[DISCOUNTINUE]
karena ketidaksengajaannya melihat pembunuhan, kehidupan seorang kim yerim pun berubah. perkelahian, darah, dan mayat yang memang sudah menjadi hal biasa baginya, kian meningkat. yang awalnya hidup dengan tenang, sekarang penuh dengan...
"Ayo berangkat" ujar Saeron lalu mengaitkan tangannya kepada Yerim. Yerim hanya mengangguk, lalu mereka pun memulai perjalanan mereka.
"Ah jinjja. Dingin sekali hari ini" ujar Saeron lalu menarik tangannya dan mengusap-ngusapkannya kepipi.
"tentu saja, inikan masih pagi" Yerim berujar pelan. Lalu mengikuti apa yang Saeron lakukan.
"Aku rasa kita harus cepat, penghangat menunggu kita rim" Saeron merengut lalu mengambil ancang ancang berlari.
"Lagipula, yang pertama sampai akan mendapatkan Maneul Chicken untuk dirumahnya!" Lalu Saeron berlari meninggalkan Yerim yang terkejut.
"Hey curang! Aku belum siap bodoh! Aish" Yerim pun mengejar Saeron sambil menggerutu kesal. Ia harus menang jika tidak mau uangnya hangus.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Drrt Drrt
Pria itu melihat ponselnya lalu mengangkatnya.
"Apa semuanya sudah siap?"
"………"
"Bagus, aku sangat ingin kali ini lancar 100% tanpa cacat. Kau mengerti?"
"………"
"Ngomong ngomong, kau sudah mencari tau tentang gadis itu? "
"………"
"Hm. Cari lebih banyak lagi. Aku berpikir untuk merengkrut anggota baru. Kemampuannya tidak bisa di sia siakan 'kan?"
"………"
Lalu ia menutup teleponnya. Jari jarinya ia ketuk ketuk di meja kantornya itu. Sambil melihat ke arah jendela, ia membatin 'aku harus mendapatkannya. gadis itu. Yah, lihat saja nanti'.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"HAH LELAHNYAAA!" teriak Joohyun. Jennie yang disampingnya tersenyum seringai. Lalu meletakkan air untuk Joohyun.
"Apa kasusnya hari ini?" tanya Jennie lalu mendudukkan diri didepan Joohyun. Joohyun mengendus.
"Ada satu kasus yang sangat sangat menyebalkan. Kau tahu? Aku benar benar kesal hari ini. Seorang anak kecil yang tadi menelepon itu membohongi kita. Dia bilang ada pencuri dirumahnya, dan kau tahu apa? Itu adalah sepupunya! Heol!"
Joohyun menceritakan dengan pandangan menggebuh gebuh. Terlihat memang ia sedang kesal.
"Hey, sudahlah. Itu kan hanya anak kecil. Maklumi saja" Ucap Jennie menasihati Joohyun.
"Aku bisa terima jika ia tak sengaja. Tapi ini sudah direncanakan! Dan- oh! Kau tahu? Sepupunya itu adalah Detektif yang akan bekerja sama denganku! Gila! Hah! Ini benar-benar sudah direncanakan 'kan?! Heol, sungguh aku membenci ini heuheu" Joohyun menidurkan kepalanya frustasi dan sedikit mengeluarkan suara nangis pura-puranya. Jennie tersenyum.
"Keren sekali Detektif itu. Ia bisa menipu seorang Bae Joohyun. Haha" Jennie tertawa. Joohyun mengangkat kepalanya dan mengendus sambil membuang muka.
"Apakah tidak ada kasus yang seru?! Kasus yang tegang?! Kasus yang rumit?! Kasus yang bisa dibilang benar benar kasus?! Aku benci dengan kasusku selama ini! Rasanya terlalu easy" Joohyun menopang dagunya sambil meratapi nasibnya.
"AKU MAU KASUS YANG SERIUS HUHU!" teriakan frustasi dari sahabatnya itu benar-benar membuat Jennie tertawa terpingkal-pingkal.
"BERHENTI TERTAWA PABBO!" Joohyun kesal sekali sekarang. Dan melihat itu Jennie pun mulai menghentikan tawanya perlahan-lahan.
"Uh, oke oke. Mianhae. Tapi ngomong-ngomong, siapa nama detektif itu?" tanya Jennie penasaran.
"Taehyung. Kim Taehyung."
"Apa tadi itu tidak keterlaluan?" tanya jimin meminum colanya. Lalu melihat kearah Taehyung yang dengan santainya menonton film animasi larva.
"Michyeoseo. Kau tidak lihat tadi mukanya kesal sekali? Ah ya. Ngomong-ngomong dia cantik" Kali ini Taehyung yang mengendus.
"Aku punya Sooyoung, kau ingat?"
"Jadi jika kau tidak punya Sooyoung kau akan mendekatinya?" tanya jimin menatap Taehyung. Taehyung mengambil colanya dan meminumnya.
"Mungkin. Aku rasa juga aku tak tertarik dengannya. Toh takdir tidak ada yang tahu 'kan?" Taehyung membalas tatapan jimin.
"Kau benar. Takdir tidak ada yang tahu. Dan aku rasa firasatku kali ini benar. Kau dan dia. Bersatu."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Kemana ini?" Tanya Yerim pada Suhyun. Suhyun menoleh sekilas lalu lanjut menulis.
"Meja nomor 14" Jawab suhyun singkat. Yerim mengendus dan mulai berjalan kearah meja nomor 14.
Hari ini cafe tidak terlalu padat seperti biasanya. Kemungkinan besar karena jam makan siang telah usai. Yerim sih bersyukur. Jadi ia tidak terlalu kelelahan nantinya.
Setelah sampai di meja 14, ia segera meletakkan pesanan itu dan tersenyum ramah. Sedikit menyapa lalu kembali menuju ke belakang cafe.
Diperjalanan ia melihat ada cairan yang entah dari mana. Ia pikir itu bisa menyebabkan orang jatuh.
Dan benar saja, Saeron, yang tengah membawa pesanan lain terlihat oleng saat melewati jalan itu. Yah sepertinya saeron tidak melihat cairan itu tadi.
Yerim pun dengan sigap langsung mengambil makanan yang telah terlempar itu satu satu. Dan menolong saeron. Disaat yang bersamaan.
Hal itu sukses menjadi perhatian para pengunjung. Pujian dan decak kagum juga jelas terdengar. Tapi Yerim mengabaikannya.
"Gwenchana?" tanya Yerim kepada Saeron. Saeron hanya mengganggukkan kepalanya. Mungkin ia masih syok.
"Aku hampir mengacaukannya. Tapi itu terhalang berkat kau Yerim. Terima kasih" Ujar Saeron tulus. Yerim mengganggukkan kepalanya lalu mengajaknya kebelakang cafe.
Seseorang di meja ujung sana pun tersenyum simpul. Yeah, kena kau Yerim.
TBC
Mohon hargai cerita dengan vote dan comment. Sangat berarti karena itu juga membuat saya menjadi lebih semangat.