Bab 1.

256 61 113
                                        

Dari awal perkenalan kita yang cukup baik, semoga saja membuat semesta mengizinkan pintu pertemuan selanjutnya.


"Gais, hari ini pemeriksaan keliling. Siapin atribut kalian. "

Aku yang sedang membaca novel sontak saja memegang kerah baju. Memastikan bahwa dasi yang sudah kusiapkan tadi pagi sudah terpasang.

Lututku langsung melemas saat dasi yang aku pikir sudah terpasang rapi ternyata tidak ada di bagian kerah seragam. Aku melirik ke sekeliling, melihat beberapa murid yang santai saja karena atribut mereka lengkap.

Duh, bagaimana ini. Aku tidak mau dihukum. Terlebih akan sangat memalukan berada di barisan para murid yang melanggar aturan. Seluruh murid di sekolah akan mengecapku sebagai murid tidak taat aturan.

Duh, seharusnya aku tidak perlu lebay seperti ini. Berburuk sangka duluan. Tapi karena ini pengalaman pertamaku tidak lengkap memakai atribut, jadilah pemikiran buruk itu datang.

Mau pergi ke koperasi sekolah untuk membeli dasi pun percuma. Karena di hari senin, terlebih sebelum upacara, koperasi masih tutup. Seperti menyengajakan para murid tidak lengkap atribut untuk dihukum.

Waktu yang tersisa sebelum para OSIS memerika setiap kelas ada lima belas menit lagi. Tapi aku tidak tau apa yang harus dilakukan. Mau kabur, tapi kemana ya. Anak kelas satu yang baru saja menginjakkan kaki di sekolah ini selama tiga bulan tidak boleh macam-macam dulu. Terlebih akan sangat berbahaya jika ada yang mengetahuinya.

Puput, teman sebangkuku yang saat ini belum datang itu sepertinya bisa membantuku. semoga saja ia membawanya.

Tanpa pikir panjang, aku bangkit dari kursi dan segera keluar kelas menuju halaman belakang sekolah. Tempat sepi yang biasanya digunakan anak badung untuk bolos. Karena di samping tempat itu, ada warung kecil yang sering digunakan untuk menjadi tongkrongan para anak badung itu. Hanya berjarak satu tembok yang lumayan tinggi. Mereka biasanya memanjat tembok itu secara diam-diam.

Setibanya di halaman belakang sekolah, aku mengeluarkan handphone dan segera menelpon Puput. Semoga saja ia mengangkat.

Satu menit... Dua menit...

Puput tidak mengangkatnya. Maksudku menelpon Puput untuk menyuruh perempuan itu cepat datang ke sekolah. Karena biasanya Puput membawa double atribut di hari senin. Dan biasanya murid yang tidak lengkap atribut di hari senin akan dipinjamkan oleh Puput. Karena kasian katanya.

"Duh, tinggal sepuluh melagi upacara dimulai. Aku harus gimana... "

Aku mengirim pesan singkat ke Puput.

Cepat datang ke sekolah. Aku lupa bawa dasi. Ingin pinjam ke kamu.

Tidak lama ada balasan pesan dari Puput. Aku segera membukanya dan pupus sudah harapanku satu-satunya saat membaca pesan dari Puput tersebut.

Al, kayaknya gue datang ke sekolah habis upacara selesai. Motor gue mogok. Ini lagi di bengkel dan katanya motor gue bisa baik dalam waktu tiga puluh menit. tadi sudah minta surat izin ke BK.

Mati aku. Sepertinya memang sudah saatnya menyerah saja. Memasuki area lapangan dan langsung berbaris di bagian murid tidak lengkap atribut. Tapi dadaku sedang berdebar hebat. Kakiku juga belum siap melangkah ke sana.

Aku menunduk sejenak. Menghilangkan rasa gugup itu sebentar. Sebelum pada akhirnya aku menyerahkan diri saja.

Iya. Tidak apa untuk sekali ini saja dihukum.

Meski aku tidak rela.

Tidak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku semakin gugup dan makin menundukkan kepala sambil meremas sisi bagian rok.

Jangan bilang ini anggota osis. Bego banget sih. Kan makin berat hukumannya kalau dikira lagi bolos di halaman belakang.

"Ngapain di sini?"

Aku tidak menjawabnya. Bingung ingin menjawab apa.

