Prolog

5.7K 428 40
                                    

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

Yiseul menemukan Jeon Jungkook dalam keadaan pria itu yang terbagi menjadi beberapa bagian dari dirinya. Sepuluh persen dari bagian itu berisi tentang beberapa hal manis yang selembut permen kapas, sayangnya tengah meluntur di ambang batas. Dua puluh persen diantaranya berisi tentang bagaimana caranya tetap bertahan hidup dan mengingat cara menggunakan fungsi paru-paru dengan baik. Dua puluh persen lainnya berisikan pertanyaan-pertanyaan bagaimana Jungkook harus membedakan mana yang ada dan mana yang tidak ada. Dan lima puluh persen sisanya, adalah kisahnya yang terlanjur jatuh cinta pada gadis itu; Lethe. Ya, sebanyak itu—lima puluh persen Lethe memenuhi diri Jungkook.

Pagi itu terdengar suara gaduh yang memekik telinga—ketika Yiseul membuka mata walaupun sesungguhnya masih enggan. Siapa juga yang mau bangun secepat ini di hari libur? Oh ayolah, bung! Ini masih pukul tujuh lewat lima menit. Gadis itu masih menginginkan bantal dan kasurnya melebihi dia menginginkan sepotong roti selai di pagi hari.

Dan siapa pula yang membuat kegaduhan di rumahnya? Yiseul ini sudah dari kapan tau hidup, dan tidak mungkin melupakan bahwa Yoongi—sang kakak seniat itu akan menggerakkan tubuhnya di pagi hari begini, apalagi sampai membuat gaduh. Lantas, sebab apa ada suara-suara yang mengganggu telinga sepagi ini? Hantu? Jangan konyol! Yiseul tidak percaya hal-hal seperti itu.

Lalu, ketika suara gaduh itu sudah mereda dan kembali tenang, Yiseul berusaha masuk ke alam mimpinya lagi. Tetapi sialnya, ketika dia menarik selimut hingga ujung kepala. Gadis itu mendengar suara deru napas, sangat dekat. Padahal bisa ia pastikan bahwa tidak ada seorang pun di sana selain dirinya. Pintu kamar pun sudah terkunci rapat. Jantungnya bertalu dengan cepat, hingga beberapa saat Yiseul sadari—bahwa itu suara napasnya sendiri. Sialan! Min Yiseul, kau kelewat tolol!

Kemudian lagi, setelah insiden napas. Gadis itu samar-samar mendengar suara seorang pria. Tidak! Kali ini tidak di dekatnya, tetapi dia yakin bahwa pria itu tengah berbicara dengan mamanya. Ketika itu juga Yiseul baru mengingat perihal yang ibunya bicarakan kemarin malam tentang seseorang yang berencana menumpang—atau bilang saja menginap di sini selama musim panas. Tetapi tidak masuk akal disebut menginap jika jangka waktunya berbulan-bulan, mari katakan saja dia akan me-num-pang.

Ah, peduli setan! Tetapi, bisa dijamin kalau manusia itu selalu membuat suara gaduh seperti ini setiap pagi dan membuat dirinya tidak bisa tidur dengan nyaman, mulut pedas Yiseul tak akan segan-segan memberi umpatan-umpatan keji di pagi hari. Bukan ide bagus, 'kan? Yiseul memang sudah lahir dengan DNA kelewat keras kepala. Karena matanya tidak bisa memejamkan kembali dengan rapat, gadis itu keluar dari kamar. Bersamaan dengan Yoongi yang tertatih-tatih melangkah keluar dari kamarnya pula sembari mengusap matanya yang barangkali ada sebongkah kristal di sudut matanya. Mereka saling beradu tatap-seolah bertelepati dengan Yoongi yang menanyakan apa yang tengah terjadi di luar sana. Kemudian dijawab dengan pundak yang terangkat lalu diturunkan sedetik kemudian oleh Yiseul.

Mereka melangkah ke dapan rumah, mencoba memahami keadaan ketika ditemukannya sosok lelaki tinggi—perlu Yiseul katakan bahwa pria itu lebih tinggi dari Yoongi, lebih semampai dengan tubuhnya yang lumayan berotot. Membawa satu koper yang tidak terlalu besar dan sebuah ransel di pundaknya. Dia tengah berbicara dengan sang ibu, memamerkan gigi kelinci dan wajah inosennya di sana dengan apik.

"Siapa dia?" Tiba-tiba Yoongi bertanya tepat di telinga Yiseul sedikit berbisik.

"Jungkook. Namanya Jeon Jungkook. Kata Mama ... dia akan tinggal di sini selama musim panas." Yiseul pun menjawabnya dengan tak kalah berbisik lirih.

"Di sini? Di rumah ini? Jangan konyol. Bahkan harga baju yang dikenakan sepertinya mampu membeli gubuk kecil kita."

Ya, jika dilihat dari penampilan, Jungkook tentu saja terlihat seorang keluarga konglomerat. Baju-baju dengan brand terkenal yang bahkan tak pernah Yiseul sentuh sama sekali ataupun alas kakinya yang bahkan terlihat seharga rumah mereka. Aneh? Tidak terlalu sih, bukannya jaman sekarang memang begitu? Manusia berlomba-lomba menampilkan apapun yang menjadikan mereka naik pamor teratas dengan melihat seberapa mahal barang yang mereka kenakan. Padahal, buat makan saja mereka masih susah. Berlagak sok punya tahta, padahal rumah saja numpang!

"Dia sepertinya ... sedikit ajaib?" ujar Yiseul yang sedari tadi masih menatap Jungkook yang tengah berbincang dengan sang ibu tanpa menghiraukan apapun, bahkan mereka yang notabennya dapat dia lihat jelas.

"Maksudmu?" tanya Yoongi.

"Dia baru keluar dari rumah rehabilitasi tiga hari yang lalu. Kata Mama, dia pernah mencoba membunuh dirinya berkali-kali. Pernah sekali—tidak—bukan sekali sih, tepatnya tiga kali dia mencoba gantung diri tetapi talinya selalu terputus. Menenggak obat-obat berdosis tinggi tetapi masih bisa diselamatkan, loncat dari rooftop rumah sakit tetapi dia hanya mengalami patah tulang pangkal." Yiseul menarik napasnya dalam, menatap manik milik Yoongi dengan intens sebelum melanjutkan perkataannya, "Aku harap ini tidak akan menjadi musim panas yang panjang."

<>

°°°°

Copyright © 2019, Restyn

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Copyright © 2019, Restyn.

This story is only pure fiction from the author's hands. All characters, events or places have nothing to do with the original character chosen. All parts that have been published are not to be rewritten, republished, or commercialized without the author's permission.
[Notes!] Inspired by the movie Beutiful Mind.
[Warning!] The content of this story is about mental illness; Skizofrenia paranoid. This story have sensitive content for sufferers of the same disease or underage age. This work is not to corner the sufferer of mental illness, but to awaken.
Please be careful in reading.

Xx,

Restyn.

Asylum In SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang