Menata hati

1.1K 20 0


Sore itu Arif termenung, duduk sendiri di halaman rumput belakang rumahnya. Ia sangat mencintai negeri ini, Indonesia. Semua kekayaan dan potensi alamnya seakan tak pernah habis menyihir matanya mejadi berbinar dan menyulap suasana hati yang duka menjadi bahagia.

Langit menjadi temannya, gerakan awan perlahan seakan memberi senyum kepadanya. Burung-burung kecil yang berterbangan seakan sedang berdzikir kepada Tuhannya. Ya, Tuhan. Maha pencipta segala sesuatu hal, segala hal.

Ia merebahkan tubuhnya, seakan mengadu pilu kepada tanah yang mana memang asal muasal manusia diciptakan. Ia bercerita parau tentang kisahnya yang sedang menggebu ingin menikah tetapi malah dihadapkan dengan kertas-kertas yang berisi susunan kata yang tertata. Ia merasa seperti lelaki yang telah jauh mengelana tapi masih primitive dalam urusan cinta. Ia mengadu seraya banyak beristigfar semoga Allah memberinya jalan.

Pikirannya hanyut, jauh terbang melayang ke negri seberang. Mesir, tempat jutaan umat berdzikir, berharap belas kasih dan jalan keluar. Tempat Universitas tertua di Dunia yang hampir seluruh orang ingin berangkat kesana tetapi hanya sedikit yang diterima, tempat memiliki banyak cerita diusia muda dan produktifnya dalam menimba ilmu, tempat berbagai kisah perjalanan hidup mulai dari bahagia hingga sedih nestapa. Tempat pertama dan terakhir Arif menemuinya, Khaulah, gadis bermata indah keturunan Mesir dan Polandia.

Hari itu adalah hari penting baginya, hari diundangnya Syeikh kibar dari Madinah untuk mengajar dikelasnya. Ia sangat bersemangat sehingga hampir semua buku dibawanya tak terkecuali Kitab jami' Duruts karangan Syeikh Mustafa al ghalayaini juga dibawanya. Kalau-kalau nanti diperlukan pada saat pertemuan.

Masih jam delapan pagi pikirnya. Ia menyempatkan melaksanakan sholat Dhuha, awalnya hanya berniat 2 rakaat saja, namun gerakan demi gerakan tersebut bukannya membuat badannya letih tapi malah tambah bersemangat. Arif menambah 2 rakaat lagi, 2 rakaat lagi dan 2 rakaat lagi stelah sholat ia mulai menangis, rindu Umi, rindu Abi rindu kampung halaman, Bogor.

Ia terus saja dengan khidmat mendoakan kebaikan kedua orang tuanya, saudara-saudaranya, kaum muslimin dan dirinya sendiri. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi, ia terhenyak saat menengadah ke dinding tempat jam digantungkan. Sesegera mungkin ia bersiap, merapikan pakaian yang dipakainya, memasukkan hp kedalam tas serta memasukan dompet kedalam saku celana dasar hitam yang ia kenakan.

Ia menarik dan menyandang ransel tempat buku-buku tersimpan 'sudah aman' pikirnya cepat. Lalu dengan sigap tangannya mengunci kamar flat dan bergegas ke halte bus untuk menuju ke kampus yang sudah tidak muda lagi itu. sudah 5 bus yang lewat dan semuanya penuh sesak, tak ada satupun bus yang menyisahkan barang sedikit tempat untuknya berdiri.

Arif masih tegas berdiri, meski terik matahari negeri yang dikepung oleh padang pasir itu serasa menampar wajahnya berulang kali. Jantungnya berdegup, takut-takut kalau ia terlambat dan tidak diijinkan masuk kedalam kelas karena dosen pengajarnya hari ini terkenal dengan kedisiplinannya. Bus tua yang dinanti tiba, entah memang belum rejeki sang sopir atau memang rezeki untuknya, bus itu terlihat lengang, tak ada yang berdiri. Malah masih menyisakan tempat untuk lelaki beransel coklat itu duduk.

'Alhamdulillah' lirihnya ketika masuk kedalam bus dengan tujuan kampusnya tersebut. Ia menoleh, ke kiri dan ke kanan. Semua bangku berisi, hanya tersisa 1 bangku saja yang kosong dengan seorang perempuan bercadar disebelahnya. Ia bingung, harus duduk disana atau memilih berdiri, tetapi, berpikir dengan kakinya yang sudah cukup letih dari tadi berdiri menunggu bus serta cuaca panas yang pasti berdampak dengan pengeluaran energy lebih banyak jika ia berdiri, maka Arif memilih alangkah baiknya jika ia duduk saja. Sekalian menghemat tenaga karena hari ini ia akan sampai sore berada di kampus.

Dzikir Cinta (Selesai)Where stories live. Discover now