Prolog

36 2 0
                                        

Terkadang Tuhan memberikan kamu hidup bukan karena kamu membutuhkannya, melainkan karena orang lain membutuhkanmu.

Langit yang cerah seakan menjadi kebalikan dari kondisi hati Gadis yang sedang duduk di warung bakso itu. Hatinya mendung, sangat mendung. Sampai ia yakin sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat dihatinya. Matanya membuktikannya. Air mata itu kian deras membasahi pipi putihnya yang tirus itu. Bahkan sampai ketika pesanan baksonya sudah datang, air matanyapun masih saja menetes dengan sangat deras sehingga bakso yang sedah disantapnya mungkin bercampur dengan air mata yang menetes dari matanya itu.

Tanpa disadarinya, sejak tadi seseorang memperhatikannya. Setelah bakso yang dipesannya ludes ia menghentikan tangisannya dan menarik nafas lalu membuangnya dan melakukan itu berulang kali, kemudian setelah itu ia mencoba tersenyum sembari mengaduk es jeruknya.

Karena merasa penasaran, seseorang yang sejak tadi memperhatikan gadis itu, perlahan-lahan menghampiri gadis itu dan duduk di hadapannya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk tanda hormat karena orang yang berada di hadapannya kini adalah seorang pria paruh baya.

"Apa moodmu lebih baik setelah memakan bakso itu?"

Gadis itu terkejut. "Eh? Bagaimana Bapak bisa tahu?"

Lelaki paruh baya itu tersenyum, "Itu sangat mudah ditebak. Kamu mengingatkanku pada seseorang."

"Seseorang? Siapa itu?"

"Mendiang Istriku."

Gadis itu menggigit bibir bawahnya karena merasa bersalah. "Maaf Pak saya tidak bermaksud.."

"Tidak apa-apa, tenang saja. Kamu suka bakso?"

"Lebih tepatnya sangat suka sekali pak, bakso adalah makanan kesukaan saya." Ujar gadis itu dengan semangat.

"Siapa nama kamu Nak?"

"Naina Pak."

"Nama yang bagus." Ucap lelaki itu sambil tersenyum. "Perkenalkan nama saya Darma." Lanjutnya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tetapi tiba-tiba gadis mengatupkan kedua tangannya ke depan dadanya lalu meminta maaf dan di balas senyuman oleh lelaki itu.

"Jadi hal apa yang membuatmu menangis Nak Naina?"

Naina menatap lelaki itu dengan ragu. Ia merasa tidak yakin untuk menceritakan masalahnya pada lelaki itu karena mereka baru kenal. Sebelum dirinya merantau ke Jakarta, Ibunya berpesan untuk selalu berhati-hati dan waspada terhadap orang asing. Karena menurut ibunya, di kota besar sangat banyak modus kejahatan.

Seakan dapat menangkap keraguan dimata gadis itu, lelaki paruh baya itu tersenyum dan mengeluarkan kartu nama yang ia ambil dari dompetnya.

"Ini kartu nama saya jika kamu tidak percaya bahwa saya orang baik-baik."

Naina membelalakan matanya karena terkejut dan kali ini ia benar-benar merasa tidak enak karena salah sangka kepada lelaki paruh baya yang bernama Darma itu.

"Maaf Pak saya tidak bermaksud suudzon sama Bapak."

"Tidak apa-apa, di kota seperti Jakarta ini kewaspadaan memang diperlukan."

"Saya menangis karena saya baru saja ditolak oleh perusahaan yang saya lamar Pak."

"Ditolak?"

"Iya saya ditolak mentah-mentah oleh pihak HRD. Boleh dikatakan saya ditolak sebelum perang, saya ditolak sebelum memperlihatkan kemampuan saya." Naina menundukkan wajahnya lesu.

"Loh bagaimana bisa seperti itu?"

"Itu karena penampilan saya Pak, katanya penampilan saya sama sekali tidak menarik dan jauh dari standard perusahaan mereka."

Lelaki paruh baya itu lalu memperhatikan penampilan Gadis itu dari atas sampai bawah. Ia menggunakan setelan formal kemeja putih dan rok berwarna hitam panjang ditambah Jilbab hitamnya yang sangat panjang menurutnya, sehingga ia baru dapat mengetahui bahwa gadis itu memakai kemeja putih saat lelaki itu melihat sebelah tangan gadis itu yang sedang memegang sedotan.

"Pak tolong jangan melihat saya seperti itu, saya malu."

