Ku Mulai

150 13 6
                                        




"Diam bukan berarti diriku tidak memperhatikan"

-Kania Anderson


Kring Kring Kring

Terdengar bunyi alarm dari kamar gadis yang masih bergelut dengan mimpinya, alarm tetap terus berbunyi. Hingga si empunya ponsel terbangun dari mimpi indahnya.

"Berisik banget deh ni handphone" gerutu gadis itu. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap ke sekolah.

tok tok tok

Terdengar suara ketukan dari luar kamar gadis itu. "Kania kamu sekolah kan?" seru wanita dengan wajah keibuan dari luar kamar gadis itu, atau dapat kita panggil sekarang dengan sebutan Kania. "Iya ma, ini lagi pake seragam" sahut Kania.

"Yaudah cepetan ya, itu jemputan kamu udah sampe" Mama Kania akhirnya pergi melangkah ke dapur, menyiapkan bekal Kania.

5 menit kemudian, Kania sudah turun dengan balutan seragam khas sekolahnya SMA Baskara, dengan logo andalan SMA Baskara yaitu matahari. "Ma aku berangkat ya" seru Kania pelan kepada mamanya sambil mencium punggung tangan mamanya. "Hati-hati ya" ucap Mama Kania, "Oke ma" Kania langsung menaiki mobil jemputannya.


🌞🌞🌞                    

               

Disinilah Kania, tepat di depan gerbang SMA Baskara. Sekolah masih terbilang sepi, hanya beberapa murid yang sudah datang pada jam 6 pagi seperti ini. Termasuk Kania. Kania memang selalu datang lebih awal ke sekolah demi menghindari macetnya ibukota. Tapi salah satu sahabat Kania juga selalu datang pagi dari awal MOS hingga sekarang.

"Leo" panggil Kania kepada laki-laki yang sedang sibuk bermain game online sendiri di kelas.

"Eh nia, udah dateng lu?" sahut Leo sambil menatap  Kania yang ada di depannya dengan senyuman. "Udah lah Leo Verrorezi" ucap Kania menatap aneh Leo yang memberi pertanyaan yang tidak jelas. "Ya maap tuan putri" jawab Leo cengengesan.

"Iya iya" Kania langsung ketempat duduknya dan mulai membaca novel, sembari terkadang ia dan Leo berbincang tentang berbagai hal. Tanpa Kania sadari hampir semua murid di kelasnya sudah datang.

Tapi Kania Anderson tetaplah Kania Anderson. mau seramai apapun tempat yang iya datangi, ia akan menyendiri dengan novelnya. Kania tidak tertarik bergosip dengan anak perempuan yang ada dikelasnya, menurutnya itu hanya menambah dosanya saja. Dan itulah salah satu alasan mengapa Kania menjadi  murid yang terkenal di lingkup sekolahnya, dengan sikapnya yang selalu acuh tak acuh tapi tetap perhatian pada titik tertentu. Kania juga termasuk golongan murid yang berprestasi di sekolah dalam berbagai akademik hingga non akademik.


🌞🌞🌞


Kring Kring

Bel sekolah berbunyi tepat jam 7, semua murid mulai bersiap di tempat duduk masing-masing. "Mata pelajaran apa deh sekarang?" tanya bagas, "Gitu aja gatau lu gas" seru perempuan yang duduk di belakang Bagas. "Ya kan gua lupa Siti" balas Bagas dengan penekanan di kata 'lupa.'

"Makanya gas, jangan mikirin cewe mulu" seru Chiko dari tempat duduknya, Bagas langsung memajukan bibirnya. "Dih manyun dia" ledek Lili tepat di sebelah Bagas, "mana ada ya, jangan ngadi-ngadi lu semua" "Lu juga chik napa ga belain gua coba" Bagas menatap Chiko sebal, sedangkan Chiko hanya cengengesan di tempat duduknya. Semua hal yang terjadi di kelas tidak luput dari pandangan Kania, ia hanya memperhatikan semua dalam diam. 

"Eh duduk semua, udah ada bu ida" perintah Satrio sang ketua kelas. Semua murid sudah kembali ke tempat duduknya masing-masing tepat saat Bu Ida memasuki kelas. Setelah Bu Ida duduk, semua murid memberi salam "Selamat pagi bu" seru semua murid di kelas XI IPS 2. "Pagi juga semua" balas Bu Ida, "Oke hari ini kita langsung bahas materi aja ya" Bu Ida berucap sambil menyiapkan buku pelajaran.

"Yah bu masih pagi" seru Bagas dengan wajah memelas menatap Bu Ida. "Emang kenapa kalau masih pagi?" tanya Bu Ida lagi. "Masih ngantuk bu" Bagas menjawab dengan cengengesan. "Makanya sebelum sekolah mandi, biar kamu seger ga ngantuk lagi" tegur Bu Ida yang sudah jengan dengan kelakuan Bagas, sedangkan Bagas hanya memajukan bibirnya sebal.

