Bunuh diri.
Bunuh diri adalah Bahasa Indonesia dari Suicide yang berasal dari kata latin Suicidium dan memiliki arti sebagai sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri.
Kenapa tiba-tiba gue ngejelasin kata tersebut di pembukaan cerita ini kepada kalian? Karena pada detik-detik inilah , Gue, Graha Purnama, seorang remaja cowok Kelas 2 SMU di sebuah Kota bernama Kalareja, pemilik 2 rambut runcing hitam yang menyerupai tanduk di kedua sisi rambutnya, akan melakukan hal di atas di dalam gudang rumah sederhana gue yang remang-remang, pengap, dan berukuran sedang ini.
Waktu di dalam Smartphone ku menunjukkan pukul 16:00 dan
udara di dalam gudang ini begitu panas. Namun, entah kenapa tubuh gie yang memakai kaus t-shirt berwarna biru ini merasa menggigil ketika aku melihat seutas tali rafia simpul berwarna biru yang menggantung di depan mata gue.
Sambil terus menggigil, gue mencoba untuk menenangkan diri dengan melihat gambar seorang gadis cantik berambut hitam dengan gaya rambut kuncir kuda di dalam Smartphone gue. Setelah menelan ludah, gue berkata.
"Apa kita harus melakukan ini?"
Setelah diriku mengatakan itu, tiba-tiba saja kesadarank gue menghilang sedikit, dan mulut gue bergerak sendiri sambil berkata.
"Mau gimana lagi, bos?"
"Gebetan bos udah meninggal, Adiknya musuhin bos, terus Bokap nya bos cuma peduli sama nilai bagus bos di Sekolah."
Tubuh gue mulai bergerak sendiri berjalan kesana kemari.
"Lagipula saat ini gak ada orang di rumah, 'kan? Jadi..."
Langkahku terhenti dan tangan gue bergerak sendiri mengambil posisi memberi hormat kepada tali rafia simpul berwarna biru yang menggantung di depanku.
"INILAH SAAT YANG TEPAT MELAKUKAN ITU !"
Mendengar hal itu, gue pun berhasil meraih kesadaranku dan langsung memukul diri sendiri dengan tangan kiriku yang sedang menggenggam Smartphone.
*PLAAK!*
"BAJINGAAN!" Sambil tubuh gue berjalan sempoyongan sampai hampir menabrak salah satu rak di gudang ini.
"Lu kira salah siapa kita dapat masalah sampai kayak gini?"
Kita, ya! Saat ini gue sedang berbicara pada diri gue sendiri.
Sebelum gue ngelanjutin percakapan di atas, gue pengen ngaku kepada para pembaca, kalau gue ini punya Kepribadian Satu lagi yang cukup mengganggu kehidupan gue sehari-hari sejak gue duduk di bangku Kelas 3 SMP.
Soalnya, meski kita dapat berkomunikasi satu sama lain. Kepribadian gue yang satu lagi ini sering buat masalah saat kesadaran gue lagi menghilang maupun tidak.
Kepribadian gue yang satu lagi ini bernama Raga dan dia suka menyebut diri gue sebagai bos.
Dengan rasa kesal yang tersisa, Gue menarik kerah baju gue sendiri dengan tangan kanan.
"Bunuh diri itu gak enak tahu, dosanya gede pula!"
"Jadi PLIS! Untuk sekali ini jangan buat gue tertekan lagi sampai ngasih dorongan gue buat bunuh diri!"
Mendengar nada keputusasaan gue, Raga pun langsung membalas.
"Memangnya bos bisa menahan semua penderitaan dan rasa bersalah ini sendirian?"
"Tentu bisa! Asal lu jangan gangguin gue aja buat Survive dari semua itu, OK!?"
"Kalau emang begitu.."
Raga menggerakkan tangan gue menunjuk tali rafia simpul yang menggantung di depanku.
"Kenapa bos buat begituan disana?"
ESTÁS LEYENDO
Suicidoll
ParanormalHidup itu dipenuhi kejutan yang tak terduga. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan sebuah pengalaman yang dialami seorang remaja kelas 2 SMU berkepribadian ganda yang bernama Graha Purnama. Karena saat sedang menyelidiki kematian g...
