بسم الله الرحمن الرحيم
Namaku Almira, aku suka berteman dengan siapa saja. Aku suka bulan.
Aku suka hujan. Dan aku juga suka mengingat banyak kenangan.
Kata Umma, kita tidak boleh melupakan hal hal yang pernah menjadi kenangan. Sekalipun itu adalah hal yang menyakitkan. Karena bisa jadi, dari rasa sakit itu, kita dibesarkan dan kita ditangguhkan.
-Almira '19
-----------------------------------------------------------
Gubrak!!
Selebaran kertas berhasil mendarat sempurna di lantai. Perempuan itu segera menyusunnya dan memberikannya lagi kepadaku.
"Eh.. maaf ya Al, aku lagi ada misi penting nih." Ucapnya dengan nada sedikit bersalah.
Dia Ratih, lebih tepatnya Ratih Andhira. Sahabat ku sudah sejak lama. Mulai dari SD, SMP, SMA kami selalu satu sekolah bahkan satu kelas, kecuali di masa SMA, tapi kelas kami hanya berbeda satu lokal saja.
"Iya gapapa, lagi ada misi apa sih? Sampai keburu-buru gitu?" Tanyaku sambil merapikan kertas kembali.
"Biasalah Al, satu-satunya temen yang selalu nyusahin sekertarisnya ya cuma dia ini nih."
Ratih sambil mengepalkan tangannya dan mencari sosok yang dia maksud.
"Oh..hahaha kayanya aku tau deh siapa yang kamu maksud." Tawaku geli.
"Emh bukan siapa-siapa lagi deh, aku cari dia dulu ya, daa....... assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, semangat loh yaaaa!"
Sementara Ratih mencari mangsa nya, aku bergegas ke ruang guru mengantarkan daftar nama ini kepada Bu Salma.
[RUANG GURU]
"Permisi bu, ini daftar nama-nama peserta lomba karya tulis bu."
Aku meletakkannya diatas meja.
"Ohiya ada berapa orang yang sudah mendaftar Al?" Tanya bu Salma.
"Alhamdulillah, sampai sekarang sudah 152 peserta bu."
Jawabku.
"Bagus, sepertinya mulai besok pendaftaran sudah bisa ditutup ya. Kamu kerjasama dengan tim Mading untuk merapikan lagi isi Mading sekolah kita." Perintah Bu Salma.
"Siap bu, kalau gitu saya pamit balik ke kelas dulu."
-------------------------------------------------------
Sebagai ketua divisi Penyiaran OSIS, memang sudah kewajibanku melakukan tugas ini.
Sebelum kembali ke kelas, sejenak aku melihat madding yang tampak berantakan.
"MUHTADEEEEN!"
Dari kejauhan terdengar teriakan pak Zuhri, selaku guru bahasa arab disekolahku.
"Muhtadin loh pak." Ucap sosok laki-laki yang ternyata dia adalah si perusak mading.
Belum sempat ia melarikan diri dari pak Zuhri, ternyata tangannya sudah dipegang erat dan di tarik kedalam kelas.
Ah, ini bukan pertama kalinya aku melihat dia dimarahi oleh guru. Dia pula mangsa Ratih yang sejak tadi ia cari.
Namanya Muhtadin, panggilannya Tedi, temanku juga sejak SMP dulu. Kelakuannya memang tak berubah, walaupun akan menjadi siswa semester akhir di sekolah. Rambut acak acakan, baju yang dikeluarkan adalah khasnya.
"Duh Ratih, mangsa kamu udah ketangkep nih." Ucapku dalam hati sambil tertawa geli sendiri.
Mading itu pun kurapikan, kertas kertas sudah tidak lagi pada tempatnya karena jarum jarumnya sudah hilang tak terlihat.
"Sabar ya, namanya juga temen. Mau marah juga gak bisa kan?" Katanya sambil senyum menghela nafas.
Sosok yang tak terduga itu datang, membuatku sedikit kaget.
"Eh kak.." kataku reflek.
"Biar cepat selesai." Katanya sambil menempelkan kertas itu dengan lem yang ia bawa.
Karena tak ingin terlalu lama berdua, aku buru-buru merapikan kertas yang berjatuhan. Aku takut akan timbul berita yang tidak mengenakkan untuk didengar.
