22.

252 30 24
                                    

“Nggak bisa gitu dong, Jeng. Kita sudah sepakat dengan kerjasama itu. Bagaimana bisa Jeng Ayu membatalkan sepihak?”

Reina yang baru saja masuk ke rumah tak sengaja mendengar suara mamanya tengah menelpon—dan sepertinya sedang dalam masalah.
Reina mendapati mamanya marah setelah menutup telponnya.

“Mama!” Reina memanggil mamanya yang kini duduk di sofa sambil memijat pelipis. “Reina pulang, Ma!”

Mamanya menoleh, hampir tak menyadari kedatangan Reina. “Sayang, kamu sudah pulang?” wanita yang tampak masih awet muda itu mendekat dan langsung memeluk putrinya seakan kejadian 1 menit yang lalu tidak pernah terjadi. “Gimana sekolah kamu?”

“Baik!” jawab Reina pendek.

“Sudah makan?” tanya mamanya.

Reina mengangguk, “Udah tadi sama temen-temen di kafe!”

“Benar sama teman? Baguslah.” Mama bersikap senetral mungkin di hadapan Reina.

“Tadi siapa yang telepon?” tanya Reina tiba-tiba.

“Oh, tadi. Nggak penting kok, temen mama.”

“Ma, ada yang ingin aku bicarakan, sebentar.” Reina mulai serius.

Mama tampak memicingkan mata, penasaran “Kenapa, Sayang? Apa kamu ada masalah? Kamu nggak betah di sekolah itu? Atau perlu kita pindah sekolah?” racau mamanya membuat Reina kebingungan.

“Aku baik-baik saja, Ma. Di sekolah juga nggak ada masalah. Aku betah di sana.”

Mama tersenyum lega, “Syukurlah, Mama harap kamu bisa menjaga diri di sekolah itu, dan jangan sampai kejadian kakak kamu terulang kembali. Janji sama Mama, jangan pernah terlibat dengan urusan sekolah itu, ya, Rein?” Nasihat mama mengingatkannya.

Niat Reina ingin menceritakan tentang sekolah diurungkannya saat mendengar kalimat mamanya yang seperti menyembunyikan sesuatu. Dia semakin penasaran. “Kenapa Rein nggak boleh terlibat urusan sekolah itu? Apa ini juga pernah terjadi sama kak Reihan? Karena Kak Reihan terlibat, dia jadi meninggal?”

Mama bungkam. "Bukan begitu, Sayang. Kamu tahu, kan, tidak baik mencampuri—"

“Mama menyembunyikan sesuatu?” tuduh Reina curiga.

“Reina!”

“Katakan sama Reina, Ma, apa yang sebenarnya terjadi dengan sekolah itu?”

Mama masih diam, geraknya sedikit kikuk. Reina menunggu mamanya berbicara, tapi sepertinya wanita itu lebih memilih bungkam.

“Baik. Reina akan cari tahu sendiri!” Reina yang kesal, langsung beranjak pergi meninggalkan mamanya untuk naik ke atas menuju kamarnya.

“Reina! Mama melarang kamu mencampuri urusan sekolah itu, Sayang! Dengerin Mama sekali ini, Sayang!”

Reina berhenti sejenak di anak tangga, tanpa menoleh, dia mengatakan, “Mama jangan lupa. Satu-satunya alasan Rein ke sekolah itu untuk Kak Reihan.”  Kemudian dia melanjutkan menaiki tangga.

“Kamu bisa dalam masalah besar kalau berurusan dengan pihak sekolah itu, Reina!”

Mendengar ucapan mamanya tentang pihak sekolah, membuat Reina menghentikan langkah sampai mencapai beberapa tangga. “Pihak sekolah?” Reina menoleh ke belakang.
“Apa maksud Mama?”

🍀🍀🍀

Sementara di lain rumah, Alan terlihat berpikir serius terkait surat beasiswa yang dibatalkan pihak sekolah. “Beasiswa Reihan dicabut gara-gara nilainya turun? Apa hubungannya dengan Reihan yang dibunuh? Bukankah lebih masuk akal kalau Rei bunuh diri? Reihan…” Alan kembali teringat akan sahabatnya itu.

Secret Clover [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang