Kusibakkan selimutku dengan asal, ketika sang mentari berusaha masuk melalui celah kordenku, baru beberapa saat mataku terpejam, karena pasalnya aku terlebih dahulu bangun saat shubuh, menunaikan kewajibanku sebagai umat.
Aku berdiri dan sedikit terhuyung ketika aku mempercepat langkahku menuju kamar mandi, berusaha mengumpulkan semua nyawaku yang masih berkeliaran dialam mimpi.
Setelah 30 menit aku bersiap, aku melangkahkan kaki menuju arah dapur, kulihat seorang wanita paruh baya yang tengah menyiapkan sarapan,
"Pagi mama" sapaku, aku duduk menatap semua makanan yang terhidang di depanku
"Pagi sayang" jawab wanita paruh baya tersebut yang tak lain adalah ibuku yang kupanggil dengan sebutan "mama"
"Hari ini Ana sarapan di sekolah saja ya ma, Ana takut terlambat"
Ujarku yang sedari tadi melirik jam tangan putih yang melingkar dipergelangan tangan kiriku
"Ya udah, biar mama siapin bekalnya" dengan sigapnya mama menyiapkan bekal untukku. Setelah selesai aku beranjak dari dudukku dan langsung mencium punggung tangan mama dan tak lupa mengucapkan salam. Aku berjalan menuju teras depan, disana tengah terparkir sepeda biruku yang siap menemaniku ke sekolah.
Setelah 15 menit menempuh perjalanan, aku tiba disebuah bangunan yang tak lain adalah sekolahku, aku memarkirkan sepeda dengan rapi, membawa buku ku yang tadi kuletakkan dalam ranjang sepedaku, dengan langkah santai aku berjalan menuju kelasku
"Ana!" Tepukan dibahuku, membuatku sedikit tersentak
"Ya Allah Wa, kamu ini selalu membuat orang terkejut" Omelku
"Ya kan aku reflek Na" aku mendengus,
Dia adalah Nawaira Anastasya sahabatku, aku mengenalnya saat pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah ini, dia seseorang yang sedikit cerewet atau bahkan bisa dibilang lebih dari cerewet. Berperawakan tinggi, putih, dan rambut hitam panjang, dan memiliki wajah yang lebih dari kata biasa.
"Ana" lagi dan lagi dia menepuk bahuku disaat aku tengah asyik melamun "kata Bu Dayu sebentar lagi akan diadakan pensi, dan katanya semua ekskul wajib berpatisipasi didalamnya"
"Oh" jawabku malas, aku terus melangkahkan kakiku menuju kelas
"Ana, kok aku ditinggal sih" teriak Nawa, berlari menyusulku.
Aku berlari menuju ruang paduan suara, pasalnya aku terlambat mengetahui informasi, aku terus berlari sesekali melirik jam tanganku, sampai akhirnya
Brukk!!
Aku merasakan dahiku menabrak sesuatu dengan keras, sambil mengusap-usap dahiku, aku mendongak
"Arka"
"Ngapain sih lari-lari, kayak orang maling sendal aja" tanyanya santai, tanpa menghiraukan, aku bersiap pergi, namun sebuah cekalan dipergelangan tanganku membuatku menghentikan langkah
"Apalagi sih!" Tanyaku ketus, demi apapun, pengen aku bungkus wajahnya lalu ku buang di sungai bengawan, karena telah menghentikan langkahku
"Kamu udah nabrak, dan sekarang mau nylonong gitu aja tanpa minta maaf? huh" ia mendengus
" iya iya maaf" kataku, sebenarnya aku tidak ikhlas mengatakan hal tersebut, bahkan suaraku terdengar ketus, aku berancang-ancang untuk pergi, namun tanganku kembali ditahan olehnya
"Minta maaf kok nggak ikhlas"
"Iya trus aku harus gimana?" Tanyaku geram
"Minta maaf yang bener!" Perintahnya
Aku menghembuskan nafas dengan kasar "Arka aku minta maaf ya" suaraku melemah
"Nah gitu dong" ia tersenyum puas, aku beranjak pergi dan melanjutkan langkahku menuju ruang padsu "dasar kurang kerjaan" gerutuku sambil terus berjalan
"Woy Aku masih bisa denger!" Sahutnya.
Aku menundukkan kepalaku sepanjang perjalanan, aku hanya menggerutu, karena ulah Arka aku terlambat masuk ruangan, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kelas, bagaimana bisa pertemuan itu selesai dengan begitu cepat
"Arrrrgh" aku berteriak frustasi
"Kenapa kamu? Abis nabrak aku trus kamu jadi gila?" Sahut Arka, yangg entah sejak kapan dia berada disampingku.
"Ini semua gara-gara kamu!" Bentakku
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku? Kamu aja larinya kurang kenceng, Ah aku lupa kakimu kan pendek" tawanya meledak
Aku melepas sebelah sepatuku bersiap melemparkan ke wajahnya yang begitu menyebalkan, namun belum sempat aku melayangkannya dia sudah berlari meninggalkanku
"ARKA!!!!"
Hai hai jangan lupa follow akun aku @sherlyri16, ini cerita pertamaku, semoga kalian suka. Maaf bahasanya masih belepotan, prolog sengaja aku buat pendek, karena prolog cumak aku buat pengenalan
YOU ARE READING
A Thousand Steps I Found You
Non-FictionHarapan, 1 kata berjuta makna, kata orang harapan menjatuhkan, karena harapan tidak selalu menjadi sebuah kenyataan. Namun bolehkah aku berharap pada sesuatu yang hilang? Sesuatu yang mustahil untuk ditemukan dalam luasnya bumi ini