Pelajaran pun di mulai oleh Bu Ida, hingga bel istirahat berbunyi. "Oke anak-anak materi selanjutnya kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya ya" seru Bu Ida sembari merapikan bukunya di meja. "Baik bu, Terima Kasih bu" seru semua murid XI IPS 2 serentak.

Leo menghampiri Kania yang sedang marapikan alat tulisnya "Nia ke kantin ayo" ucap Leo sambil meletakkan kedua telapak tangannya di depan meja Kania. Kania melirik Leo sebentar lalu langsung berdiri "Ayo".

Mereka berdua berjalan beriringan ke kantin. Sepanjang koridor hampir semua murid memandang Kania dan Leo, ada berbagai macam ekspresi pada setiap murid. Ada yang memandang kagum, ada juga yang memandang kesal kepada Kania yang sedang bersama dengan gitaris sekaligus vokalis andalan SMA Baskara.

Leo memiliki banyak penggemar. Tentunya karena Leo cukup banyak meraih prestasi dalam bidang musik, dan ia juga tampan. Dengan kulitnya yang sawo matang, alis yang tebal, bulu mata yang lentik, dan lesung pipi khasnya. Hal tersebut membuat banyak perempuan berharap untuk menjadi kekasihnya, sayangnya Leo tidak terlalu berminat memiliki hubungan yang menurutnya melelahkan.

Kania dan Leo sampai di kantin yang sudah lumayan ramai, mereka langsung mengambil tempat duduk yang mengarah ke taman sekolah. "Gua aja sini yang ngantri, lu mau makan apa?"  tanya Kania sambil mengambil uang di dompetnya. "Gua mau nasi uduk aja deh" "Ni uangnya" ucap Leo sambil menyerahkan uangnya.

Kania berjalan ke stand nasi uduk dan langsung memesan untuk dirinya dan Leo. Selang beberapa menit pesanannya telah selesai, Kania langsung berjalan menghampiri Leo. Tiba-Tiba terdengar suara teriakan salah satu siswi tidak jauh dari Kania, tapi Kania tetap melanjutkan langkahnya.

Sesampainya di tempat duduknya terdengar lagi suara pecahan kaca, Kania menoleh. Ia melihat siswi yang berteriak tadi sudah bersimpuh di lantai dengan pecahan piring yang sebelumnya di pegangnya. "Lu Neta, gausah banyak tingkah deketin cowo gua" ucap siswi lain yang sedang berdiri di depan Neta. "Siapa yang deketin cowo lu?" tanya Neta sambil menatap kesal siswi di hadapannya ini masih dengan posisi dirinya bersimpuh di lantai, "Lu lah, ngapain chat cowo gua hah" "Gatel banget jadi cewe" ucap siswi itu sambil berkacak pinggang.

"Gua ngechat cowo lu buat urusan OSIS, jadi gausah nuduh gua ga bener deh" seru Neta sambil mulai bangkit dari posisinya.

Byurr

Siswi itu menyiram wajah Neta dengan teh manis yang berada di meja sebelahnya, semua orang menatap mereka. Tiba-Tiba wajah siswi yang menyiram Neta tadi sudah basah tersiram air. "Apa apaan lu" teriak siswi itu menatap Kania tajam, ya Kania lah yang menyiram air itu.

Kania menatap siswi itu dingin "Kalo mau jadi preman gausah disini" ucap Kania tenang. "Gausah ikut-ikutan deh lu, urusan gua bukan sama lu" ucap siswi itu sambil menorong bahu kiri Kania denga jarinya. Kania tetap mentapnya "Jelas urusan gua" "Lu ganggu sepupu gua, sama aja ganggu gua" semua murid terlihat kaget mengetahui Neta adalah sepupu Kania, termasuk siswi tadi.

"Mending sekarang lu pergi, atau lu mau berurusan sama gua?" tanya Kania santai. Siswa tadi berdecak sebal dan langsung pergi meninggalkan kantin tergesa-gesa.

"Kak nia makasi ya" ucap Neta menatap Kania dengan mata penuh semangat. "Ya" balas Kania singkat sebelum melangkah meninggalkan Neta. Sedangkan ekspresi Neta berubah dari penuh harap menjadi murung. Ia kira kakak sepupunya itu sudah mulai mau berinteraksi dengannya, tapi ternyata dia tetap saja cuek.

"Kak nia aku kangen"


🌞🌞🌞


Halo semua, cerita ini aku rombak ulang.

    Semoga kalian suka sama versi barunya ya

Jangan lupa vote sama komen juga ya❤️

OriginalityWhere stories live. Discover now