"Ay, ayo putus!" Kalimat itu kembali terdengar di indera pendengaran ku. Sudah kesekian ratus kali.
"Apa?" Aku sebenarnya tidak terlalu terkejut, hanya sajaㅡalasan apa lagi?
Kenan Alvaro. Laki-laki yang menjabat sebagai kekasih ku, tampan dan baik. Tidak untuk perasaan, dia begitu brengsekㅡkalau kata teman-teman ku.
"Ayo putus! Aku bosan" mudah baginya mengatakan bosan, hanya seperti membalikan tangan. Dan aku terlampau biasa dengan keadaan seperti ini.
"Terserah!" Aku beranjak pergi dari cafe, suasananya hancur. Sama seperti hati ku yang retak.
;
Seminggu sudah aku dan Kenan resmi putus, bahkan bukan hanya hati ku yang terbiasa, namun ruang lingkup ku pun sama. Seperti sudah hapal jika aku tidak dijemput ke kelas maka aku dan Kenan sedang tidak baik-baik saja. Seperti sekarang.
"Putus lagi?" Dia sahabatku, Ariza. Jangan bertanya, sudah berapa muak dia mengomeli ku, sudah berapa muak dia dengan sifatku yang katanya terlalu baik.
"Hehe, iya" aku tertawa canggung, sekuat tenaga aku tidak menyalahkan Kenan. Toh! Nanti pun Kenan pasti akan kembali, aku maklum, mungkin aku memang membosankan.
"Aku capek kalau kamu putus! Aku ikutan pusing" aku menghela nafas pelan, iya mungkin ini juga salah ku. Menceritakan semua keluh kesah ku kepada mereka, sedangkan mereka mungkin sibuk dan pusing dengan masalah masing-masing. Aku bodoh.
"Iya maaf, aku gak cerita lagi" Ariza bangun dari duduknya, mengajak ku untuk pergi kekantin. Aku menyanggupi, aku juga butuh makan.
;
Setelah sampai di kantin, jantung ku seakan lompat keluar. Melihat gerombolan Kenan beserta pacar-pacar mereka. Yang menjadi pusat perhatian adalah bagaimana Kenan merangkul pundak seorang wanita dengan mesra. Aku kembali retak.
"Sudah puas lihatnya?" Aku menoleh, ah sahabat ku yang lain. Randi, dia bukan teman laki-laki ku satu-satunya. Ada yang lain, tapi sedang tidak ikut.
"Sudah, ayo makan?" Kataku, berani sumpah aku sudah mulai muak.
;
Bel pulang sudah berbunyi nyaring,hampir lima belas menit yang lalu. Sekolah sudah sangat sepi, dan aku masih menunggu jemputan. Aku sungguh lelah. Dan yang memperparah keadaan adalah, aku belum melihat sama sekali Kenan dan perempuannya keluar.
Selang beberapa menit, raungan motor dari dalam sekolah menyapa rungu ku. Ah! Ini dia orangnya. Aku menoleh, memperhatikan bagaimana angkuhnya dia bersama wanita itu. Melihat ku dan segera membuang muka. Lagi-lagi terlampau biasa.
"Ay? Ayo masuk! Sudah sore" aku melihat bunda ku didalam mobil, segera masuk dan menatap langit sore yang begitu indah.
;
"Kenan kemana? Sudah jarang kesini" itu ayah ku, mungkin mereka juga akan muak jika mengetahui segalanya. Anaknya di permainkan, dan itu sebuah kesalahan fatal Kenan.
"Lagi sibuk belajar, sedikit lagi mau ujian" ayah hanya menganggukan kepalanya dua kali, mana berani aku jujur?
"Kalau lagi senggang, tolong bilang main ke rumah ya? Bunda rindu" ada bunyi benda yang retak di dalam dadaku. Hati ku kembali retak. Pada kenyataannya, kedua orang tua ku sangat mempercayai Kenan layaknya mereka mempercayai ku.
