Satu

505 21 1
                                        


Hari ini Qalea meruntuki dirinya sendiri karena semalam lupa memasang alarm, akibatnya dia jadi bangun terlambat dan kesiangan.

Qalea yang berasal dari keluarga broken home membuat dirinya tumbuh besar tanpa orang tua. Ayahnya yang sibuk bekerja dan wanita-wanita simpanannya, serta Bundanya yang sudah melupakan Qalea karena keluarga barunya.

Kedua orang tua Qalea bercerai ketika dirinya masih berusia empat belas tahun, tepatnya saat Qalea baru memasuki tahun pertama sekolah menengah pertama waktu itu.

Perceraian tersebut dilayangkan secara sepihak oleh Reni dikarenakan rasa muaknya terhadap Damar yang terus bermain dengan wanita lain.

Tentu saja Damar tidak menolak untuk tidak menyutujui perceraian mereka, dia langsung menerima gugatan istrinya dengan syarat bahwa Qalea tetap tinggal bersamanya. Namun anehnya, Reni malah sependapat terhadap hal tersebut. Wanita itu langsung pergi dari rumah mereka dan meninggalkan Qalea tanpa berpamitan sepatah kata.

Meski selama ini Qalea terus berusaha untuk menghubungi Bundanya, Reni tidak pernah memberinya respon atau balasan apapun, dia seolah memutus ikatan dengan Qalea.

Jika tinggal bersama Ayahnya bisa membuat Qalea merasa tidak kesepian, sepertinya tidak. Perempuan itu bahkan sangat jarang bertemu dengan Damar karena Ayahnya tidak pernah berada di rumah. Entah beliau bekerja atau bermain bersama wanita-wanita simpanannya, Qalea tidak terlalu mengetahui hal tersebut. Yang Qalea tahu dirinya sudah diberi kehidupan yang lebih dari cukup oleh Damar. Jadi Qalea tidak mau ambil pusing, selagi dia masih diberi kesempatan untuk bernafas, Qalea tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya untuk mengurusi hidup orang lain termasuk Ayahnya sendiri.

Iri dengan kehidupan orang lain?, sudah pasti Qalea iri. Dia juga ingin memiliki keluarga yang utuh, sosok Ibu yang mendengarkan segala keluh kesahnya dan sosok Ayah yang akan melidunginya. Qalea mau itu semua. Tapi dia sadar, itu kehidupan orang lain bukan kehidupannya. Qalea juga sadar, semakin kita menginginkan sesuatu hal, semakin jauh pula sesuatu hal itu bisa terjadi.

Oleh sebab itu, Qalea selalu mensyukuri apa yang dia punya. Qalea tidak pernah mau mengharapkan lebih. Lagi pula, dia masih mempunyai Tuhan yang selalu berada di sisinya.

Perempuan itu mempercepat langkahnya sambil sesekali melihat jam tangan. Samar-samar Qalea dapat mendengar suara orang mengajar di dalam kelas yang bertuliskan 12 Science 2 di atas pintu itu. Sepertinya, Bu Risma sudah masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran tanpa dirinya.

Qalea memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut, tidak lama kemudian muncullah Bu Risma pada mulut pintu.

"Pagi Bu!." Sapa Qalea dengan senyum semanis mungkin, berharap jika senyum manisnya bisa meluluhkan hati wanita itu.

"Kamu terlambat?!."

Qalea menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Iya bu."

"Udah kelas dua belas bukannya makin rajin malah makin malas!."

"Justru itu Bu, sebelum lulus saya masih bisa males-malesan."

"Kamu ini jawab aja!. Lari lapangan 10 putaran!."

Sontak saja mata Qalea terbelalak, "Bu?!, saya lari 2 putaran aja ngos-ngosan apala,."

"Cepat Qalea!, atau hukuman kamu Ibu tambah!."

Bu Risma yang langsung memotong ucapannya membuat Qalea mendengus, dengan pasrah dia membalikkan badan untuk menuju lapangan namun ucapan Bu Risma selanjutnya mengurunkan niat Qalea.

"Simpan dulu tas kamu di dalam!."

Tanpa bantahan apapun perempuan itu memilih menurut, dari pada memprotes dan mengakibatkan hukumannya semakin bertambah, lebih baik Qalea diam.

REbound RElationshipWhere stories live. Discover now