"Kok, diem? "

Duh. Ini aku mesti jawab apa. Aku semakin deg-degan. Membayangkan diseret ke lapangan sekolah saat semua murid mungkin sudah bersiap dilapangan benar-benar sangat memalukan.

Tapi, aku tidak boleh diam terus. Iya, aku harus menjawabnya. Tapi... Ngomong apa ya?

"Maaf kak," kataku membuka suara. dengan nada ketakutan tentu saja.

"Maaf untuk apa?" tanya laki-laki itu tenang. "kesalahan apa yang sudah lo perbuat? "

Mati aku. Apakah seperti ini rasanya disidang saat melakukan kesalahan.

"Maaf karena hari ini aku enggak bawa dasi ke sekolah. Terus kaburnya ke halaman belakang karena ingin menelpon temanku. Kalau mau menyeretku ke lapangan, aku sudah ikhlas kok." Aku masih menunduk. Menunggu reaksi selanjutnya dari sang lelaki yang ku perkirakan adalah anggota OSIS.

Laki-laki itu terdiam sejenak. Aku sama sekali tidak tau apa reaksinya saat ini. Mungkin ia sudah meradang, dan ingin segera menyeretku ke lapangan.

Alih-alih pikiran buruk itu terjadi, suara tawa kencang yang malah keluar dari mulutnya. Aku kebingungan. Kenapa ia tertawa. Aku sedang tidak melucu dan ini benar-benar saat menegangkan menurutku.

"Kenapa tertawa? "

"Lo lucu banget."

"Maksudnya?"

"Lo ngira nya gue siapa? Ngapa tegang amat elah. Santuy kek."

Aku semakin heran. Dia... Anggota OSIS yang sedang patroli keliling sekolah, kan?

"Kakak kan anggota OSIS. Dan sekarang aku sudah tertangkap basah di halaman belakang sekolah. Kenapa kakak malah ketawa? "

"Alya.. Alya. Gini ya ternyata sifat lo. Penakut. "

"maksudnya?" aku terdiam beberapa detik lalu mengernyit heran saat lelaki yang tidak aku kenal menyebut namaku. "kakak tau namaku dari siapa? "

Lelaki itu mengendikkan dagunya ke arah dadaku yang membuatku jadi mengerti. Ah... Dari nametag rupanya.

Lelaki itu memandang wajahku sejenak. Lalu membuka dasi yang ia kenakan dan memakaikannya di leherku. Tubuhnya yang membungkuk sedikit, serta wajahnya yang tepat di hadapanku dengan jarak beberapa inci saja membuat orang lain mungkin akan berpikir ambigu.

Tahu tidak apa yang sedang kurasakan sekarang? Rasanya seperti membeku di kutub es dengan dada yang berdebar hebat. Sepertinya debarannya lebih kencang daripada tidak memakai dasi tadi. Sedikit salah tingkah juga sih. Aku menahan napasku beberapa saat dan memandang wajahnya yang sedang fokus membentuk dasi itu.

"Napas. Nanti lo mati. Gue enggak mau kena imbasnya," katanya bercanda saat selesai memakaikan dasi itu.

"I-iya." Sial! Kenapa aku jadi gugup begini.

"Sekarang lo udah punya dasi. Waktu lo tinggal empat menit lagi dari sekarang. Entar bilang aja dari toilet."

"Terimakasih. Tapi gimana dengan kakak? Entar kakak dihukum."

"Gue enggak ikut upacara. Malas panas-panasan."

"Eh?" belum selesai kebingunganku mereda, lelaki itu tersenyum kecil dan melangkah ke arah lain.

Tepat lima langkah ia berjalan, dan aku sudah bersiap ke lapangan, lelaki itu berhenti dan menoleh ke arahku.

"Nama gue Dava. Lo bisa ngembaliin dasinya ke kelas sebelas IPS tiga," ucapnya lalu melangkah lagi.

Aku mengangguk kecil dan tidak membalas. Melangkah menjauh dari halaman belakang sekolah.

Ah, jadi ini kakak kelas bernama Dava yang sering temanku ceritakan di kelas.

BERSAMBUNG...

Maaf kalau enggak seru. Aku menulis untuk menciptakan duniaku sendiri.

Kamis, 23 April 2020

Hi, You!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang