1.

11K 637 106
                                        

"Namjoon, kau mau sampo yang wanginya apa?"

"Yang biasanya."

"Tapi ada wangi yang baru, kita coba wangi yang baru saja, ya?"

Ia mengangguk, lalu berjalan lebih dulu ke deretan barang yang lain. Kalau aku lebih suka berlama-lama di depan rak suatu barang, memilih produk mana yang akan dibeli. Makanya Namjoon tidak suka menemaniku belanja bulanan, katanya lama. Tapi hari ini dia mau ikut setelah kupaksa. Aku memandangi dua botol sampo dengan wangi yang berbeda ini cukup lama, sampai akhirnya aku memutuskan untuk membeli keduanya.

"Seojoon-ah, menurutmu kita harus beli apa lagi?"

"Cokelat."

Aku langsung tertawa kecil mendengar jawaban polos dari putraku. Ia menatapku bingung, lalu selanjutnya menarik ujung rokku sambil menunjuk ke satu arah.

"Eomma, cokelat." katanya.

"Coba tanya Appa dulu, Eomma akan membelikannya kalau Appa mengizinkan."

Ia langsung berlari menghampiri Namjoon yang tengah berdiri tidak jauh dari kami. Aku tersenyum dari jauh melihat Seojoon berbicara pada Ayahnya. Walau tak lama kemudian mereka berdua kembali ke arahku dengan wajah sama-sama cemberut.

"Jangan terlalu sering memberikannya coklate." ujar Namjoon seraya memasukkan beberapa barang ke dalam troli belanja.

Aku menoleh sedikit ke bawah, menemukan Seojoon sedang memeluk kakiku sambil menyandarkan kepalanya di sana. Sepertinya tadi Namjoon memarahinya karena minta dibelikan cokelat. Aku mengusap kepala anakku pelan, lalu berlutut di depannya. Bibirnya melengkung ke bawah, aku tidak tega kalau melihat wajahnya begini.

"Nanti Eomma belikan cokelatnya." kataku berbisik.

"Ya! Yewon-ah, kau jangan coba-coba memberikan Seojoon cokelat di belakangku."

"Namjoon, cuma cokelat saja kenapa pelit sekali, sih."

"Bukan aku yang pelit, tapi kau yang terlalu memanjakannya. Kemarin saja kau sudah memberinya dua buah cokelat, sekarang kau mau memberinya cokelat lagi?"

Aku berdecak pelan, lalu membawa Seojoon ke dalam gendonganku,"Kau yang dorong troli belanjanya kalau begitu."

"Harusnya kau tidak memberikannya cokelat waktu umurnya baru satu tahun lebih, sekarang lihat. Umurnya belum lagi tiga tahun, tapi sudah ketagihan cokelat."

Ucapannya benar, jadi aku lebih memilih diam sambil berjalan ke rak barang yang lain. Satu tanganku mengambil beberapa kebutuhan mandi untuk Seojoon.

"Aku sudah masukkan kebutuhan mandi untuk Seojoon tadi ke troli belanja, kita bisa pindah ke rak yang lain."

Mulutku bergumam kecil, "Namjoon, tanganku pegal."

"Baru sebentar sudah pegal, sini biar aku yang gendong Seojoon."

Aku hendak memberikan Seojoon kepada Namjoon, tapi putraku ini langsung menggelengkan kepalanya sambil memeluk leherku erat. Ia tidak mau digendong Ayahnya, sepertinya masih marah karena tidak dibelikan cokelat.

"Seojoon-ah, kau digendong Appa saja, ya?" tanyaku.

Suaranya hampir berbisik, "Tidak mau."

"Tangan Eomma sedang sakit, sini dengan Appa saja." ujar Namjoon sambil berusaha mengambil Seojoon dariku.

Putraku itu sempat merengek sedikit, tapi akhirnya ia diam juga begitu ada di dalam gendongan Namjoon. Aku mengelus kepalanya yang tengah tenggelam di leher Ayahnya. Aku dan Seojoon sepertinya sama-sama suka leher Namjoon.

FOOL - Kim NamjoonBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin