"Hey, ganteng. Jadi pacarku yuk?"
***
"MARAYA! DIMANA MAKANAN SAYA?!"
Mendengar teriakan itu Maraya yang sedang memasukkan buku pelajaran ke dalam tas spontan berlari kecil ke ruang makan setelah mengambil semangkuk sup di dapur. Di atas kursi Dissa, ibu Maraya, sudah duduk anteng. Matanya menatap nyalang perempuan di depannya.
"Ma-maaf telat, Bu," ucap Maraya gagu sambil menundukkan kepala, menyodorkan semangkuk sup.
"Masak sup doang lama ya," cibir Dissa. Ia mengambil satu sendok, mencicipi kuah sup tersebut. Satu detik kemudian terdengar bunyi pecahan piring. Dissa melempar dengan entengnya. Tanpa tahu kalau Maraya sengaja bangun pagi hanya untuk memasak enak.
Ya iyalah Dissa tidak tahu. Yang dia tahu kan cuma tahu tempe.
"Masak sup doang kamu tidak bisa, Maraya?" sindir Dissa.
Kepala Maraya semakin tertunduk. Ia mencengkeram belakang seragam roknya gemetaran. Ia takut. Bukan, lebih tepatnya ia sedih dan kecewa. Bukannya hiperbola, tapi Maraya memang bangun subuh hari ini hanya untuk memasak sup jagung kesukaan sang ibu.
Dan lagi-lagi ia tidak berhasil memuaskan ibunya.
"Kamu mau apa?" Dissa menatap Maraya, menantang. Wajahnya terangkat angkuh membuat gadis itu semakin merasa bersalah. "Kamu mau saya tidak makan pagi ini makanya kamu sengaja membuat sup rasa muntah?"
"Maaf, Bu. A-aku..." Maraya cepat-cepat mengambil pecahan mangkuk. Tapi yang ada Dissa malah semakin murka, membuat Maraya menjadi salah tingkah.
"Sudah! Pergi kamu! Pergi!"
"Bu, aku-"
"Sekolah saja kamu sana! Sudah telat, bukan?!"
Maraya mendongak. Ia melepaskan pecahan mangkuk, membiarkannya begitu saja. Sebenarnya Maraya bingung. Jika ia membersihkan pecahan mangkuk, Dissa akan mengusirnya. Tapi jika ia tidak membersihkan pecahan mangkuk, Dissa akan terbebani. Dan membebani Dissa adalah hal terharam bagi Maraya.
Maraya menundukkan kepala memberi hormat sebelum pergi. Ia tersenyum. Di sisi lain, Maraya senang dengan perlakuan Dissa. Walau Dissa menganggap Maraya - yang merupakan anak kandung Dissa - hanya orang yang harus selalu disuruh-suruh, Dissa tetap memprioritaskan pendidikan Maraya.
Maraya Grizella Andira, dia salah satu murid kebanggaan SMA Cakrawala. Nilainya yang selalu mencetak angka 100, mengangkat nama sekolah dengan memenangkan berbagai olimpiade, dan satu hal lagi. Maraya penurut kelas satu.
"Maraya, tengok PR Fisika lo. Stress gue mikir kemarin! Lo taukan, otak gak boleh digas terus. Bisa-bisa otak gue pecah-cah-cah-cahhhh!"
Maraya mendongak dan tersenyum. Itu Leon. Suara Leon yang menggelegar sontak membuat satu kelas heboh dan mengerumuni kursi Maraya.
"Ya, gue juga dong! PR Kimia gue belum kelar!"
"Apaan sih lo? Gue duluan yang mau minta PR Kimia!"
"Tangan gue sakit Ya, kerjain PR gue please!"
Maraya cuma tersenyum menanggapi kawan-kawannya. Ia membuka tas dan meletakkan 3 buku tulis di atas meja. Belum satu detik, 3 buku tulis itu sontak menjadi rebutan.
"GUE DULUAN YANG AMBIL!" teriak William heboh.
"Woiiii, lo jangan main enak sendiri dong, Will! Kita juga mau lihat ini!" seru Leon dari samping William.
"Heboh kali kalian, njing!" sahut Josan jengkel. Ia memasukkan telunjuknya ke telinga. Kupingnya sakit mendengar teriakan William yang membahana. Sampai-sampai suara Brian yang sedang mengobrol dengannya tidak kedengaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
GENTRA
Romansa"Hidup itu enak tau!" kata seorang troublemaker bernama Kesya setelah membawa kericuhan di tengah GENTRA yang akhirnya mendapat kedamaian. Tahukah kamu? Kuatnya kapal diuji oleh besarnya ombak, tebalnya tali diperlihatkan oleh tajamnya gunting, soli...
