Maaf dari Umi

1.1K 23 0


"Hari ini pulang cepet ya?"

"Iya, Mi. Ba'da Ashar gak ada kelas lagi, jadi langsung pulang"

"Ooh" Umi menjawab anaknya singkat. Tak biasanya wanita keturunan Arab ini berbicara seperti itu kepada anaknya, biasanya ada saja yang ia tanyakan.

"Umi kenapa?" tanya Arif

"Gak kenapa-kenapa"

"Kamu marah ya sama Umi karena kejadian semalem?"

"Ya enggak atuh Mi, masa Arif marah ke Umi. Ini kan sudah takdir Allah, sudah penemuan hidup Arif seperti ini, giliran dulu Umi sama Abi tawarin banyak akhwat solehah, eh Arif tolak. Pas sekarang nyari, eh malah begini"

"Qadarullah wa maa syafa'ala" jawab Umi

"Na'am Mi, Qadarullah wa maa syafa'ala"

"Tapi"

"Tapi apa?" jawab Umi

"Apa semua akhwat zaman sekarang seperti yang malam tadi,Mi?"

"Umi, juga gak tau, kasep. Lieur umi mah. Maafkeun Umi atuh ya"

"Umi gak salah. Kenapa harus minta maaf?"

"Umi, mau jaga perasaan anak Umi"

"Umi, sama Abi sudah banyak. Banyak sekali memproses perjodohan. A' Syafiq, A' Umar, Teh Maryam, belum lagi murid-murid Abi juga muridnya Umi, gak pernah seperti ini, eh malah pas ngurus anak bungsu jadi seperti ini. Memang ya pengaruh perkembangan zaman ini sukses mengubah semua hal"

Abi Arif tiba-tiba nimbrung ikut duduk diteras belakang rumah besar itu bergabung dengan Istri dan putra bungsunya.

"Abi dari mana?" tanya Arif

"Dari liatin kambing, kata mang Udih ada yang beranak kembar"

"Alhamdulillah" jawab Umi dan arif serentak

^^^

Pandangan mereka menjauh, melintasi rerumputan hijau dan barisan pohon jagung yang tidak lama lagi akan panen. Semua diam, dengan pikiran dan khayalan masing-masing.

"Bi, certain dong, pertemuan pertama Abi sama Umi dulu sampai akhirnya menikah"

"Etah, teu usah atuh Abi. Udah lama juga"

"Atuh, gak apa-apa Mi, kita nostalgia"

"Jadi?" sambaing Arif cepat

"Jadi dulu sekali itu Abi dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta dengan menggunakan Bus. Waktu itu Abi sedang melaksanakan tugas akhir buat nyelesaikan kuliah S1 jurusan pendidikan Agama Islam di Universitas Indonesia. Qadarullah Bus waktu itu sepi, Abi duduk sendirian. Di perjalanan Abi menyibukkan diri dengan hafalan-hafalan Abi. Pas lagi menghafal, Abi bersin 'huachiim'. 'Alhamdulillah' jawab Abi. Qadarullah ada yang jawab, suaranya halus dan jernih 'Yarhamukallah'. Abi jawab lagi 'Yahdikumullahu wa yuslihu balakum'"

"Abi kan heran, jaman dulu ya langka ada perempuan tau ilmu itu. Jadi, Abi langsung cari orangnya. Alhamdulillah ketemu. Orangnya duduk persis dibelakang tempat Abi duduk, lalu disebelahnya ada bapak-bapak, lagi tidur pulas banget. Dia itu kakek kamu"

"Pas dipemberhentian, semua orang sibuk masuk kerumah makan buat isi perut, nah cuma Abi, Umi sama Kakek kamu yang bersegera ke masjid karena waktu itu pas adzan magrib."

"Selepas sholat Abi tanya-tanyain Kakek kamu, Abi ngobrol. Sampai akhirnya Abi dapet alamatnya kakek kamu yang di Jakarta sama di Bandung. Nah selesai S1 Alhamdulillah Abi lulus beasiswa ke Mesir, jadilah Abi susul Umi kamu ke Bandung waktu itu. Abi minta dinikahkan, dan lahirlah A' Syafiq disana"

"Jaman dulu itu susah, gak canggih kayak sekarang. Kamu sih enak, semua serba online. Serba gampang. Kalau dulu? Wah!"

'Allahuakbar Allahuakbar' suara adzan menghentikan pembicaraan mereka

"Udah maghrib Bi, Hayuk kemasjid" Ajak Arif

"Hayuk lah"

Mereka semua meninggalkan ruang belakang rumah. Salah satu ruang yang menjadi saksi bisu kemesraan dua orang yang saling mencintai karena Allah juga membesarkan anak-anaknya dengan landasan cinta karena Allah. Arif merasa mendapat banyak pelajaran dari cerita orang tuanya. Ia tahu bahwa semuanya sudah Allah tetapkan dengan amat bijaksana. Dia meyakini bahwa diluar sana, jodohnya sedang menanti dirinya.

^^^

Disebuah ruangan tertutup, Asiyah harus berjuang. Dengan peralatan lengkap ditubuhnya. Alat bantu pernafasan, infuse yang sudah terpasang, detector jantung dan masih banyak lagi. Sebelah kakinya dibalur perban dan alat penopang kaki yang patah. Telah dilakukan operasi sehari sebelumnya. Kedua matanya tampak membengkak, terlihat sekali betapa keras hantaman menimpa wajahnya. Dia terbujur, Koma. Sedang suaminya, Salman. Sudah dikuburkan sehari yang lalu.

^^^

Disebuah kamar besar dan mewah hawa meratap penuh derai. Matanya membengkak. Kedua orang tuanya memarahinya sepanjang hari. Ia menyesal dengan apa yang ia perbuat.

"Bagaimana bisa kamu yang hafal Al-Qur'an meminta menunda memiliki anak dari seseorang yang berniat baik menikahimu? Apa kamu tidak mengerti konsekuensi permintaanmu? Apa kamu tidak paham dosa yang kamu dapatkan karena niat buruk itu? demi Allah, Hawa. Takutlah kamu pada Allah"

Perkataan dari Abinya seolah berulang-ulang terngiang dikepalanya. Hawa menyesal. Tapi, apalah daya. Abu sudah tertiup angin, tak akan berguna lagi seperti saat menjadi kayu. Hawa menangis sambil bergumam egois

"Tak bisakah Aku menjadi Ratu Balqis yang modern?" 

entahlah, tak ada yang mengerti jalan pikiran Hawa.

....................................

Bismillah

Assalamu 'alaikum

Novel ini sudah tersedia bentuk PDF

yang mau boleh langsung DM atau Inbok

Insyaa Allah cerita akan dikirim ke alamat Email masing-masing

Selamat membaca

Salam kenal dari penulis Ririn Putri Abdullah :)

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now