. Ia sudah belajar. Tapi karena orangnya. Pelangi sulit adaptasi dengan orang baru. Walau ikut organisasi pun tidak membuat sifat pemalu nya hilang. Entahlah mungkin sudah mendarah daging.
Pelangi mengetuk pintu kelas yang tenang, "Permisi, Pak. Saya mau ikut ulangan." Pelangi tersentak saat semua orang yang berada di kelas menatapnya. Ia berdeham pelan.
Jeda beberapa detik sebelum Pak Darto--guru kimianya menanyakan nama dan mempersilahkan masuk.
Pelangi duduk di kursi kosong paling belakang. Yang mungkin pemiliknya tidak berangkat atau saja bolos. Well...sudah menjadi rahasia umum jika kelakuan murid disini tidak baik. Toh..tertutupi oleh otak mereka yang encer dan dompet yang tebal.
Pelangi menatap soal di depannya. 20 soal isian. Untungnya waktu yang diberikan cukup lama. Ia pun mulai mengerjakan. Setelah tinggal beberapa soal Pelangi kehabisan kertas coretan. Ia menengok kanan kiri lalu pandangannya jatuh pada lelaki di depannya. Lelaki tersebut tampak asik dengan graffiti alphabet tanpa berniat menjawab soal di depannya.
Pelangi menendang pelan kursi di depannya lalu sedikit membungkukkan badan, "Boleh minta kertas coretan?"
Lelaki itu tampak menimbang untuk memberikan kertas coretannya yang separuh sudah dihiasi graffiti atau tidak. Pelangi memandangi nya, merasa familiar dengan wajah tersebut. Melirik sekilas pada meja si lelaki dan membaca tulisan 'Bintang Rizki Wiratama'.
Lelaki yang bernama 'Bintang Rizki Wiratama' tersebut tampak memilih opsi pertama. Ia mengikhlaskan kertasnya pada Pelangi. Pelangi menerima dengan tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Selesai mengerjakan, Pelangi langsung melirik jam. Setengah jam sebelum berakhir. Ia menopang dagu sambil memandang punggung lelaki di depannya. Otaknya berusaha mencari potongan ingatan tentang seseorang bernama Bintang tersebut.
Pelangi ingat. Dia sering membaca namanya. Artikel lelaki bernama Bintang itu sering terpaku pada mading dengan tajuk 'Bintang--Paskibraka Tampan dengan Sejuta Pesona' atau 'Bintang--Pangeran Jomblo yang Mencari Cinderella'.
Ingin muntah rasanya.
Sea juga pernah bilang kalau Bintang merupakan Paskibraka nasional yang mengibarkan sang merah putih di istana negara. Selain itu, ayahnya--yang merupakan seorang Jendral--turun langsung mengawasi latihan.
Masih betah dengan kegiatannya--memandang.
Poor Bintang...
Kalian pasti bingung. Kenapa Pelangi bukan kagum dan malah bersimpati? Ia sering melihat perihal dari sudut pandang yang berbeda. Baginya prestasi yang diperoleh dengan titah dan tekanan tidak baik. Mempelajari hal yang tidak diminati hanya karena titah untuk mengagungkan diri.
Perasaan simpatinya membuncah. Pelangi mengambil penghapus karet dan pulpennya. Mencoba sedikit membantu lelaki malang di depannya.
Pelangi beranjak dari duduk. Berjalan ke depan untuk mengumpulkan kertas ulangan. Tak lupa menyelipkan penghapus karet pada saku baju Bintang saat melewatinya.
"Terima kasih, pak. Saya akan kembali ke kelas." Pelangi sedikit membungkuk dan tersenyum. Pak Darto melirik sekilas kertas ulangan Pelangi untuk mengecek lalu mengizinkannya keluar.
Pelangi melangkah ringan keluar kelas. Saat sudah di depan pintu ia menengok ke kanan menatap Bintang yang balik menatapnya dengan dahi berkerut dan tangan yang memegang penghapus karet.
Pelangi menaikkan satu alis dan tersenyum. Hanya sebentar. Sebelum dia melanjutkan langkahnya. Mendengus pelan karena harus merelakan penghapus karet nya yang berbentuk kuda poni.
Ah, sial...
Yeayyy...🎉🎉🎉
Akhirnya selesai juga😥😥😥
Thanks for reading...❤❤❤
Minta bantuan untuk mengoreksi kata atau kalimat yang salah dan grammar yang amburadul.
Bandungsari
31-8-2019
YOU ARE READING
Almost Be Fated
Teen FictionFirst book of "Scholarship" SERIES Bisa dibaca terpisah bukan kelanjutan. Masuk sekolah elit lewat jalur beasiswa ialah impian setiap siswa. Tak terkecuali Pelangi, Pelangi Lestari. Iya, bukan nama yang normal dan terkesan aneh memang. Tapi ia senan...
