prolog

93 14 10
                                        


。⋆。˚ ʚïɞ ˚。⋆。

。⋆。˚ ʚïɞ ˚。⋆。

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

。⋆。˚ ʚïɞ ˚。⋆。


Yara merebahkan tubuhnya pada hamparan kasur di kos-kosan nya, kepalanya kini penuh dengan bayang bayang sosok laki laki yang pernah ia beri biskuit Better sebagai bingkisan atas kecelakaan yang laki-laki itu alami.

Hanya satu kata yang berseliweran di kepalanya mungkin ini adalah sebuah 'kebetulan' , yang kalau dipikir-pikir kebetulan yang kesekian kalinya.

Sudah sekitar satu bulan Yara selalu berpapasan dengan laki-laki tersebut, dan itu cukup mengganggu pikirannya.

Yara juga bertanya-tanya apakah laki-laki itu masih ingat dengan dirinya, perempuan yang memberinya biskuit Better. Yara juga masih ingat jika laki-laki itu pandai melukis, Yara juga masih ingat lukisan yang laki-laki itu berikan untuknya, lukisan tersebut berisi sepasang kekasih yang sedang duduk di sebuah taman yang dipenuhi bunga serta terdapat lampu taman yang menjulang tinggi di sebelah kiri. Yara juga masih mengingat perempuan di gambar tersebut berambut panjang dan menggenakan dress berwarna biru, warna favoritnya saat kecil dulu.

Kafka, nama yang selalu  Yara cari di laman pencaharian Instagram beberapa hari lalu namun juga belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Yara akui bahwa laki-laki itu pandai menjaga privasinya, bodohnya Yara dia tidak dapat menemukan akun Instagram milik laki-laki itu. Andai saja dirinya mengetahui nama panjang laki-laki tersebut pasti Ia akan menemukannya dengan cepat.

Membuat Yara menjadi semakin penasaran pada laki-laki itu. Yara tahu kalau tersenyum adalah ibadah, saat tak sengaja bertemu dengan Kafka, entah Yara yang kepedean atau ia salah lihat, Yara yakin saat terakhir mereka bertemu laki-laki itu tersenyum samar pada dirinya, dan hal itu cukup mengganggu pikirannya.

Tapi setahunya, Kafka laki-laki itu sudah memiliki kekasih.

Jadi alangkah baiknya tidak usah kepedean bukan.

Yara tidak tahu, dan tak ingin tahu. Ia lebih memilih memejamkan matanya, kemudian membuat skenario dalam otak udangnya hingga membuat dirinya terlelap pada alam mimpi.

Dan semoga ketika ia bangun nanti suatu keajaiban datang menghampirinya.

。⋆。˚ ʚïɞ ˚。⋆。

don't forget to click ⭐ and  💌.
thank youu <3.

YARAStories to obsess over. Discover now