Narasi Tentang Empat Rupa

360 16 3
                                        

Sekitar 3 bulan lalu, sosok-sosok yang aku pernah dibuat debar karenanya, akhirnya satu kelas denganku. Tidak pernah disangka bahwa sebagian besar mahasiswa laki-laki masuk peminatan paling horor, Sains dan Teknologi Kimia. Aku sendiri merasa sudah gila, kenapa aku bisa ada di sini. Keahlianku Fisika, bukan Kimia!

Tidak pernah sekalipun aku berhenti mencari, siapa yang sama-sama sedang bertahan di kelas seperti ini. Tampaknya, bagi mahasiswa laki-laki tidak ada masalah. Mereka mungkin memang memilih untuk ada di sini, bukan sepertiku. Sedangkan para mahasiswi, mereka tampak bahagia dan puas.

Segalanya hampir berubah. Elusidasi Struktur adalah mata kuliah yang cukup mengerikan. Praktikumnya? Apalagi! Namun kali ini partnerku adalah laki-laki yang bisa diharapkan. Hanya meja kayu yang menghalangi kami berdua, dan lembaran-lembaran beringas spektra.

Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, aku mendengar cacian dan umpatan. Meski bukan padaku, namun partnerku yang dulu membuatku lebih ingin mendengarkan pidato membosankan saja dari pada suara-suara sumbang darinya. Putra, yang kini sedang menekuri spektra tersebut, dari mulutnya tidak pernah terucap hal itu. Ia bahkan dengan sabar mengajariku, mengulangi dua kali apa yang tidak aku mengerti.

Putra bukan laki-laki yang aku ingin temui, dulu. Dia agak... apa ya? Aku tidak mengerti jalan pikirnya, begitu pun ia padaku. Lebih sering aku menghindar jika acara yang ia tangani membutuhkanku. Tapi kini kami satu meja, setiap dua minggu sekali.

Kelas ini tidak hanya membuatku akhirnya bisa agak tahu Putra. Olga, laki-laki ceking yang suaranya ramah, akhirnya bicara padaku, suatu kali. Dulu, kami hanya sering berpapasan, saling mengetahui tapi tidak berani berseri.

Suatu kali aku kelimpungan membereskan laboratorium yang di dalamnya ada BSC. Ia membantuku. Okelah, tepatnya membantu kelompok praktikumku. Ketika ia mengembalikan alat-alat praktik, ia, aku tahu, dengan sengaja menampakkan kebingungan dan balik lagi untuk bertanya padaku, "Ini disimpan di mana?"

Lidahlu tiba-tiba kelu. "Eh, anu... Di sana." Jariku menunjuk lemari di bawah meja keramik. "Geser pintunya, ada boks besar. Dimasukkan ke situ."

"Oke."

Lalu aku menghampiri wastafel dan membersihkan beberapa alat gelas. Dia membantuku dan bertanya beberapa hal seputar praktikum hari itu. Aku bersyukur tidak ada gelas yang jatuh kala itu.

Ada satu orang yang sekelas denganku dulu, namanya Arga. Dia mengingatkanku akan salah satu anggota Running Man Korea, Gary. Hanya saja tubuhnya agak gemuk. Sekali waktu, buku catatan kami menyerupai, sampul putih garis hitam dan sebuah huruf vokal ada di atasnya. Miliknya E, milikku O.

Di kelas ini, kami lagi-lagi bertemu. Bahkan, salah satu mata praktikum membuat kelompokku dengannya berkerja sama. Kami jadi lebih sering bertemu selama periode tersebut. Terkadang ia mengajakku bicara. Hingga suatu saat dia, tanpa kuduga, bercanda, "Lho, An, kok laptopmu sama denganku?"

Untung aku tidak menjatuhkan laptopku! Apa yang dia harapkan dariku untuk membalas? Aku tidak tahu. Aku hanya tersenyum heran, masa sih? Ternyata benar. Dia cukup baik untuk tertawa terhadap hal-hal yang aku juga tertawa karenanya.

