Kepingan 01

3K 340 23
                                    

Yiseul kini beradu lirik dengan Yoongi, mereka berdua—tidak—maksudnya—mereka bertiga kini tengah menjalankan rutinitas manusia di pagi hari, sarapan. Namun, Jeon Jungkook sama sekali tak kunjung memakan apa yang tersedia di hadapannya. Ia dari tadi hanya mengaduk sereal cokelat yang bercampur susu putih itu sampai butiran sereal itu bercampur lebur dengan air susu, membuatnya menjadi kecokelatan dan kelihatannya—sangat memuakkan untuk tetap dimakan.

Dengan berat hati Yiseul menanyakan sesuatunya pada Jungkook. "Hei, Bung? Kau tidak suka makanannya ya?"

Jungkook kemudian tersadar dari lamunannya, balik memandang Yiseul dan Yoongi yang sedari tadi menatapnya-mungkin? Entahlah, Jungkook tidak memperhatikan. "Tidak, aku hanya ... melamun sebentar."

"Sebentar? Aku rasa dua puluh menit lebih tiga puluh lima detik bukan waktu yang sedikit untuk sekedar melamun," ucap Yoongi tanpa rasa bersalah. Kemudian Yiseul mnendang kaki Yoongi di bawah meja makan agar pria itu menghentikan bicaranya yang terkesan mengintimidasi.

"M-maaf," ucapnya terbata, lalu segera meninggalkan meja makan dan serealnya. Masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa.

"Kau yang salah, Yoongs."

"Kenapa? Aku hanya berbicara fakta. Dia melamun selama itu. Kenapa dia harus marah?"

Yiseul hanya menggeleng, percuma jika batu diadu dengan batu. Yiseul harus menjadi air agar Yoongi yang sekeras batu tenggelam di dasar kedalaman dirinya. Pagi ini hanya ada mereka bertiga di rumah, sebab sang mama telah berangkat ke Paris untuk mengurus bisnis butiknya di sana. Meninggalkan anak-anaknya bersama pria asing yang—sedikit aneh? Itu sebenarnya bukan menjadi masalah besar bagi Yiseul, tapi mungkin itu sebuah petaka bagi Yoongi yang notabennya memang tidak terlalu suka dengan orang asing, ya—sepertinya kejadian pagi ini mampu sedikit mendeskripsikan bagaimana Yoongi.

Karena sang mama memandatkan tugas pada Yiseul, seperti memastikan Jungkook menelan obat dengan baik seolah-olah kalau tidak—maka dunia akan hancur, dan memandangi bagaimana ia harus mengingatkan sang kakak agar bersikap sewajarnya. Padahal harusnya Yiseul menolak, tetapi entahlah. Kini gadis itu melangkah ke dapur setelah Yoongi pergi dari meja makan, menyiapkan bubur untuk ia berikan pada Jungkook di kamarnya. Sedikit canggung sih, tetapi mau bagaimana pun dia akan tetap tinggal di sini beberapa bulan. Yiseul harus mengakrabkan diri tentu saja, walaupun pria itu sepertinya enggan.

Gadis itu melangkah menuju kamar Jungkook, mengetuk tak terlalu keras sekedar sebagai izin masuk ke kamarnya. Tetapi ternyata pintu itu sedikit terbuka, membuat kepala Yiseul menyelusup masuk terlebih dahulu dan menemukan Jungkook yang menengok ke arahnya.

"Hai?" sapa Yiseul kikuk dengan senyum bodohnya-memamerkan gigi yang tidak rata dan bagian depan yang sedikit bengkok sebab pernah menabrak meja sewaktu kecil.

Jungkook tidak menyahut, tetapi pria itu tidak marah juga. Baiklah, Yiseul artikan itu sebagai tanda ia diterima untuk memasuki kamar. Langkahnya sedikit ragu, tetapi tidak juga. Ah, Yiseul rasa itu hanya rasa canggung karena belum terbiasa. Setelah gadis itu meletakkan semangkuk bubur, segelas air dan tentu saja dengan beberapa butir obat—ia melihat beberapa gambar wajah-wajah seseorang di atas nakas.

