Kimora Vercyan, seorang gadis kecil yang akrab di panggil Kei ini. Tak henti-hentinya menangis saat orang tua beserta adiknya pergi menitipkannya kepada sang bibi. Ia melewati masa kecilnya tanpa kasih sayang orang tua seutuhnya. Namun, bibinya selalu memberikan kasih sayang yang tak lagi ia dapati itu. Ia merawat Kei beserta ke 3 keponakan lainnya. Shawn, Alice dan Luna yang memiliki selisih usia masing satu tahun. Sedangkan Kei merupakan yang paling kecil diantara mereka.
Beberapa tahun kemudian Kei pun menyelesaikan pendidikan menengah atasnya dengan nilai yang sangat memuaskan, tibalah saatnya ia bertemu kembali dengan ayahnya.
"Ara, terima kasih sudah merawat Kei selama ini. Maafkan kami yang tiba-tiba harus pindah. Mereka masih saja merepotkan." Ucap Ayah Kei, Wilbert Vercyan.
"Tak masalah kak, disini jauh lebih aman. Ada kakak-kakak sepupunya yang menjaganya. Lagian, ini sudah sekian kali nya kalian harus berpindah-pindah tempat," tatapnya mata Kei yang terlihat kebingungan. "Kei, kau jaga dirimu baik-baik. Bibi titip salam ya untuk ibu mu."dipeluknya Kei sesaat.
Kei yang tidak mengerti apa yang baru saja mereka bicarakan hanya mampu mengangguk pasrah.
"Sudah, tenang saja. Bibi akan memberitahu kakak-kakak mu nanti. Don't worry, ok ?"lanjutnya.
"Ok bi, bibi juga jaga kesehatan. Terima kasih sudah merawat Kei."jawab Kei.
"Kei, Come on dear ! Kita harus pergi sekarang." dengan sedikit memalingkan wajahnya.
Wilbert pun langsung mengendarai mobil cukup kencang setelah memastikan Kei telah masuk ke dalam mobil. Hanya keheningan yang dapat dirasakan selama perjalanan tersebut. Antara ayah dan anak pun tampak canggung dan asing satu sama lain.
Kei pun menatap ke luar jendela. Ia terlihat santai meski mereka telah memasuki hutan lebat di tengah malam. Sudah berjam-jam berlalu tapi tak ada sedikitpun pembicaraan, Kei pun menghela nafas nya kasar karena bosan.
"Ayah, kapan kita sampai ? Emangnya ada rumah di tengah hutan yang lebat ini ?" Tanya Kei heran.
"Ayah tidak membawamu ke rumah." Ucap Tn. Vercyan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hah ? APA ? Lalu, kita mau kemana ??"Kei pun terkejut dan melotot kepada sang ayah.
Dengan tatapan sinis dan helaan nafas sesaat, "Hah, sepertinya aku akan dibuang lagi!"
Namun Wilbert menghiraukan putrinya. Ia sudah tau akan reaksi putrinya.
Laju mobil pun berhenti, Wilbert pun keluar dari mobil dan ia hanya mengerakan kepalanya seakan-akan memeritah putrinya untuk keluar. Kei pun menatap gerbang raksasa yang terlihat tua dihadapannya, ia heran kenapa ia harus dibawa kemari ? Wilbert mengacak-acak rambut Kei yang terlihat melamun sejak tadi.
"Kei, kau harus masuk ke dalam bawa kartu ini bersamamu." Nampak kartu polos bergradasi warna silver yang disertai lambang sebuah keluarga.
Kei mengerutkan keningnya.
"Cari Zack, sebut nama ayah. Beri kartu itu kepada pria yang akan kau temui di dalam. Lalu pakailah kalung ini, ini titipan dari ibu untukmu. Maaf, ayah dan ibu harus meninggalkan mu lagi. Suatu hari nanti kau pasti akan mengerti, ayah tak punya bany....." Ia pun memberikan kalung yang berwarna senada dengan kartu tersebut.
"Ayah, tenanglah ! Kei mengerti, sebaiknya ayah segera pergi. Kei titip salam untuk ibu dan Sean."sela Kei sambil memakai kalung tersebut.
"Beritahu ayah jika ada masalah. Kau masuklah. Ayah akan pulang setelah melihat mu ke sana." terukir senyum samar.
"Ok." Ucap Kei tanpa melihat lawan bicaranya.
Kei pun menarik kopernya masuk ke dalam gerbang tersebut tanpa menoleh ke belakang. Ia tidak ingin matanya berkeringat jika terlalu lama di sana.
Wilbert hanya menatap putrinya dari belakang dengan tatapan yang sulit di mengerti.
Drettt...drettt....
Seketika tatapan kosong dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, ia mengangat telpon dari nomor yang ia tak kenali itu.
"Kau melakukannya lagi Tuan Vercyan." Ucap sosok di sebrang telepon tersebut.
"Bukan urusanmu" tanpa mengalihkan pandangannya, terukir senyum tipis. Ia langsung mematikannya sepihak.
Tuan Vercyan pun langsung memacu mobilnya setelah memastikan Kei benar-benar menghilang dari pandangannya.
.
.
.
.
.
.
.
Salmon bertelur di sungai tetapi ia hidup di laut.
Ia tangguh dan lembut ketika Sushi berada di mulut.
.
.
.
.
.
.
.
🌼 To be Continue🕯
YOU ARE READING
Sekedar Ilusi
RandomKehidupan seorang gadis yang membosankan. Kini telah berubah setelah ia menyadari fakta bahwa takdir telah membawanya ke dunia khayalan yang selalu ia baca dari novel serta komik yang sulit di terima nalar telah menjadi nyata dalam kehidupannya. La...
