Prolog

24.1K 947 10
                                        

 Perasaan. 

      Pernahkah kamu merasakan perasaan yang begitu tajam kepada seseorang sampai mimpi tiap malam mu hanya berputar di dirinya? Aku pernah. Namun sesuatu itu tidak berjalan selancar apa yang aku inginkan, itulah rasa pahitnya menjadi pengagum dalam diam, dan perasaan itu bertambah buruk ketika rasaku padanya berubah menjadi benci yang begitu menggangguku. Seperti mimpi yang sangat sering datang kedalam kepalaku. 

      Tenang, aku akan bercerita tentang mimpiku, ini dia. Pertama-tama dia berjalan ke sini, iya ke arahku. Aku harusnya berhenti menatap soal payah yang berada di tanganku ini dan menghampirinya saja, tunggu, kenapa rasanya semua orang sedang menontonnya? Tapi tidak mengherankan juga, siapa yang tidak mau berjalan bersamanya mengintari koridor? aku masih terbawa perasaan senang saat dia mengomentari foto yang barusan ku unggah semalam, 'waw' komentarnya, singkat memang, tapi aku menyukainya, namun bisa saja dia seperti itu ke lain perempuan kan? sial, aku lagi-lagi bertanya kepada diri sendiri, ayolah Cia sapa saja, itu dia datang! 

     "Andra!"

     Akhirnya sapaan itu keluar dari mulutku begitu saja sepeti muntahan, tapi sialnya aku menjatuhkan soal remedial ujian kimia itu, aku menggerutu tepat sebelum dia menggapai tangannya untuk mengambil soalku yang terjatuh. 

     "Hati-hati," katanya. 

     "Ma-makasih," jawabku dengan gugup. 

     Aku masih memandangi wajahnya lama, dagu yang sempurna, hidung mancung, rahang yang terlihat tegas, aku tidak pernah bisa bohong kalau aku mempunyai rasa kepadanya. Aku masih memandanginya sampai dia menghampiri perempuan yang sedang bersandar di dinding koridor menuju kantin. 

     "Hai sayang," sapanya sembari menarik tangan perempuan itu, dan bodohnya aku masih saja memandangi punggungnya sampai dia menghilang masuk ke dalam kantin, sama pada saat pertama kali aku bertemu dengannya, di acara Pensi, dia mengenalkan dirinya bersama senyum manisnya itu. 

     Tapi kenapa tiba-tiba aku sudah berada di atas panggung? aku berusaha untuk tidak panik saat tangan kekar Andra mengajakku berdansa di atas sana, jantungku berdegup kencang saat melihat senyum manisnya yang perlahan-lahan berubah menjadi seseuatu yang sedikit menyeramkan tu-tunggu, kenapa Andra mendorongku dari panggung? terakhir yang kuingat adalah teriakan diriku sendiri bersama tawa jahatnya saat tangan kanannya melepaskan tubuhku untuk terjatuh ke bawah.Itu dia mimpi yang sangat mengangguku, tapi sekali lagi, aku tidak akan hanya bercerita tentang mimpiku, namun aku juga akan bercerita tentang aku dan dirinya. 

     Andra Dirgantara Wijaya.

 -

      "Woi!" 

     "Bangun! bangun!" Lia terpaksa memukul pelan teman sebangkunya ini dengan buku, karena hari ini Cia hanya tidur seharian setelah bilang kepada guru bahwa dia sedang tidak sehat, jadinya guru mengizinkannya untuk tidur di kelas karena UKS sedang direnovasi. Dan sekarang sudah hampir waktunya pulang dan gadis itu belum juga bangun. 

     "Uuuh sakit..." akhirnya Cia terbangun dengan meringis merasakan pundak kanannya yang agak nyeri. 

      "Lo tidur apa meninggal sih?" Lia berkata dengan sebal. 

      "Hibernasi gue," jawab Cia dengan pasrah. 

     Lia menelusuri wajah Cia yang kusut, sepertinya telah terjadi sesuatu di dalam tidurnya, "mimpi Andra lagi?" 

     "Sok tahu lo," elaknya. 

     "Halaaaah, siapa lagi orang yang bisa bikin muka lo sekusut itu kalo bukan dia." 

     Cia menghela nafasnya, tanda bahwa Lia benar. 

     "Emang susah ya naksir ama Playboy," kekeh Lia, "udah, beresin tuh barang lo, sebentar lagi kita balik." 

-

     Bel sekolah sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu, seperti biasa semua siswa-siswi menghambur keluar, begitu juga dengan Cia, dia sedang berjalan di koridor sekolah dengan langkah santai, tibanya di parkiran, Cia menangkap seorang lelaki yang sedang membonceng perempuan cantik di belakangnya. Cia menggeleng, Andra, orang yang menjadi pemeran antagonis di dalam mimpinya belakangan ini dan sekaligus laki-laki terplayboy di sekolah. Cia selalu merasa salah besar menganggap dia laki-laki yang manis, bahkan sampai bisa menyukainya dulu, entah apa rasa itu telah pergi atau Cia yang memang tidak mau merasakannya.

     "Ci," seseorang menyenggol bahunya. 

     Cia menoleh mendapati Natasha mantan Andra, mereka baru putus kemarin. Natasha memandangi Andra dengan perempuan yang diboncengnya tadi, Mutia.

     "Kenapa Nat?" tanya Cia. 

     Natasha menunjuk Andra dan Mutia lalu berbicara, "baru sehari putus sama gue, udah jadian lagi," Natasha merengek, mukanya yang sedikit lebay membuat Cia risih, padahal Natasha sangat cantik, berdarah campuran Russia-Indonesia dan Natasha juga sangat pintar fisika.

     "Salah sendiri lo mau-maunya sama tukang grepe-grepe cewek! padahal lo cantik, pinter, baik, paket komplit," kata Cia dengan nada sebal namun dia tidak bohong dengan pujiannya. 

     Cia menatap Andra yang sedang bermesraan dengan sebal, lalu dia berjalan meninggalkan Natasha dan pemandangan yang sangat memanaskan otaknya kemudian Cia masuk kedalam mobilnya, lalu menelpon seseorang, 

     "Bang! lo dimana? cepetan ntar gue tinggalin lo!" 

     Orang disebrang menjawab, "santai Ci, gue pulang sama Marco udah lo langsung pulang aja, hati-hati." 

     Cia langsung memutuskan sambungan telpon tanpa menjawab sepatah kata karena harinya berjalan buruk, dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun pikirannya daritadi masih mengawang ke kejadian barusan. 

     "Ck. Andra lagi Andra lagi! bego banget cewe yang nangisin dia, cowo yang model begitu enaknya ditonjok bukan ditangisin!" teriaknya di dalam mobil sambil memukul stir dengan geram

 Andra lagi Andra lagi! bego banget cewe yang nangisin dia, cowo yang model begitu enaknya ditonjok bukan ditangisin!" teriaknya di dalam mobil sambil memukul stir dengan geram

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
CIANDRA [✔️]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora