Emang salah, kalau aku menyukai tiga cowok sekaligus?
👑👑👑
Rifa Gildert Yuviansyah.
Ya, cowok itu yang sekarang lagi menguasai hatiku. Dia pangeran hatiku. Cowok biasa yang bisa membuat hatiku jatuh ke arahnya dengan sikap dinginnya.
Aku gila? iya. Kenapa? Karena dia itu masih muda. Kita berbeda dua tahun. Dia masih duduk di bangku kelas X sedangkan aku, aku sudah duduk di bangku kelas XII.
Aku suka berondong? Iya, emang.
Rifa, dia sebenernya bukan pacar. Dia cuma masuk ke dalam daftar gebetan aku aja.
Aku mau sombong dikit, gak apa-apa 'kan? Aku punya tiga gebetan.
Semuanya punya kualitas tersendiri.
Yang pertama, Mude Alegro Alfiansyah. Cowok yang kulitnya kuning langsat, dia cuek, jahil, jarang senyum [senyum kalau ada yang bener-bener buat dia senang], dia berjambul, punya tinggi badan yang melebihiku, mempunyai bibir yang bewarna peach alami, dan mempunyai dada yang bidang [Kalau nyender enak, ya].
Yang kedua, Zuham Geovano. Cowok bertubuh jangkung, punya kaki yang jenjang, tubuh kurus, dan memiliki kulit yang terlampau putih. Dia itu kadang baik (kalau syaiton nya ngilang), pinter pula.
Yang ketiga, Rifa. Iya dia, yang bisa aku jelasin ke kalian tentang dia itu cuma penilaian tentang cara aku menilainya dari penampilannya doang sih, oke, dia itu dingin, pendiem, kadang senyum (kalau syaiton nya gak ada), dia manis pula.
Tiga gebetan aku itu gak semuanya berondong ya. Zuham. Ya, dia seumuran sama aku. Dia kelas XII-1. Asal kalian tahu aja ya, ketiga cowok itu gak tahu kalau aku suka sama mereka.
Ya, tapi gak pa-pa lah, lagian aku juga senang dengan kehadiran mereka. Oh iya, dari ketiga para gebetan aku itu, yang paling aku suka adalah Rifa, si bungsu.
Dia itu manis banget, menurutku. Kenapa aku suka banget sama dia? Karena Tuhan ciptain dia dengan takaran yang pas.
Namanya juga unik, kebanyakan Rifa itu digunain buat nama cewek, dan Ibunya milih kreasi baru dengan menamakan anak lelakinya itu Rifa.
👑👑👑
"Nin, lo makan sama apa?" Tanya temanku yang kulitnya cokelat eksotis--Sabrina. Dia adalah temanku yang paling doyan makan.
"Sama daging ayam dong," sahutku dengan nada songong.
"Ya elah Nina, sama daging aja sombong, gue dong, sama kepala ayam aja gak sombong." Sahut temanku yang tingginya melebihi aku dan Sabrina, dia Silfa. Aku hanya bisa terkekeh mendengar itu.
Iya, Nina. Itu namaku. Nama lengkapnya, Nina Agisti Agustius. Kalian mungkin ngira kalau aku lahir di bulan Agustus. Tapi, padahal nyatanya bukan begitu guys:)
Oke, saat kita lagi asik makan sambil ngoceh. Tiba-tiba datang seorang pangeranku, bukan datang, lebih tepatnya cuma lewat. Iya, dia Rifa. Pangeran manis yang menguasai hatiku. Astaga, rasanya oksigen ku habis cuma gara-gara dia lewat.
Napasku tercekat saat dia beneran lewat di depanku, walaupun dia gak ngelirik sama sekali ke arahku, tapi aku tetap saja merasa bahagia karena dia lewat. Setelah dia jauh, aku menaik turunkan tangan dengan tempo yang bersamaan dengan napasku yang udah gak bisa diatur lagi.
Sabrina sama Silfa malah cengo melihat aku yang kehabisan napas gara-gara Rifa. Astaga! Teman macam apa mereka?
Setelah napasku benar-benar normal barulah aku lanjut makan. Sambil senyum-senyum gak jelas karena bayangan Rifa masih memenuhi otak ku.
Dear, Rifa.
Oke, ini cuma cerita anak remaja lebay aja kayak gue. Kebetulan otak gue lagi encer jadi ya gue manfaatin aja buat cerita ini.
Semoga tuntas ya ceritanya:)
YOU ARE READING
Dear, Rifa.
Teen FictionCerita ringan yang gue buat cuma buat hiburan semata. Ini cerita ringan masa SMA yang gue karang sedemikian rupa biar menyenangkan untuk para pembaca. Maaf kalau ada kesamaan nama atau ada yang tersinggung karena cerita ini, karena gue cuma ngebuat...