"Itu gambarmu?" tanya Yiseul sembari menunjuk pada lembaran kertas yang tertumpuk tak terlalu rapih.

"Ya ... begitulah."

"Hey, kau memiliki bakat, Bung! Kau bisa masuk di jurusan seni sekolahku kalau kau mau. Kau tahu? Guru-guru di sana akan mati-matian memujimu dengan tangan ajaibmu yang—yah, memang dilahirkan untuk membuat gambar wajah-wajah inosen itu barangkali. Atau ... barangkali kau mau meminjamkan tanganmu padaku agar aku mendapat pujian?"

Gadis ini banyak bicara. Batin Jungkook saat Yiseul menjeda ucapannya dan melanjutkan lagi dengan berkata, "Ey, ayolah.. jangan setegang itu. Relax, Bung. Aku tidak benar-benar menginginkan tanganmu, kok. Aku sudah cukup jenius dengan sainsku. Tapi ... kau benar-benar bisa mencoba mendaftar di sekolahku, lho."

Yiseul mendekati nakas, melihat beberapa goresan tangan Jungkook yang dengan apik menggoreskan pensil tajam menjadi sebuah lekuk wajah yang kelewat apik. Wajah yang pertama kali Yiseul lihat di sana adalah seorang perempuan, dengan hidung kecil nan runcing, rambutnya kuncir kuda dan memiliki bulu mata yang sangat indah. Tetapi, ketika Yiseul mencoba meraih gambar itu, tangan Jungkook tidak membiarkannya. Jungkook menyambar semua gambar yang ada di sana dengan degub jantung yang kelewat cepat temponya.

"Oh? Maaf," ucap Yiseul yang sadar atas kelancangannya yang hampir menyentuh benda-benda yang bukan miliknya tanpa permisi. Gadis itu mengelus tengkuk lehernya merasa tidak enak.

Ditambah dengan Jungkook yang tak mengatakan apa pun, kembali duduk di tepian ranjang sembari memegan beberapa lembaran kertasnya.

Yiseul menghela napas berat, mengendikkan bahunya dan memutar balikkan badannya, beberapa langkah meninggalkan Jungkook yang masih terdiam—Yiseul kembali berbalik, mencoba meredakan sedikit kecanggungan di antara mereka dengan berkata, "Hey, Bung. Gadismu cantik juga, kau bisa menceritakannya padaku kapan-kapan. Senang? Sedih? Patah hati? Uh, aku ini jagonya," ucap Yiseul dengan raut bangga akan dirinya.

"Aku ini kebal dalam urusan hati. Kau tahu, Bung? Aku bahkan pernah ditolak sepuluh kali oleh pria sinting bernama Hwang Taehyung. Dia tampan sih, tetapi tidak juga. Ah, dia itu sok keren orangnya. Kapan-kapan akan ku tunjukan fotonya padamu."

Jungkook sedikit mengernyitkan dahi ketika mendengar satu nama yang baru saja Yiseul sebutkan. Taehyung?

Gadis itu kembali melangkahkan kakinya keluar, menarik daun pintu untuk di tutup, tetapi suara Jungkook menjadi penghalang beberapa saat.

"Yiseul!" panggil Jungkook.

"Ya?"

"Em ... kau tahu? Namaku Jungkook, bukan Bung."

Kemudian Yiseul terkekeh dengan bahunya yang bergetar. "Aku tahu, Jung—kook. Jangan lupa makan dan minum obatnya atau kita akan terkena masalah bersama. 'Dah, Bung!"

Kemudian pintu tertutup, suara berisik pun tak lagi ada. Kadang, Jungkook bingung apa yang ia inginkan. Dirinya ingin keramaian, tetapi ketika disuguhkan suara kelewat tinggi milik Yiseul, ia agak terganggu. Ingin kesepian, tetapi kadang beberapa hal gila tak jarang merangsak masuk ke otaknya.

Dirinya hanya tidak tahu, mana yang ia inginkan dan tidak. Mana yang harus ada dan mana yang harus di musnahkan. Barangkali, Jungkook akan merasa lebih baik ketika membuang butiran-butiran obat itu ke dalam kloset—menghanyutkannya lagi dan lagi.

[]

Xx,

Restyn

Asylum In SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang