Prolog

513 35 18
                                        

"Bisikan angin dan desahan daun basah, saling bertautan, menyatakan rindu yang mendalam"


Aku mengikuti langkah Kaki ku memasuki gerbang sekolah. Berjalan santai menikmati angin pagi yang menyapa ku, perlahan membuat rambut ku sedikit berantakan. Perkenalkan namaku Kania Veronica, mereka menyapa ku Kania.

"Kan..! " teriak entah siapa dibelakang ku, hingga memaksa ku untuk sekedar menoleh kebelakang dan menemu sosok manusia bertubuh sedang, dengan rambut dikuncir satu yang tengah mengatur nafasnya. Dia Naura Angela, teman dekat ku dari SMP.

"Kenapa sih na?, pagi-pagi udah bikin kuping orang budek aja. " tanya ku.

" Gpp sih, ngetes aja" Jawab nya santai.

"Beruntung lu temen gua, kalo nggak dah gua gigit dari kemaren " sahut ku.

"Santai dong" jawab nya dengan cengiran khas mukanya yang minta ditabok.

Aku tak lagi menggubrisnya, membiarkan nya mengomel tak jelas dibelakang dan setengah berlali menyusul ku yang sudah menyusuri koridor menuju kelas ku.

Tiba kaki ku di tangga terakhir, bersiap membelok di ujung tangga terhenti setelah sosok manusia bertubuh jangkung menabrak ku hingga tubuh ku bersentuhan dengan lantai. "Woi..!! Kalo jalan liat liat dong" Sungut ku sambil berusahan bangkit, sambil memegangi kaki ku yg sakit.

"Santuy laah, kaga liat tadi." Jawab nya santai sambil berlalu.

Entah sejak kapan, Naura yang tadinya tertinggal dibelakang sudah berada di belakang ku. Tertawa pelan sambil berjalan mendekati ku.

"lo habis ngapain? Kok pake acara bersimpuh dilantai" Tanya Naura sambil berkacak pinggang dan menahan tawa.

"Gara-gara temen lo itu, si kutu anoa" Jawab ku sambil berjalan ke ujung koridor.

"Ciee.. Kayaknya emang jodoh tuh lo ma dia! " Jawab Naura ngawur, sambil berjalan menyusul ku.

"Amit-amit tujuh turunan, gue jodoh ma dia" Balas ku sambil tangan ku mengetuk-ngetuk apa pun yg ada di depan ku.

Kaki ku sudah tak semangat tadi saat melangkah ke kelas. Kejadian barusan membuat mood ku turun, 'dasar kutu anoa' umpat ku dalam hati.

"Pagi-pagi tuh muka kusut amat." Ucap Vera. Aku tak menggubrisnya, hanya berlalu menuju mejaku dibelakang meja Vera.

"Tadi habis ditabrak jodohnya" Ucap Naura.

"Jodoh-jodoh, pala lu peang!" Balas ku disambut tawa mereka.

"Aseekk.. Pagi pagi dah dapet sarapan aja lu" Timpal Andra semakin membuat kelas ku riuh.

"Langgeng aja lu ma si Keenan" Tambah Dion.

"Bunuh orang tuh dosa nggak sih? " Tanya ku bercanda, berharap mereka tersindir.

" Sante kali kan, " Balas Dion

" Kan lo emang jodoh ma dia, dari dulu sampe sekarang masih aja dijodoh-jodohin ma dia" Timpal Farell diikuti anggukan setuju yang lainya.

Aku menghembuskan nafas gusar, jika saja dulu nggak ada kejadian jatuh yang amat terkutuk itu, pasti sekarang hidup ku aman dan damai dari seorang Bad Boy sejati cap kaki kucing, cowok super nyebelin, sok cool, badan kaya tiang listrik, dan mukanya yang tiap hari minta ditabok pake sepatu, terangkum dalam diri seorang Keenandra Agatha. Anak dari pemilik SMA Satya Bangsa yang notabe nya adalah sekolah ku.

Bersambungg..

Tunggu lanjutanyaa yaa!!

Pecandu Rindu Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang