Pagi hari sekitar jam 06.00 Luna sudah berangkat ke sekolah
Luna berangkat menggunakan motor skuter merahnya. Hari ini adalah hari pertama masuk bagi Luna setelah liburan kenaikan kelas . Bukan hanya Luna tetapi seluruh siswa-siswa di SMA Gemilang.
Luna berjalan ke arah papan pengunguman . Luna berharap ia tidak berada di kelas Ipa lagi. Disaat Luna kelas 10, Luna masuk di kelas 10 Ipa1. Kelasnya Luna dulu adalah kelas terfavorit mungkin karena kebanyakan siswa di kelas Luna sangat patuh terhadap guru-guru. Bukan hanya patuh saja tetapi mereka adalah siswa-siswa yang memang kepintarannya sudah tidak di ragukan lagi.
Tetapi menurut Luna itu sangat menyebalkan karena para guru-guru yang mengajar di kelasnya selalu membebani siswanya dengan selalu mengatakan harus menjaga etika atau menjaga sikaplah atau apapun itu. Terkadang Luna merasa heran kenapa ia bisa masuk di kelas tersebut
"Luun tungguin gue dong!!!" Seorang gadis cantik dengan rambut di gerai berlari ke arah Luna. Tetapi bukanya Luna menoleh ia malah terus berjalan santai ke arah papan pengunguman. Gadis yang bernama Jessy itu menggerutu sendiri. Ia sangat kesal dengan Luna sahabatnya itu . Jessy pun mempercepat langkahnya ke arah Luna.
"ASTAGHFIRULLAH YA ALLAH .DEMI MINIONS YANG MATANYA CUMA SATU KENAPA ADA SIHH
. CEWEK ES KAYA LO LUN LO BENER-BENER BUDEG YA . BUKANYA NOLEH APA NYAUT GITU PAS DIPANGGI LO MALAHAN DIEM AJA . LO ITU BAGAIKAN HAT.."
"Brisik." Tukas Luna dengan tatapan datar tapi menurut Jessy sangat menyeramkan . Seketika bulu kuduk Jessy meremang. Tatapan elang yang biasanya di miliki cowok tetapi itu dimiliki oleh cewek . Benar-benar spesies langka .
"Ya..ya maaf . Gue kan nggak sengaja ." Jawab Jessy gugup dengan rasa bersalah.
"Hmm." Gumam Luna. Luna pun berjalan terlebih dahulu ke arah papan pengunguman . Sedangkan Jessy masih setia berdiri di tempat yang sama dengan tatapan cengo sambil geleng-geleng kepala. Bener-bener spesies langka.
☆☆☆
Luna dan Jessy sudah berada di depan papan pengunguman. Mereka berdua berusaha menerobos kerumunan para siswa-siswa yang sedang melihat kelas mereka.
Luna berusaha mencari namanya di papan pengunguman tersebut. Seketika mood Luna hancur ketika melihat namanya tertera di kelas 11 ipa1 sekelas dengan Jessy . Jessy bersorak gembira sambil berjingkat-jingkat seperti mendapatkan eskrim dari ayahnya.
"Yeyy kita sekelas Lunn. LO nggak liat papan pengumumannya apa ? Kita sekelas Lun,kita sekelas." Heboh Jessy sambil menggoyang-goyangkan bahu Luna. Luna hanya bisa tersenyum kaku sangat kaku .
"Alhamdulillah ya Allah . Alhamdulillah!!!!" Kata Jessy lagi bahkan suaranya lebih nyaring dari sebelumnya. Jessy juga membuat banyak siswa berkumpul melihatnya karena denga rasa tidak malunya Jessy bersujud syukur seperti orang mendapatkan hadiah mobil dari super deal .
Luna merasa sangat malu . Ia sudah tidak kuat untuk berdiri di sana . Ahirnya Luna pun membawa Jessy ke kelas baru meraka .
"Malu-maluin," Ujar Luna menatap Jessy tajam setelah mereka sampai di kelas dan mendapatkan bangku .
"Biarin ." Jawab Jessy santai . Tidak lama kemudian datang guru dengan perawakan yang dibilang ideal datang ke kelas Luna dan Jessy. Dan ternyata itu adalah walikelas 11 ipa1
☆☆☆
Bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu . Luna pun segera menuju ke parkiran. Sedangkan Jessy sudah di jemput oleh supirnya .
Sebelum Luna pulang ia berniat akan pergi ke supermarket . Sesampainya di supermarket, Luna langsung masuk ke dalam . Ia ingin membeli beberapa cemilan untuk persediaan di rumahnya yang sudah habis.
Luna sudah selesai dengan beberapa cemilan yang ia beli . Luna pun segera keluar dari supermarket karena ia takut kena amuk para pembeli karena sedang banyak-banyaknya pembeli saat ini .
Ketika Luna sedang berjalan ke arah parkiran yang berada di supermarket , Luna merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam sepatunya. Luna pun melepas satu persatu sepatunya . Dan ketika di lihat ternyata terdapat kerikil-kerikil kecil di dalam sepatu Luna. Ia sudah malas mengenakan sepatu lagi . Ahirnya Luna pun melepaskan koas kakinya juga Luna berjalan tanpa alas kaki. Tiba-tiba..