"Oh? Maaf saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya penasaran mengapa penampilan kamu bisa menjadi sebab ditolaknya kamu di perusahaan itu."

"Tidak apa-apa Pak, Qodarullah. Saya sudah menerimanya dengan ikhlas kok. Jika nantinya saya akan ditolak lagi karena penampilan saya yang seperti ini, saya akan menerimanya. Saya lebih memilih ditolak oleh sebuah perusahaan dari pada ditolak oleh Allah kelak di akhirat karena telah membuka aurat yang seharusnya saya jaga."

Lelaki itu tiba-tiba merinding karena perkataan Gadis itu. Ia sangat takjub dengan prinsip yang dipegangnya itu.

"Berapa umurmu Nak?"

"Saya 20 tahun Pak."

"Boleh saya melihat berkas lamaran kamu."

Naina menyerahkan berkas lamarannya kepada lelaki itu. "Ini berkas saya pak."

Lelaki itu membaca berkas itu dengan teliti dan tiba-tiba matanya membulat tetapi tetap membaca berkas itu hingga selesai.

"Jadi kamu mengikuti jalur akselerasi saat di bangku SMA dan menyelesaikan kuliah dalam waktu 3 tahun dengan gelar cumelaude?" ucap lelaki itu setelah selesai membaca berkas itu.

"Alhamdulillah Pak."

"Ini benar-benar luar biasa. Kamu hebat Nak. Jadi di Jakarta kamu tinggal dengan siapa?"

"Sejak awal kuliah saya tinggal sendiri di sini Pak, orang tua saya tinggal di kampung. Saya mengontrak rumah Pak, dan saya membayarnya dengan uang beasiswa yang saya dapatkan setiap bulannya. Selain itu saya juga bekerja paruh waktu untuk masukan tambahan. "

Setelah menjawab pertanyaan Lelaki itu, mata Naina tidak sengaja tertuju kepada kartu nama Lelaki itu. Ia mengambil kartu nama yang tadi Lelaki itu letakkan di atas meja lalu membaca tulisan yang ada di kartu nama itu. Dan seketika ia terkejut lalu menutup mulutnya dengan tangannya.

"Ada apa Nak?"

"Ja..jadi Pak Darma adalah..pemilik DM Group?"

"Iya benar. Oh astaga, jangan bilang kalau perusahankulah yang baru saja menolakmu?"

Naina menundukkan kepalanya. "Tapi sayaangnya itu benar Pak."

"Ini tidak benar. Bagaimana bisa perusahanku menolak sebuah berlian. Ini gila! ayo sekarang ikut saya ke kantor Nak."

"Ma..maksud Bapak apa?"

"Saya pemilik perusahan DM Group melamar Kamu Nak bergabung di perusahaan kami."

"Apa????"

"Ayo Nak segera ikut saya ke Kantor."

"Ta..tapi Pak."

"Ayo."

Pernah mendengar Malaikat tanpa sayap? Ya, kini Naina percaya jika Malaikat tanpa sayap itu benar-benar ada. Pak Darma, dia adalah malaikat tanpa sayap yang dikirimkan Tuhan untuk Naina. Sejak pertemuan di warung bakso itu kedidupan Naina berubah drastis. Sejak itu Naina dipercaya untuk menjadi staf di bagian produksi. Tetapi karena prestasinya di perushaan itu dan ide-idenya yang cemerlang untuk memajukan perusahaan, jabatannya terus meningkat.

Ia sangat bersyukur atas segala nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya. Dan ia merasa sangat bersyukur juga karena di pertemukan dengan Pak Darma waktu itu di warung bakso. Jika mengingat hal itu pasti Naina akan tersenyum sendiri ketika membayangkan dirinya yang waktu itu menangis sambil memakan bakso. Hal itu sangat memalukan baginya. Bakso memang makanan kesukaannya, dan sering kali ketika ia bersedih ia akan memakan itu untuk memperbaiki moodnya.

Dua tahun berlalu dan kini Naina menjadi Sekretaris pribadi Pak Darma, tetapi kata Pak Darma tugas utamanya adalah menjadi guru spiritual Pak Darma. Hubungan mereka memang semakin dekat karena Pak Darma sudah menganggap Naina sebagai putrinya sendiri, begitu juga dengan Naina yang menganggap Pak Darma orang tuanya sendiri, dan ia merasa berhutang budi kepada Pak Darma sepanjang hidupnya.

RISALAH CINTAWhere stories live. Discover now