Lantunan suara biola yang lembut terdengar sangat merdu di sebuah ruangan kedap suara salah satu rumah di perumahan elit di Jakarta.
Tok tok
" Kak Mahes, dipanggil Papa di ruang makan. Katanya ada yang mau diomongin," ujar seorang gadis cantik bersurai coklat sembari berjalan mendekati sang Kakak.
" Iya, sebentar lagi Kakak turun." jawab sang Kakak dingin.
Si adik yang mengetahui penyebab mengapa sang kakak berubah sikap pun, hanya bisa menghela napas panjang.
" Kak. Andine minta tolong sama Kakak, kali ini aja Kakak jangan berantem sama Papa. Andine sedih ngeliat Kakak luka luka ."
Mahes menoleh dan memberikan senyum manis.
" Kakak usahain," ucapnya sambil mengusap puncak kepala sang adik.
✳✳✳✳
" Apa kabar Mahes? " tanya Pak Aryo, Papa Mahes ramah.
" Sebelum Anda memanggil. Saya baik baik saja, tapi setelah Anda memanggil keadaan saya buruk, " tukas Mahes datar.
Aryo yang mengerti mengapa sang putra menjadi seperti ini pun hanya bisa menghela napas.
" Papa mau ke Singapur. Papa disana lebih lama dari biasanya, " ujar Papa Mahes mencoba bersabar.
" Ya udah,.. Kayak biasanya aja kan? Disana kan Anda bebas mau ngapain aja. Gak inget di sini masih punya anak," jawab Mahes sambil berbalik menuju kamarnya.
" MAHES! " teriak Aryo sudah terbawa emosi.
" Apa?. Anda mau bikin saya lebam lebam lagi?, mau bikin saya masuk UGD kaya dulu? " ujar Mahes tanpa beban.
" Kamu ini bener bener ya! " ucap Aryo sembari melayangkan sebuah pukulan ke arah pipi kanan Mahes.
" KAK MAHES! PAPA! " pekik Andine panik.
" Papa ini apa apaan sih? Bisa engga sekali aja pas Papa pulang. Papa sama Kak Mahes gak berantem? " ujar Andine berkaca kaca.
" Udah,. Kakak gapapa Dine," ujar Mahes tersenyum kepada Andine.
" Ayo Kak,.. Aku obatin dulu, " ujar Andine menuntun Mahes ke ruang keluarga.
Sementara Aryo? Dia pun hanya bisa membatin.
' Kamu kenapa bisa berubah? '
✴✴✴✴
" Shh,.. Pelan pelan Dine. Sakit tau!" ujar Mahes menahan sakit di bagian pipi kanan nya.
" Hehe,.. Maaf Kak. Lagian kenapa sih setiap Papa pulang Kakak pasti bonyok? Gak bisa apa bikin aku engga khawatir? " kekeh Andine sekaligus menceramahi Kakak kesayangannya itu.
Mahes tersenyum penuh arti, lalu mengusap puncak kepala Andine.
" Kakak juga gak tau Dine, padahal Kakak udah berusaha buat enggak kebawa emosi. Tapi enggak bisa, "
" Udah banyak banget rasa kecewa Kakak,..Dine ke Papa. " lanjut Mahes
Andine menghela napas panjang. Yah, seperti ini lah sehari hari di keluarga Dwisastra setiap Aryo Dwisastra kembali pulang dari perjalanan bisnis nya. Sang Kakak yang tidak pernah akur dengan sang Papa pati akan bertengkar.
" Kenapa Kakak masih kecewa sama Papa? " tanya Andine penasaran.
" Nanti kamu juga tau sendiri. " jawab Mahes sambil berdiri.
" Oh iya,. Kakak mulai besok udah masuk sekolah ya? Soal nya kan Kakak nge MOS anak anak baru. " ucap Mahes meninggalkan kamar Andine.
Andine menggeleng pelan sambil terkekeh. Kakak nya yang satu itu jika memiliki masalah akan berusaha menyelesaikan sendiri. Namun jika dia sudah merasa tak sanggup barulah dia meminta bantuan orang lain, sama seperti permasalahannya dengan sang Papa.
✴✴✴✴
Bersambung.
✴✴✴✴
Hai guys, maaf banget ya dua cerita sebelum ini saya hapus. Karena saya pas mau ngelanjutin itu ga dapet feel nya. Pokok nya saya minta maaf banget 🙏🙏🙏 ,,semoga yang baca ini senang ya. Saya gak maksain buat voment, karena saya tau karya saya ini masih jauh dari kata bagus,. Tapi buat yg berbaik hati ngasih voment, saya makasih banget.
Bonus pict
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
P.s TOLONG YANG UDAH TAU NAMA ASLINYA PLEASE JANGAN KASIH TAU SIAPA SIAPA. OK?