Sreett.....
Pisau kecil datang dari arah belakang menggores kaki bagian tengah antara kaki dengan tulang betisnya, tepat pada bagian urat pembuluh darah. Darah bercucuran deras mengalir dari kaki Luna . Tubuh Luna mulai lemas . Luna terkuyung ke tanah . Luna merasakan tubuhnya sudah kehabisan energi . Tetapi Luna masih bisa bertahan tanpa pingsan . Tiba-tiba datang seorang pria tampan berlari ke arah Luna .
"Sorry sorry gue nggak sengaja . Gue bantuin bangun ya." pria tersebut mengulurkan tanganya ia merasa bersalah karena telah melempar pisaunya dengan sembarangan .
Bukanya menerima ,justru Luna menghempaskan tangan pria tersebut .
"Nggak." Jawab Luna dingin .
"Yakin?" Luna tidak menjawabnya ia masih berusaha berdiri walaupun tenaganya sudah terkuras karena darahnya masih mengucur dari kakinya . Ketika Luna sedang berusaha bangun , tiba-tiba pria tersebut menggendongnya ala bride style . Seketika bola mata Luna melebar. Sialan!! Umpatnya dalam hati .
"Turunin gue nggak!! ." Bentak Luna
"TURUNIN!!"
Brukk...
Luna di hempaskan ke tanah . Amarah Luna sudah sampai ke ubun-ubun . Wajahnya merah padam karena menahan amarahnya.
"GUE MINTA LOO TURUNIN GUE !!! BUK-"Bentak Luna kepada pria jangkung tersebut. Namun ucapannya terpotong
"Gue udah penuhin kan?" Jawab pria tersebut dengan santainya. Setelah itu pria dengan tubuh tegap tersebut pergi meninggalkan Luna sendirian .
Luna menggeram kesal emosinya sudah memuncak. Ia berteriak sekencang-kencangnya . Luna tidak perduli jika ia menjadi tontonan orang yang berlalu lalang di sana.
Luna berusaha bangun walaupun sangat susah karena kakinya sangat terasa sakit dan pegal . Ahirnya Luna bisa bangun dan berdiri . Walaupun ia tidak bisa berdiri tegap setidaknya Luna masih bisa berjalan .
"Masih bisa bangun ternyata ?" Kata pria yang telah meninggalkannya dengan nada mengejek
Luna menggeram kesal . Luna berusaha meredam amarahnya.
Luna menatap tajam pria tersebut "ngapain lo di sini?" Tanya Luna berusaha tenang . Bukanya menjawab pria tersebut hanya diam . Pria tersebut mengeluarkan tasnya yang ternyata berisi kotak p3k .
"Lo duduk aja biar gue obatin." Perintah Pria tersebut tetapi Luna tidak menurut ia masih berdiri dengan tatapan kosong . Pria tersebut mendengus sebal.
"Oke mungkin lo takut gue ngapa-ngapain lo jadi, gue bakalan memperkenalkan diri. Nama gue Arkajuna Putra Krisnaya . Panggil aja Arka , Juna,krisna juga boleh. " Luna menatap Arka cengo . Bisa-bisanya Arka berbicara seperti itu kepada orang yang baru di kenalnya.
Arka yang merasa dirinya diperlihatkan pun merasa risih . Arka pun menatap Luna lekat-lekat melihat mata biru berkilat,berkaca-kaca yang terlihat menyimpan sesuatu yang ia pendam dalam-dalam .
Apa itu kamu ? Batin Arka.
mengingatkanya kepada seseorang yang sangat ia hindari tapi ia sangat merindukan sosok yang sampai saat ini masih berada di hatinya.
"Lo tinggal duduk apa susahnya sih." Ujar Arka sebal. namun,alasan sebenarnya Arka hanya berusaha untuk mencairkan suasana . Karena Luna tidak mau berdebat , ahirnya Luna pun menurut . Luna duduk di tempat yang tadi. Dengan telaten Arka mengobati Luna.
"Awhh..."Luna merintih kesakitan . Arka melihat Luna dengan tatapan iba.
"Udah selesai Lo bisa bangun nggak." Tanya Arka .
"Bi...bisa kok." Jawab Luna terbata-bata karena berusaha menahan rasa sakit,pegal dan linu di kakinya. Luna berusaha bangun dari pinggir jalan. Namun Luna malah kembali terkuyung ke tanah . Luna merintih kesakitan. Arka masih berada di tempat semula. Sebenarnya Arka ingin membantu Luna tapi ia masih ragu. Arka takut kalau Luna akan menolaknya seperti tadi .
Luna pun berusaha kembali berdiri. Namun,hasilnya nihil ia malahan terkuyung lagi ke tanah. Pandangan mata Luna buram , kepalanya pening. Luna merasa sangat lemas . Ahirnya Luna tergeletak ke jalan.
Pengin ngetes seberapa banyak yang baca wkwkwkwk ;)
YOU ARE READING
DARK
Teen Fiction.Tidak ada yang tahu kapan kita akan jatuh cinta. Kita juga tidak akan mengetahui kepada siapa hati kita akan tertambat. Pernahkah kalian saat di mana pikiran melayang dan selalu membayangkan sosok yang selama ini menjadi sahabat? Dia bisa membuat...
