Hurur 'In Humairah

1K 25 5

Waktu menunjukan pukul setengah empat pagi, Ummu Fatma terbangun dari tidurnya karena tersentak kaget. Disebelahnya, putrinya masih tertidur pulas, wajahnya yang bengkak-bengkak sudah sembuh total sehingga tersingkaplah tabir kecantikan yang kemarin tertutup memar. Kaki putrinya masih diperban, masih masa penyembuhan paska operasi tulang kering yang patah kemarin.

Ibu tua itu berjalan menuju toilet, membersihkan diri kemudian sholat disudut ruangan, bersimpuh dan menangis meminta kesembuhan putrinya. Lama ia berduaan dengan Rabbnya, Tahajud, wittir, shalat sunnah fajar dan sholat subuh. Setelah selesaipun ia masih duduk diam di sajadahnya, membaca dzikir pagi, doa memohon keselamatan, amalan rasulullah ketika ditimpa musibah dan masalah besar juga terakhir membaca Al-Qur'an. Ia yakin dan percaya, bahwa tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah menghendaki.

Sekitar jam setengah delapan pagi, telepon milik Ummu Fatma berdering, ternyata telepon dari putri sulungnya Fatma yang sekarang sedang diperjalanan bersama suami ummu Fatma dan cucunya. Mereka bertanya ingin dibawakan apa untuk sarapan, ummu Fatma hanya menjawab singkat 'Apa saja'. Benar, makanan apapun yang dibawa sekarang pastilah ia makan, sebab makanan tersebut hakikatnya bukan untuk pemuas nafsu melainkan hanya sebagai penambah energy saja untuk lebih kuat menghadapi kenyataan yang sudah berdiri di hadapannya.

Ummu Fatma kembali bersiap diatas sajadahnya, wudhunya sejak setengah empat pagi tadi belum batal, karena memang sejak pagi yang ia kerjakan hanyalah beribadah kepada Allah semata, memohon dan merayu belas kasih Allah. Ia memulai sholatnya.

'Allahuakbar'

'Hihi'

Ia mendengar suara tawa pelan, suara yang benar-benar ia kenal betul itu suara siap. Tetapi saat itu ia sedang sholat sehingga ia tidak bisa memastikan asal suara itu darimana. Sepanjang sholat ia memejam-mejamkan matanya, berusaha khusyuk dengan lantunan ayat suci yang ia bacakan dengan tidak bersuara serta berusaha sekuat tenaga memaknai kalimat-kalimat dalam bahasa Arab itu dengan menggunakan hatinya. Tetapi sekaras apapun ibu paruh baya itu berusaha, suara tawa tadi benar-benar mengganggunya.

'Allahuakbar' ummu Fatma sudah sampai pada tahiyat akhirnya, seketika ia mendengar lagi suara 'Hihihi' kali ini lebih jelas dari sebelumnya. Ia benar-benar ingin secepat-cepatnya menyudahi sholatnya, tanpa memohon apapun kecuali keselamatan dunia akhirat sesaat sebelum salam.

Setelah salam ia berdiri dan berlari menuju putrinya, ia melihat keadaan putrinya dengan saksama. Tidak ada yang berubah! Ia mengulanginya lagi, melihat dari jari kaki, jari jemari tangan hingga keningnya. Tetap! Tidak ada yang berubah, ia memeriksa denyut jantungnya, infuse dan alat pernafasan, ternyata semua masih dalam keadaan seperti sedia kala. Ia kecewa!

'Eeerrrgggghhh'

Putrinya mengerang. Kedua bola mata yang tertutup tampak bergerak-gerak mengguncang-guncangkan bulu matanya yang lebat dan panjang. Sang ibu gemetar, ia seolah tak percaya dengan apa yang ia liohat.

'Neeeng, neng, neng susterrr' ia berteriak-teriak memanggil manggil petugas jaga ICU. Seorang perawat berjilbab putih bersih datang menghampiri.

"Suster lihat, anak saya sadar!"

Sang suster melihatnya, kemudian dengan setengah berlari ia meminta perawat lain untuk memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan pasien yang sepertinya akan segera bangun dari koma.

Sang Dokter tiba, tak sampai lima menit sejak suster itu pergi menemuinya. Ia kemudian memulai proses selanjutnya, memanggil-manggil nama pasien agar ia tersadar dan bangun.

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now