Terakhir, namanya Dirga. Ketika Ospek Fakultas, kami satu grup dan dia pandai memainkan piano. Aku suka piano juga, bisa memainkannya sedikit karena otodidak. Sebelum puncak ospek tiba, yang mengharuskan kami menampilkan hiburan seni, Dirga dan aku berpapasan suatu pagi. Omong-omong, Dirga ini mirip sekali dengan Sinichi Kudo secara perawakan. Hanya saja tatapannya lebih tajam. Ia tiba-tiba berkata, "Aku pengen lihat kamu main piano."

Aku mengangkat alis, "Buat apa. Aku ngga bisa mainnya."

"Kemarin aku lihat bisa." Iya, kemarin kami latihan dan aku merasa gatal untuk tidak menyentuh key board tersebut.

Kami tidak satu kelas dulu. Di kelas baru inilah kami berbicara lagi. Sesekali ketika ia melihatku sedang memainkan ponsel, baik saat praktikum mau pun kelas, ia mengirimkan pesan pribadi lewat Line,

"Hai!"

Iya, hanya itu! Aku membukanya, dan hanya tertawa. Ia juga tertawa. Ia kirimkan pesan itu tidak sekali.

Namun, suatu ketakutan luar biasa terjadi. Ini terlalu berbahaya. Aku merasa terlalu dekat. Akhirnya aku menjadi tidak ramah lagi, meskipun sangat ingin. Beberapa kali aku hanya diam, tidak menyapa. Bahkan pernah bertanya, "Kok kamu ada di sini?" dengan nada yang sangat tidak bersahabat.

Lalu dia juga menjadi dingin. Aku agak menyesal. Yah, dari pada aku melampaui batas, kan?

Tapi, apakah berusaha menguatkan benteng pertahanan prinsipku harus dengan cara demikian? Apakah harus menjadi segitu kasarnya? Dia hanya bicara. Dia mungkin tidak tahu. Dia hanya tidak mengerti. Tapi mungkin dia sendiri lebih suka ketika interaksi itu tidak terjadi.

Hingga suatu siang, setelah aku memarkirkan sepeda, aku jalan dengan malas menuju kelas. Sudah telat tapi tak apa. Kantuk menggantung di mataku, awalnya, seketika hilang ketika  melihatnya berjalan kepada satu titik jalanku. Benakku bergejolak, sapa tidak ya? Tapi kok dia tidak jalan ke kelas? Ia melihatku, tapi aku pura-pura tak melihatnya.

Dan aku menyesal, kejadian itu terjadi cukup sering. Kadang aku melihatnya, tapi ia tidak acuh padaku. Sehingga tidak terbayang dalam pikiranku bahwa suasana ini akan membaik, sampai esok sore datang.

Lagi-lagi kami satu arah jalan, dari dua titik berbeda. Kebiasaannya menutupi kepala dengan jaket. Aku yang ada kelas ulangan hari itu, dan tahu ia tidak, bertanya, "Mau pulang?"

"Iya, nih. Mau kemana?"

"Kelas Farkin."

"Oh, di ruang 1, ya?"

Aku mengangguk dan terus berjalan, membiarkan percakapan terhenti di sana. Jantungku menjerit, "An, kamu gila!"

Dan suatu malam, mendekati deadline laporan penuh praktikum Analisi Kimia Klinik, dia bertanya padaku beberapa hal seputar praktikum yang kelompokku dan Arga menjadi penanggung jawab di situ. Setelah membalasnya, aku bertanya-tanya, dari sekian orang yang satu jadwal dan tema praktikum denganku, kenapa aku yang Dirga tanya?

Sejak saat itu, aku simpulkan di antara kami memang tidak ada apa-apa.
---
Sepertinya aku harus banyak memohon ampun. Namun di suatu titik aku merasa beruntung, karena hanya sebatas itu. Dan aku berusaha berhenti. Ya, setelah semua praktikum selesai, tidak ada lagi yang terjadi. Keempat orang itu hanya sekelibat nama-nama.

Sering kali aku mendengar orang-orang kesulitan menghadapi lawan jenis. Mengapa mereka diuji hal seperti itu, tanyanya. Dan sampai saat ini aku masih heran, aku bisa menolak dan menahannya, kenapa mereka tidak?

Apa yang beda dari kami yang berusaha istiqomah ini sebenarnya?
---

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 23, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Aku Juga Punya Jantung yang BerdebarStories to obsess over. Discover now