Icaaa!!!"
"Ya ampun! Apa sih, Put?! Suara kamu itu lho ganggu pendengaranku banget! Mulut aku sakit ini!"
"Lo! Icaa!!! Eh, tadi Lo bilang mulut?! Yang untuk denger kan telinga, Ica! Telinga! Tapi..Lo harus tahu! Lo! Lo! Lo! Lo! Lo! L-"
"Apa sih Puput-ku samyang, daritadi Lo-lo-lo doang! Yang ngomong jelas sini!"
"Lo masuk, Kan! Lo masuk! Nama Lo ada!"
"Hah?! Seriusan kamu?!"
"Iya, Kan. Nomor 23, Ikanca Dewi Sinaga."
"Ah, candaan kamu garing! Lebih garing nih dibandingin bakwan yang diiklanin Raffi-Nagita nohh!"
"Serius tahu! Lihat nih!"
Setelah menerima handphone yang disodorkan Puput, dan melihat foto daftar siswa unggulan tahun ini yang ada di blog sekolah, untuk pertama kalinya aku takut lihat namaku sendiri.
YOU ARE READING
IKANCA
Teen Fiction"Ini batas mejanya, jangan lewat! Kalau lewat awas aja!" Gadis itu meletakkan penggaris bertuliskan 'no Exo, no life' itu ke tengah-tengah meja. "Serah, Ikan." Ini tentang Ika dan Si Kulkas Gadungan. ~•~ [Penulis punya target sendiri kalo mau apdet...