"Iya, kalau sempat" aku tersenyum kaku, bagaimana jika mereka tahu? Semuanya akan hancur.
;
Besok adalah hari sabtu, bunda masih setia bertanya dimana Kenan berada, aku jawab saja.
"Sibuk basket, minggu besok ada pertandingan" bukan maksud ku untuk memperpanjang percakapan dengan bunda masalah 'kapan Kenana kesini?' Hanya saja hati ku kembali retak saat mendengar namanya.
Aku terkesan bodoh memang, mempertahankan hal yang seharusnya tidak aku pertahankan. Juga, apa dia mempertahankan aku?
"Kamu gak nonton? Dukung pacar mu kalau begitu!" aku terdiam, menunduk secara perlahan. Mungkin bunda paham, aku enggan membicarakan hal ini, jadi beliau memilih bungkam.
Aku turun dari kamar ke ruang tamu, terkejut bukan main karena sekarang Kenan tengah bercanda gurau bersama adik ku. Aku mencoba menajamkan mataku, tapi dari segi manapun, dia adalah Kenanㅡlaki-laki yang berani merusak dan merakit hati ku.
"Eh sayang! Baru bangun tidur?" Suaranya sehalus beludru, sedalam lautan dan aku akan selalu terpana akan sorot tajam matanya. Aku telak jatuh cinta dengan brengsek yang satu ini.
"Mau apa kesini?" Suara ku terkesan dingin, walaupun hati ku menghangat karena kata 'sayang'
"Mau jemput kamu, ayo?" Dalam benak ku, mungkin dia ingin kembali, ingin memperbaiki, tapi setelah ku pikir lagi, dia selalu mengulangi hal yang sama. Aku yang bodoh! Menerimanya kembali dengan mudah saat hati ku juga dengan mudah dipatahkan olehnya.
"Tunggu sebentar" terkadang pikiran dan hati ku tidak searah, lebih mementingkan hati. Padahal aku tahu, aku pasti terkena sakitnya.
;
Aku sudah berada di atas motor Kenan, tidak berani memegang apapun. Hanya berdoa jika dia tidak akan membahayakan aku.
Tidak ada juga percakapan selama di perjalanan. Aku sibuk dengan pemikiran ku sendiri. Berpikir akan bersikap seperti apa nanti jika dia meminta ku bersamanya kembali? Atau aku harus menjawab apa?
"Turun, ayo!" Lagi-lagi dia memperlakukan aku layaknya tuan puteri. Aku sengaja tidak menerima uluran tangannya saat ingin membantu, aku hanya ingin dia tahu bahwa aku sudah mulai lelah.
"Mau makan apa?" Aku tahu Kenan bukan tipikal orang yang sabar, dia mudah tersulut emosi, mudah terbakar cemburu dan mudah bermain tangan.
"Gak usah, makasih" rahangnya mengeras, sudah tertebak jika dia marah padaku. Harusnya aku yang lebih marah disini.
"Kalau kamu ngajak aku cuma buat marah, aku lebih baik pulang! Gak butuh maafnya kamu Ken!" Aku hendak berdiri, tapi tangan Kenan menggapainya cepat.
"Duduk!" Perintahnya mutlak bagiku, jika aku tidak dengar, pasti aku akan mendapatkan sesuatu yang buruk. Saat aku kembali duduk, aku segera menarik tangan ku dari genggamannya.
"Aku mau minta maaf, kemarin cuma mau membuat mu cemburu. Gak lebihㅡ
ㅡAy! Balik sama aku ya?"
YOU ARE READING
RETAK
Teen FictionCOMPLETE ✅ ⚠️ALUR BERULANG⚠️ "Ay, ayo putus!" DON'T BE SILENT READER PLEASE! BIASAKAN VOTE SETELAH MEMBACA UNTUK MENGAPRESIASI PENULIS. #1 Sad Romance 13092020 #1 Sad Romance 25092020 #1 PutusNyambung 08042021 #1 PutusNyambung 12042021 #1 Sakithati...
