Baca bismillah dulu ya bacanya. Biar barokkah, 😂
Baca doa makan juga gak papa, sapa tau habis baca cerita ini jadi kenyang.
Bukan Rian namanya kalau pagi-pagi seperti ini tidak patroli sekolah. Dengan membawa sebuah penggaris kayu warisan dari Pak Banu, guru BK, Rian membekuk para siswa bandel. Tugas jadi dewan kedisiplinan kan memang seperti ini.
"Aku sudah bilang loh ya, tapi kamu bandel!" kata Rian sambil melepas paksa gelang rantai dari Tangan Doni.
"Yah, kamu kok gitu sih? Baik dikit bisa gak?" Doni tak terima.
Tapi Rian tetap merampas gelang itu, menepuk pundak Doni beberapa kali sebelum akhirnya pergi dengan gelang tersebut.
Di ujung koridor, Rian mendapat satu mangsa lagi. Seorang cewek pendek dengan riasan badut, menor.
"Cinta, hapus gincu kamu atau aku sikat pakai sikat wc?" ancam Rian. Ia memberikan selembar tisu pada cewek itu.
"Rian sayang, aku tau kok kamu cinta aku. Tapi nih ya, muka aku udah cantik kaya gini masa harus hapus-hapus segala?"
"Yang cinta sama kamu tuh siapa, nama kamu kan memang cinta. Udah cepet bersihin!" Rian tetap memaksa Cinta untuk menghapus liptint yang baru saja cewek itu pakai. Rian jijik melihat benda merah kental itu dipakai dibibir cewek. 'Vampir kali pakai gincu tebel?' pikir Rian.
***
"Dek bangun heh! Sekolah nya jauh sekarang, enggak kaya dulu! Cepet bangun dek!" suara Ifan menggema di kamar Ila. Kedua tangannya menyibak tirai kamar, membiarkan sinar matahari masuk.
Sedangkan Ila, ia masih meringkuk nyenyak diatas kasur dengan boneka pororo kesayangannya. Salahnya sih, tadi malam maraton drama korea. Jadi telat tidur dan telat bangun.
"Dek Ila sayang, bangun! Abang mau kuliah ini woy!" Ifan Menarik selimut adiknya, lalu membangunkan Ila dengan menarik tangan Ila.
"Bang ... Ila masih ngantuk." kata Ila dengan mata tertutup.
Ifan menggeleng cepat, "Siapa suruh tadi malam begadang? Cepetan ah, udah jam setengah tujuh itu loh!"
"Cuti ...."
"Masya Allah Ila! Mana ada cuti-cuti segala? Cepet bangun atau abang gak kasih sangu Ila?"
Ila membuka matanya lebar, uang sangunya adalah harta paling berharga yang ia punya. Ila tidak bisa jajan dong kalau tidak ada uang?
"Ih abang kok mainnya sama sangu sih? Gak adil!"
BAAM
Pintu kamar mandi dibanting keras, Ifan hanya menggeleng melihat kelakuan adik nya itu. Sudah tujuh belas tahun tapi sifat masih seperti anak lima tahun.
"Kita gak sarapan loh ya, udah lambat." ujar Ifan keluar kamar.
Di mobil, Ila tidak memberikan satu patah pun untuk abangnya. Merasa sebal akan ancaman abangnya tadi, Ila bahkan tak mau memandang Ifan.
Hari ini Ila akan sekolah di sekolah baru. Ayah dan Ibunya menyuruh Ifan dan Ila pindah ke Bandung karena kedua orang tua mereka akan menetap di Kanada. "Kalau di Bandung kan ada bibi Cici, ada yang jaga kalian." begitu kata Ibu Ila, padahal ya sama saja. Jarak antara rumah Ila yang di Bandung dengan rumah bibi Cici itu 200 meter, mau jaga bagaimana?
Mobil Ifan telah sampai didepan gerbang hijau yang sudah tertutup. Matanya berputar sebentar, merasa sia-sia telah mengebut tadi. "Tuh rasain! Udah masuk kan, siap-siap dimarah guru!" omel Ifan.
Ila mendecak sambil melepas sabuk pengamannya, "Abang sih nyetir mobil kaya naik odong-odong!" elaknya.
Ifan mencibir, "Salah abang? Terus apa kabar sama drakor semalam?"
YOU ARE READING
You Are Problem || RiLa ||
Teen Fiction"Cowok kok bawel sih, ayah Ila gak sebawel Ian tau!"~ Ila "Ila keturunan apa sih, nurut sekali bisa kan? "~Rian
